Ketua Umum PP Kagama Basuki Hadimuljono meresmikan cafe Guyub yang berlokasi di kawasan Flat-E, Blimbingsari, Caturtunggal, Depok, Sleman, Sabtu (13/12). Bekerja sama dengan Filosofi Kopi, bekas rumah dinas dosen di area kampus UGM ini disulap menjadi Culture Creative-Hub sebagai salah satu unit bisnis milik Kagama. Peresmian tempat ngopi ini ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Basuki yang dihadiri juga oleh Rektor UGM Ova Emilia dan jajaran pengurus PP Kagama.
Basuki Hadimuljono, menuturkan peresmian cafe Guyub ini merupakan langkah strategis dalam penguatan organisasi Kagama. Menurutnya, pengelolaan bangunan heritage ini menjadi salah satu unit bisnis baru Kagama yang akan dikelola secara profesional melalui koperasi. “Ini bukan hanya soal pendapatan, tetapi juga tentang bagaimana aset bersama alumni dan UGM bisa memberi manfaat ekonomi, sosial, dan kultural secara berkelanjutan,” jelas Basuki.
Untuk pengembangan unit usaha cafe Guyub ini, kata Basuki, Kagama berkolaborasi dengan Filosofi Kopi guna menciptakan ruang kreatif sekaligus memanfaatkan kawasan yang telah lama terbengkalai.
CEO Filosofi Kopi, Handoko Hendroyono, menuturkan keterlibatan Filosofi Kopi dalam Guyub merupakan wujud komitmen untuk tumbuh bersama komunitas.”Sejak awal, Filosofi Kopi percaya bahwa kopi adalah medium untuk bertemu dan berdialog. Di Guyub, kami ingin benar-benar ‘guyub’ dengan ekosistem kalcer di sekitar UGM, menjadi ruang bertukar ide, berkarya, dan membangun kolaborasi kreatif yang berakar pada budaya lokal,” ungkap Handoko
Rektor UGM, Ova Emilia, menegaskan keberadaan cafe Guyub di kawasan Flat E Sekip ini, diharapkan bisa menjadi ruang kalcer kreatif yang mendorong kolaborasi lintas disiplin, mempertemukan sivitas akademika, alumni, pelaku kreatif, dan masyarakat dalam satu ekosistem yang hidup dan inklusif. “Flat-E bukan sekadar bangunan fisik, tetapi bagian dari sejarah dan memori UGM,” katanya.
Rektor berharap cafe Guyub akan dikembangkan sebagai ruang multifungsi yang menampung berbagai aktivitas, mulai dari diskusi, pameran, pertunjukan seni, hingga inkubasi ide-ide kreatif. Kehadiran Guyub juga menjadi contoh pemanfaatan kawasan heritage yang adaptif, produktif, dan relevan dengan kebutuhan generasi masa kini.
Penulis : Salwa
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Donnie
