Riset pangan yang dilakukan peneliti di lingkungan kampus Universitas Gadjah Mada telah berlangsung puluhan tahun. Berkembang sejalan dengan persoalan dan tantangan zaman serta kebutuhan riil masyarakat. Kini, melalui Program Resona Saintek: Riset Kuat, Pangan Hebat, inovasi-inovasi tersebut kembali diperkenalkan kepada masyarakat dalam format kegiatan yang dialogis, lintas disiplin, agar dekat dengan keseharian masyarakat. Program yang berjalan sejak September hingga Desember 2025 ini menjadi medium bagi UGM untuk menghadirkan ilmu pengetahuan secara lebih membumi, sebagaimana upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.
Di hulu, riset pemuliaan tanaman menjadi fondasi sejumlah inovasi penting, termasuk kelahiran varietas padi Gamagora 7 yang dikembangkan melalui proses seleksi dan uji multilokasi selama bertahun-tahun. Inovasi ini menjadi pintu masuk bagi kegiatan-kegiatan Resona Saintek, yang mempertemukan peneliti dengan petani di berbagai daerah. Program kampanye membawa kembali cerita lahirnya varietas unggul ini ke publik, sejalan dengan harapan para penelitinya. “Gamagora hadir untuk menjawab kebutuhan petani akan varietas yang produktif dan adaptif,” ujar Prof. Taryono, Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, pada Kamis (11/12) silam.
Hilirisasi riset juga mendapat perhatian besar selama pelaksanaan program. Dari panen varietas Gamagora, lahirlah beras premium Presokazi yang diproduksi dengan standar mutu ketat untuk mendukung gizi keluarga Indonesia. Dalam kegiatan Rerasan Pangan di Kalurahan Caturtunggal, masyarakat diperkenalkan pada cita rasa, kandungan gizi, dan karakter Presokazi sebagai produk pangan premium. Respons yang muncul memperlihatkan besarnya potensi hilirisasi sebagai jembatan antara riset benih unggul dan kebutuhan konsumen.

Di sisi lain, tantangan kesuburan tanah menjadi fokus penting riset lintas disiplin UGM. Inovasi Gamahumat, pembenah tanah yang diolah dari batubara kalori rendah, diperkenalkan kembali dalam kegiatan Rembug Sesarengan di Klaten dan webinar nasional. Produk ini dirancang untuk meningkatkan struktur tanah, memperkuat efisiensi pemupukan, sekaligus mendukung pemulihan lahan marginal dan bekas tambang. Peserta dari berbagai daerah aktif berdiskusi mengenai penerapannya di lahan pertanian masing-masing. “Kami ingin menghadirkan teknologi yang ramah lingkungan sekaligus terjangkau bagi petani,” ungkap Prof. Ferian Anggara pada webinar nasional bertajuk Sinergi Ilmu dan Kelembagaan untuk Pertanian Berkelanjutan pada November silam.
Kajian sosial mengenai kelembagaan petani ikut memperkaya perjalanan kampanye. Dalam webinar nasional yang sama, Dr. Hempri Suyatna menyampaikan pentingnya memperkuat kelompok tani, jaringan desa, dan struktur sosial pendukung lainnya agar inovasi teknologi dapat diterapkan secara berkelanjutan. Perspektif ini memperlihatkan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar urusan teknologi, tetapi juga kapasitas masyarakat dalam mengelola perubahan. “Ketahanan pangan tidak bisa berdiri tanpa kapasitas sosial yang kokoh,” tuturnya.
Sementara itu, riset antropologi pangan memberikan sudut pandang lain tentang perjalanan pangan Indonesia. Melalui podcast Resona Saintek, Prof. Bambang Hudayana membahas peran tanaman porang dalam sejarah pangan dan strategi bertahan hidup masyarakat di berbagai daerah. Ia menjelaskan bagaimana porang kembali relevan di tengah kebutuhan diversifikasi pangan dan perubahan pola konsumsi. Paparannya menjadi pengingat bahwa inovasi pangan juga tumbuh dari pemahaman budaya dan pengetahuan lokal. “Porang memiliki posisi penting dalam sejarah pangan dan kembali relevan dalam konteks keberlanjutan,” pesannya.
Rangkaian kegiatan Resona Saintek memperlihatkan upaya UGM untuk menjembatani riset dengan masyarakat melalui pendekatan yang inklusif. Di desa, petani mengikuti penjelasan mengenai varietas unggul dan pembenah tanah. Di kampus, mahasiswa berdialog mengenai masa depan ketahanan pangan. Di ruang digital, publik mengakses podcast, webinar, dan konten edukatif yang diproduksi sepanjang program. Seluruh upaya ini memperkuat komitmen UGM untuk menghadirkan ilmu pengetahuan yang relevan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Program ini didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi melalui hibah kampanye tematik sains Resona Saintek. Di akhir pelaksanaannya, UGM menegaskan kembali komitmennya untuk memperluas diseminasi riset dan membuka ruang kolaborasi agar inovasi pangan semakin dikenal dan digunakan oleh masyarakat. Perjalanan panjang riset ini memperlihatkan bahwa ketahanan pangan dibangun melalui kerja ilmiah yang tekun, kolaborasi lintas disiplin, dan partisipasi aktif masyarakat.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Firsto
