
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) RI, Brian Yuliarto, menegaskan paradigma baru pendidikan tinggi diharapkan bisa mendukung program pembangunan nasional dengan menyiapkan sumber daya manusia unggul serta pengembangan riset sains dan teknologi untuk menghasilkan inovasi yang bermanfaat ke masyarakat. Hasil riset dan inovasi dari perguruan tinggi diharapkan bisa membuka peluang kerja sama dengan industri sehingga mampu mendorong kemandirian bangsa, pembukaan lapangan kerja berkualitas, mendorong pertumbuhan industri kreatif, menciptakan sumber daya manusia sains dan teknologi yang kuat, serta hilirisasi berbasis sumber daya alam.
Menanggapi harapan dari Mendiktisaintek tersebut, pemerhati pendidikan dari Sekolah Vokasi UGM, Dr. Leo Indra Wardhana, mengatakan pendidikan Vokasi memiliki peran untuk menyiapkan sumber daya manusia yang unggul karena pendidikan vokasi memang bertujuan untuk menyiapkan lulusan yang siap kerja. “Kurikulum Sekolah Vokasi seperti di Universitas Gadjah Mada dirancang secara kolaboratif dengan industri terkait, memastikan keselarasan antara pendidikan, keterampilan, dan kebutuhan dunia kerja,” kata Leo, Kamis (27/2)
Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Sekolah Vokasi UGM menerangkan program studi Sarjana Terapan di pendidikan vokasi memang diarahkan lebih spesifik pada lingkup profesi pekerjaan tertentu. Selain itu, kurikulumnya sebagian besarnya lebih ke praktik dan magang agar supaya lulusan lebih siap kerja sesuai dengan kebutuhan industrinya. “Umumnya kurikulum itu diramu bersama dengan industri. Jadi, pada saat menyusun kurikulum itu ada dua pihak di sini. Pihak prodi yang memiliki visi keilmuan, kemudian industri yang mengetahui kebutuhan keterampilan masa depan,” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa meskipun pendidikan di Sekolah Vokasi lebih menekankan praktik lapangan dan program magang, aspek teori tetap diberikan secara komprehensif. Hal ini penting karena pengetahuan dibutuhkan supaya lulusan memiliki keterampilan yang dibutuhkan dan mampu memecahkan masalah sesuai lingkup pekerjaannya. Tidak hanya itu, program magang di Sekolah Vokasi UGM bersifat wajib dan harus dijalani oleh mahasiswa selama satu hingga dua semester di industri yang sesuai dengan program studinya. Seperti halnya pada jenjang sarjana akademik, mahasiswa sarjana terapan di Sekolah Vokasi UGM umumnya menyelesaikan studinya dalam kurun waktu empat tahun. “Magang ini tujuannya untuk menjembatani kesenjangan antara kampus dan industri, kolaborasi dengan dunia industri menjadi suatu keharusan,” jelasnya.
Meski demikian, Leo menyebutkan tantangan utama yang dihadapi Sekolah Vokasi UGM saat ini adalah keterbatasan infrastruktur pembelajaran dan pendanaan untuk pemutakhiran laboratorium. “Ada kesenjangan dalam mengikuti perkembangan teknologi terbaru, terutama dalam pengadaan peralatan mutakhir,” ujarnya.
Namun, ia menekankan bahwa kemitraan dengan industri menjadi solusi dalam mengatasi keterbatasan pemutakhiran sarana laboratorium. Sebab melalui program magang, khususnya di perusahaan besar, mahasiswa dapat belajar menggunakan peralatan terkini yang tersedia di industri, begitu pula dengan para dosen yang turut mendapatkan kesempatan untuk menyesuaikan perkembangan teknologi terbaru di dunia kerja.
Terkait dengan peluang lulusan Sarjana Terapan juga dapat berwirausaha sehingga membuka lapangan kerja baru, Leo menegaskan Sekolah Vokasi mencetak lulusan yang siap untuk bekerja, namun tak menutup kemungkinan bahwa nantinya lulusan Sarjana Terapan dapat menjadi entrepreneur. Sebab, Sekolah Vokasi UGM memiliki mata kuliah wajib untuk semua prodi tentang kewirausahaan yang tujuannya adalah memberikan paparan dan melatih mahasiswa untuk menjadi pengusaha.
Soal kerja sama hilirisasi riset ke industri, Leo mengungkapkan di lingkup perguruan tinggi memang terdapat tantangan terkait kesenjangan antara dunia akademik dan industri, tantangan komersialisasi hasil riset, serta terbatasnya infrastruktur dan pendanaan yang memadai. Agar riset yang dikembangkan oleh perguruan tinggi dapat selaras dengan kebutuhan industri, maka diperlukan sinergi yang lebih erat antara kedua pihak. Untuk memastikan hilirisasi riset berjalan secara efektif, kolaborasi antara kampus dan industri harus diperkuat, termasuk dalam membangun kepercayaan yang berkelanjutan antara peneliti dan pihak industri.”Saya kira dalam hal ini, peran pemerintah sebagai fasilitator sangat penting untuk menjembatani hubungan tersebut dengan mendukung keberlanjutan program-program strategis, seperti Matching Fund dan Program Penguatan Ekosistem Kemitraan, yang telah terbukti membantu memperkuat ekosistem inovasi di Indonesia,” pungkasnya.
Penulis : Kezia Dwina Nathania
Editor : Gusti Grehenson