Dosen Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Prof. Dr. Agus Suwignyo, M.A., memenuhi undangan sebagai professor tamu dari Royal Holloway, University of London (RHUL) pada tanggal 28 Januari hingga 19 Februari 2026 lalu. RHUL merupakan salah satu universitas top 50 di Inggris Raya dan termasuk dalam jajaran 400 perguruan tinggi terbaik dunia berdasarkan Times Higher Education World University Ranking 2026.
Selama tiga minggu berada di Inggris, Agus Suwignyo melaksanakan kegiatan akademik dan riset yaitu mengajar serta melakukan kolaborasi penelitian dan publikasi dengan kolega dari Departemen Sejarah RHUL, Dr. Simone Gigliotti. Ia juga berkesempatan mengisi perkuliahan di dua tempat yaitu RHUL dan Royal Asiatic Society yang mengulas sejarah pendidikan lingkungan di Indonesia. Materi yang digunakannya merupakan hasil penelitiannya selama 3 tahun terakhir.
Agus mengatakan banyaknya permasalahan lingkungan di Indonesia telah melahirkan beragam model pendidikan lingkungan. Berdasarkan identifikasinya, terdapat 462 kasus lingkungan selama kurun waktu 74 tahun dari tahun 1950 hingga 2024. Kasus-kasus tersebut diklasifikasikan menjadi 6 ragam pendidikan yaitu cerita hantu, dongeng dan mitos; ritual dan upacara keagamaan; refleksi dan opini publik tentang bencana; gerakan, aktivisme serta program penghijauan; kepemimpinan komunitas dan inisiatif aksi; serta pertunjukan seni budaya dan karya sastra. “Ragam pendidikan lingkungan terbentuk dari permasalahan lingkungan yang berkembang di masyarakat. Oleh karena itu, setiap program memiliki sasaran yang berbeda,” katanya dalam keterangan yang dikirim ke wartawan, Senin (9/3).
Menurutnya, Indonesia menghadapi persoalan lingkungan yang sangat serius akibat politik lingkungan yang terus berubah. “Sumber utama persoalan lingkungan di Indonesia adalah deforestasi dan manajemen yang buruk atas sampah,” ujarnya.
Bagi Agus, perkembangan persoalan lingkungan di masa lalu turut memberikan dampak terhadap ragam pendidikan lingkungan. Seiring dengan perubahan zaman dan perkembangan teknologi, fungsi ragam pendidikan mengalami penurunan pengaruh terhadap lingkungan tersebut. Ia menekankan pentingnya sejarah pendidikan lingkungan yang kontekstual dengan zaman dan sesuai dengan segmen di dalam masyarakat yang menjadi sasaran pendidikan tersebut. “Pemerintah dapat membuat sinergi pendidikan lingkungan berbasis komunitas yang sudah ada di masyarakat,” tekannya.
Penulis: Jesi
Editor: Gusti Grehenson
Foto: Antara
