Tidur bukan sekadar kebutuhan istirahat, melainkan fondasi keseimbangan sistem biologis dan kesehatan mental secara keseluruhan. Jika saat bangun merasa badan tidak segar, pegal-pegal, kepala terasa berat, mudah marah, atau mood tidak stabil, pertanda ada metabolisme terganggu dalam tubuh. Bila itu terjadi dalam jangka waktu yang lama maka bisa berdampak bagi seseorang akan lebih mudah mengalami jantung berdebar, sesak napas, mudah terinfeksi, kulit kusam, hingga penurunan daya tahan tubuh.
Dokter Spesialis Kejiwaan dari Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa FK-KMK UGM Dr. dr. Ronny Tri Wirasto, Sp.KJ., menjelaskan bahwa ketidaksinkronan jam biologis tubuh dapat berdampak pada emosi, metabolisme, hingga meningkatkan resiko penyakit fisik. Menurutnya, tubuh manusia memiliki “pusat pengatur” ritme biologis yang berfungsi menyinkronkan perubahan gelap dan terang dengan sistem hormon serta metabolisme. Saat sistem ini berjalan baik, tubuh mampu menyesuaikan diri secara alami. “Tubuh itu sebenarnya menyesuaikan. Tapi pada orang tertentu, pusat pengatur ini sudah mengalami gangguan sehingga ketika terjadi perubahan dari gelap ke terang atau sebaliknya, tubuh tidak bisa mengenali dan tidak sinkron. Disitulah masalah muncul,” jelasnya, Kamis (5/3).
Lebih lanjut, Ronny menjelaskan bahwa secara umum dikenal dua kronotipe atau kecenderungan waktu tidur, yakni tipe lebih awal (earlier) dan tipe lebih malam (later). Kronotipe pagi cenderung tidur lebih awal, misalnya pukul 18.00–19.00, dan bangun lebih dini. Sementara kronotipe malam cenderung tidur pukul 23.00–00.00, bahkan ada yang baru produktif menjelang tengah malam. “Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Keduanya sama saja, selama tubuh masih bisa berkompensasi dan durasi tidur tetap terpenuhi sekitar 7 – 8 jam,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa bila seseorang tidak bisa tidur malam tanpa alasan pekerjaan atau aktivitas tertentu, dan baru bisa tidur menjelang pagi, kondisi tersebut perlu diwaspadai karena bisa mengarah pada gangguan. Namun salah satu miskonsepsi yang sering terjadi adalah anggapan bahwa utang tidur bisa langsung diganti dalam satu waktu. Menurut Ronny, proses metabolisme tubuh tidak bekerja seperti itu. “Utang tidur tidak bisa langsung dibayar lunas. Metabolisme tubuh bekerja bertahap. Seperti luka yang butuh waktu sekitar dua minggu untuk pulih, kekurangan tidur juga perlu waktu untuk kembali seimbang,” terangnya.
Jika kompensasi dilakukan terus-menerus dalam jangka panjang, tubuh akan mengalami kelelahan organik. Dalam kondisi tersebut, respons tubuh bereaksi berlebihan karena stress fisiologis. Akibatnya, seseorang lebih mudah mengalami jantung berdebar, sesak napas, mudah terinfeksi, kulit kusam, hingga penurunan daya tahan tubuh.
Gangguan tidur menurut Ronny tidak hanya ditandai sulit terlelap. Oleh karena itu ia menekankan pentingnya memperhatikan kualitas bangun tidur. “Kalau bangun tidak segar, badan pegal, kepala terasa berat, mudah marah, atau mood tidak stabil, itu tanda ada sesuatu yang terganggu,” katanya.
Dari sudut pandang psikiatri, gejala paling awal biasanya tampak pada emosi. Mood menjadi tidak stabil, mudah sedih, mudah marah, atau naik turun tanpa sebab jelas .Jika gangguan tidur berlangsung lama tanpa penanganan, risiko gangguan kesehatan meningkat, mulai dari ketidakstabilan emosi hingga gangguan fisik. “Kalau dilakukan jangka panjang, pasti berbahaya. Kecuali tubuh memang didesain sangat kuat, tapi kita tidak pernah tahu spesifikasi biologis tubuh kita sendiri,” ujarnya.
Untuk menjaga kualitas tidur, Ronny menyarankan tiga hal yakni Pertama, menjaga pola makan seimbang sebab asupan bergizi dan waktu makan yang teratur membantu kestabilan metabolisme. Kedua, olahraga rutin minimal tiga kali seminggu dengan durasi seimbang untuk membantu regulasi tubuh. Ketiga, yang tidak kalah penting yakni regulasi emosi dan manajemen stress. “Stress itu pasti ada. Yang kita atur adalah respons terhadap emosi tersebut,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya sleep hygiene, termasuk mengenali pola tidur pribadi serta menghindari kebiasaan yang mengganggu kualitas istirahat. Ronny mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap sinyal tubuh dan tidak menyepelekan gangguan tidur. Tidur bukan sekadar kebutuhan istirahat, melainkan bagian penting dari keseimbangan sistem biologis dan kesehatan mental.
Penulis : Jelita Agustine
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Freepik
