Tim relawan Universitas Gadjah Mada menggandeng tim relawan Universitas Teuku Umar (UTU) dan Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL), dalam rangka membantu penanganan bencana di wilayah Lhoksukon, Aceh Utara dan Bener Meriah. Tim relawan UGM yang tergabung dalam Tim Cadangan Kesehatan – Emergency Medical Team, Academic Health System (TCK-EMT AHS) ini dipimpin oleh Dr. dr. Muhammad Nurhadi Rahman, Sp.OG, Subsp. Urogin-RE, yang juga merupakan dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM.
Nurhadi menuturkan salah satu tantangan utama dalam penanganan bencana kali ini adalah akses yang terputus. Meski demikian, fasilitas kesehatan masih tetap beroperasi dengan kondisi terbatas. “Air mati dari pukul 10 pagi hingga sekitar jam 7 malam. Kondisi ini sangat memengaruhi layanan kesehatan,” ujarnya, Jumat (2/1) .
Dalam rangka melaksanakan penguatan layanan puskesmas terdampak bencana di Kabupaten Bener Meriah melalui Sistem Penjernih Air Bertenaga Surya yang merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat untuk tanggap darurat bencana. Program ini bersifat lintas disiplin dan melibatkan dosen Teknik Sipil Sekolah Vokasi UGM, Dr. Sc. Adhy Kurniawan, S.T.
Saat ini, tim UGM telah berhasil melakukan pemasangan sistem penjernih air sederhana di satu titik, yakni RSUD Bener Meriah, sebagai langkah awal penguatan layanan kesehatan di wilayah terdampak. Untuk Bener Meriah, sesuai hasil asesmen awal, alat diprioritaskan pada Posko Pengungsian Pantan Kemuning, Puskesmas Mesidah, dan Polindes di daerah Simpur. “Selanjutnya penempatan alat penjernih air bertenaga surya akan dipasang di titik prioritas lainnya,” ujar Adhy Kurniawan.
Menurut Adhy, air bersih dan listrik merupakan kebutuhan mendasar sehingga sistem panel surya ini meminimalisir ketergantungan pada listrik maupun BBM. “Sistem penjernih air yang dipasang memiliki kapasitas 500 hingga 1.000 GPD atau setara 1.900 sampai 3.800 liter per hari. Ini mampu memenuhi kebutuhan air minum dan air bersih bagi ratusan warga, terutama di posko pengungsian,” ungkapnya.
Di Puskesmas Bandar dan RSUD Muyang Kute, kata Nurhadi, tim melakukan pengecekan menyeluruh terhadap fasilitas kamar operasi dan kamar bersalin, termasuk ketersediaan air bersih. Koordinasi juga dilakukan dengan BNPB untuk mendapatkan gambaran kondisi infrastruktur air bersih. “Kami mendapat informasi bahwa empat dari delapan sumber PDAM di Bener Meriah rusak, sementara fasilitas perbaikannya belum sampai ke lokasi. Saat ini masyarakat hanya mengandalkan empat sumber PDAM secara bergantian,” jelas dr. Nurhadi.
Selain membantu pelayanan kesehatan, tim juga menjangkau Posko Pengungsian Pantan Kemuning, Kecamatan Timang Gajah, yang dihuni sekitar 30 kepala keluarga dalam satu rumah kepala dusun. Kondisi di posko tersebut cukup terbatas, dengan hanya satu dapur umum dan satu kamar mandi. Di lokasi ini, tim melakukan edukasi personal hygiene serta pengawasan penyakit menular dan tidak menular.
Nurhadi menuturkan dari hasil pemantauan menunjukkan adanya kasus penyakit menular seperti ISPA, gastroenteritis akut (GEA), serta scabies dan penyakit kulit lainnya. Sementara penyakit tidak menular yang banyak ditemui meliputi hipertensi, hiperglikemia, dispepsia, myalgia dan artritis, karies gigi, serta stomatitis. “Tim juga mencatat satu pasien dengan dugaan gangguan kesehatan mental, yakni suspected bipolar disorder,” terangnya.
Sementara di Posko Pengungsian Pantan Kemuning, katanya, relawan UGM, UTU, dan PNL yang dipimpin oleh Kepala LPPM UTU, Herri Darsan, S.T, M.T., menuju lokasi Simpur untuk melakukan pemeriksaan kesehatan, dan pemeriksaan ANC sekaligus pemeriksaan USG ibu hamil. “Simpur ini wilayah yang masih terisolasi, air bersih di puskesmas belum memadai. Jadi selain posko pengungsian, wilayah Simpur dan Puskesmas Mesidah akan menjadi titik prioritas pemasangan alat penjernih air,” jelasnya.
Sedangkan di RSUD Muyang Kute, tim UGM sudah menyerahkan dua sistem sumur bor, tandon air berkapasitas 5.000 liter dan 3.000 liter, serta sistem penjernih air sederhana telah berfungsi dengan baik.Dikatakan Nurhadi, kegiatan pengabdian ini bisa terlaksana berkat dukungan hibah pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI.
Penulis : Hanifah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : dr. Nurhadi
