Di usia yang bagi sebagian orang masih menjadi masa mencari arah, Tria Sofie justru menuntaskan pendidikan program magister dan mencatatkan diri sebagai lulusan S2 termuda Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada pada upacara wisuda program pascasarjana, Rabu (21/1), di Grha Sabha Pramana. Perempuan asal Blora, Jawa Tengah, itu resmi menyelesaikan studi magisternya di usia 22 tahun 6 bulan melalui jalur fast track. Padahal rerata usia lulusan Program Magister periode ini adalah 29 tahun 6 bulan 15 hari. “Sebenarnya dari awal saya memang sudah memetakan, setelah S1 ingin langsung lanjut S2. saya tidak menyangka dinobatkan sebagai lulusan termuda di program S2,” ujar Sofie, Jumat (23/1).
Sofie, yang merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara, masuk UGM pada tahun 2020. Sejak awal masa kuliah S1, ia telah menargetkan untuk melanjutkan studi ke jenjang magister. Kesempatan itu datang ketika Fakultas Geografi UGM membuka sosialisasi program fast track pada semester enam. “Waktu itu ada sosialisasi fast track, dan saya merasa ini memang tujuan saya. Jadi saya memanfaatkan peluang itu,” ungkapnya.
Namun, perjalanan kuliahnya tersebut tidaklah mudah. Program fast track di Fakultas Geografi mensyaratkan masa studi magister selama satu setengah tahun, disertai kewajiban publikasi terindeks Scopus. Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah membagi waktu antara penyusunan skripsi S1, perkuliahan S2, penulisan tesis, hingga penyusunan manuskrip publikasi ilmiah yang berlangsung hampir bersamaan. “Rasanya ketumpuk. Semester delapan S1 sudah mulai skripsi, tapi di saat yang sama sudah masuk semester satu S2 dengan tugas-tugasnya. Jadi harus benar-benar pintar membagi waktu,” tuturnya.
Sofie menyiasati tekanan tersebut dengan menyelesaikan target secara bertahap. Ia memprioritaskan skripsi sebagai fondasi sebelum melangkah ke tahap berikutnya. “Saya selesaikan satu-satu. Waktu itu saya fokuskan skripsi dulu, karena itu jadi step awal sebelum ke tahapan selanjutnya,” jelasnya.
Di balik capaian akademiknya, Sofie juga menyadari adanya konsekuensi personal. Waktu bersama teman menjadi hal yang harus dikorbankan demi fokus menyelesaikan studi. “Ada masa di mana saya benar-benar tidak ketemu teman sama sekali. Fokus ke diri sendiri dan apa yang sedang saya kerjakan. Menurut saya, memang ada hal-hal yang harus dikorbankan,” tuturnya.
Meski demikian, dukungan keluarga menjadi sumber kekuatan utama. Orang tua Sofie disebut sangat mendukung keputusannya untuk langsung melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. “Bersyukur, keluarga mendukung banget. Orang tua sangat support”, ucapnya.
Dari sekitar 11 mahasiswa fast track di angkatannya, Sofie tercatat sebagai yang termuda. Meski demikian, ia menilai pencapaiannya bukan semata soal kecerdasan akademik. Dengan IPK 3,78, Sofie menekankan pentingnya tanggung jawab dan kegigihan. “Saya merasa saya bukan orang yang pintar banget. Tapi saya bertanggung jawab dengan apa yang sudah saya mulai dan gigih menjalaninya,” katanya.
Kepada mahasiswa yang tertarik untuk mengikuti program fast track, Sofie berpesan agar mempertimbangkan tujuan karir ke depan. “Fast track ini fokusnya riset. Jadi perlu dipikirkan dulu jenjang kariernya mau ke mana. Kalau tujuannya ke akademik, dosen, atau pengajar, program ini cukup worth it,” jelasnya.
Ia menutup dengan pesan motivasi bagi generasi muda agar tidak ragu melangkah. “Kalau mau lanjut sekolah atau mengejar apa pun, kita enggak harus merasa pintar banget. Yang penting bertanggung jawab dan mau berjuang,” pungkasnya.
Penulis : Jelita Agustine
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Tria Sofie
