Mendung temaram menyelimuti keluarga besar Universitas Gadjah Mada saat kabar duka datang dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA UGM). Salah satu guru besarnya, Prof. Dr. Soeparna Darmawidjaja, meninggal dunia pada Kamis (25/12) dalam usia 87 tahun. Almarhum dimakamkan di Pemakaman Sawit Sari UGM, Jumat (26/12), setelah mendapatkan penghormatan terakhir dari Keluarga Besar UGM di Balairung.
Dedikasi dan pengabdian almarhum Prof. Soeparna selama puluhan tahun dalam pengembangan ilmu matematika dikenang sebagai teladan bagi generasi penerus. Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia FMIPA UGM, Dr.-Ing. MHD. Reza M.I. Pulungan, S.Si., M.Sc., dalam pembacaan riwayat hidup almarhum menyampaikan bahwa beliau merupakan sosok pendidik dengan komitmen yang tinggi terhadap pengembangan matematika, terutama bidang analisis.
Menurut Reza, almarhum tidak hanya berperan sebagai akademisi, tetapi juga pemimpin yang aktif mengembangkan FMIPA UGM melalui berbagai posisi strategis yang pernah diembannya. “Beliau merupakan tokoh matematika yang telah melahirkan banyak murid unggul terkemuka dan berkontribusi besar bagi perkembangan ilmu matematika di Indonesia,” tambahnya.
Prof. Soeparna Darmawidjaja lahir di Kuala Lumpur pada 10 Januari 1938. Almarhum menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Indonesia sebelum melanjutkan studi tinggi dan meraih gelar doktor pada tahun 1986. Jabatan akademik tertingginya sebagai Guru Besar Matematika FMIPA UGM diperoleh pada tahun 1991. Selama karirnya, almarhum juga pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Matematika serta aktif dalam organisasi profesi, termasuk sebagai Presiden Indonesian Mathematical Society.
Rasa duka yang mendalam juga disampaikan oleh Sekretaris Dewan Guru Besar UGM, Prof. Dr. Wahyudi Kumorotomo, M.P.P., yang mewakili pimpinan serta keluarga besar universitas. Ia mengenang almarhum sebagai ilmuwan yang tekun dan serius dalam mendalami keilmuannya. “Hal ini tercermin dari deretan panjang publikasi karya ilmiah yang beliau hasilkan, baik dalam bentuk buku maupun jurnal,” ungkapnya.
Selain jejak akademik, Wahyudi mengenang almarhum sebagai pribadi yang ramah dan bersahaja dalam keseharian. “Dalam pergaulan sehari-hari, beliau adalah kolega yang santun, bersahabat, dan senantiasa memberi rasa nyaman. Beliau juga gemar berolahraga badminton pada masanya,” tuturnya.
Ia mengajak seluruh hadirin untuk mendoakan almarhum agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa. “Mari kita hantarkan beliau ke peristirahatan terakhir dengan doa, semoga Allah SWT mengampuni segala khilafnya, melipatgandakan amal ibadahnya, dan memberikan tempat damai yang paling mulia,” pungkasnya.
Penulis/Foto : Hanifah
Editor : Gusti Grehenson
