Pakar Bidang Biologi Farmasi dari Fakultas Farmasi UGM, Dr. Djoko Santosa, M.Sc., mengingatkan agar masyarakat untuk tidak menganggap seluruh tanaman yang dikenal sebagai obat tradisional otomatis aman untuk dikonsumsi. Sebab, sejumlah tanaman yang dipercaya memiliki khasiat tertentu justru perlu diperhatikan secara hati-hati karena dapat menimbulkan risiko kesehatan apabila dikonsumsi atau diolah tanpa pengetahuan yang tepat.
“Jadi tidak semua yang disebut tanaman obat itu kemudian bagus dan aman untuk kita konsumsi. Ada tanaman-tanaman yang memang harus kita hati-hati dalam penggunaannya karena bisa berisiko bagi tubuh,” jelasnya dalam kegiatan workshop yang bertajuk “Racik Rasa dan Rawat Jiwa” tersebut dilaksanakan bersama Kelompok PKK Padukuhan Karanggayam,di Balai Padukuhan Karanggayam, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (5/9).
Ia mencontohkan daun sirsak, daun rondo noleh atau rondo semoyo yang dikenal sebagai “daun insulin”, daun mindi atau mimbo, serta brotowali yang menurutnya perlu diwaspadai karena dapat berisiko bagi kesehatan. “Jadi tidak semua yang disebut tanaman obat itu kemudian bagus dan aman untuk kita konsumsi. Ada tanaman-tanaman yang memang harus kita hati-hati dalam penggunaannya karena bisa berisiko bagi tubuh,” jelas Djoko.
Konsumsi daun sirsak secara terus-menerus dapat mempengaruhi saraf dan kesehatan ginjal. Bahkan Daun rondo noleh dan daun mindi perlu dihindari karena turut berisiko terhadap ginjal. Djoko juga mengingatkan masyarakat untuk memastikan bahan yang digunakan dalam jamu pahitan, terutama membedakan brotowali dengan sambiloto. “Kalau Ibu-ibu mau membeli jamu pahitan, tanya dulu ini yang direbus itu brotowali atau sambiloto. Kalau sambiloto boleh, tapi kalau brotowali saya nggak mau beli,” ujarnya.
Menurut Djoko, penggunaan tanaman obat tetap perlu memperhatikan takaran dan kondisi tubuh. Ia mencontohkan kunyit asam yang dapat dikonsumsi dalam jumlah wajar, tetapi perlu dihentikan apabila menimbulkan reaksi alergi.
Ia juga menganjurkan masyarakat agar tidak mudah mengikuti informasi mengenai pengobatan tradisional yang beredar di media sosial tanpa mengetahui dasar dan keamanan penggunaannya. Menurutnya, pemanfaatan tanaman obat perlu dilakukan secara bijak dan tidak menggantikan penanganan medis untuk kondisi yang membutuhkan pertolongan tenaga kesehatan.
Dalam kesempatan itu, menyampaikan literasi pemanfaatan tumbuhan obat dan jamu. Ia mengenalkan kembali sejumlah tanaman yang telah lama digunakan masyarakat sekaligus menjelaskan potensi pemanfaatannya untuk menjaga kesehatan. Menurutnya, pengetahuan mengenai jamu perlu terus dikenalkan agar warisan pengobatan tradisional tersebut tidak hilang dan dapat dimanfaatkan secara tepat.”Masyarakat perlu mengenal pemanfaatan tumbuhan obat yang berada di sekitar lingkungan masing-masing,” jelasnya.
Selain pemanfaatan tanaman obat, kegiatan tersebut juga mengangkat aspek kesehatan mental. Djoko menjelaskan bahwa menjaga kesehatan jiwa dapat dilakukan melalui aktivitas sosial dan keterlibatan dalam kegiatan bersama masyarakat. “Interaksi melalui komunitas, pengajian, arisan, maupun kegiatan bercocok tanam dinilai dapat menjadi aktivitas yang mendukung kesehatan mental,”katanya.
Ketua PKK Padukuhan Karanggayam, Wiwik Dwi Karyawati, menyambut baik kegiatan edukasi tanaman obat tersebut. Menurutnya, kegiatan bersama UGM memberikan tambahan wawasan kepada masyarakat, terutama mengenai kesehatan mental dan pemanfaatan jamu yang selama ini telah dikenal sebagai bagian dari budaya masyarakat. “Kegiatan ini merupakan kegiatan yang sangat positif sekali karena dari kita, ibu-ibu, bisa mendapatkan tambahan wawasan yang lebih luas lagi. Seperti materi pada sore hari ini terkait dengan kesehatan mental dengan jamu,” ungkap Wiwik.
Wiwik berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dan tidak berhenti pada satu kali kegiatan. Menurutnya, keterlibatan UGM secara langsung dengan masyarakat memberikan manfaat karena pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. “Untuk program ini saya berharap juga akan terus dilanjutkan lagi karena memang benar-benar sangat berdampak. Jadi, dari kampus dan juga bisa langsung berdampak ke warga masyarakat,” katanya.
Dr. Dra. Raden Roro Upiek selaku Koordinator Kegiatan edukasi dan sosialisasi pengabdian kepada masyarakat dari Fakultas Biologi UGM, menuturkan Catur Tunggal dipilih sebagai salah satu wilayah pembinaan setelah pihak kelurahan menyampaikan keinginan agar wilayah tersebut mendapatkan pendampingan dari Fakultas Biologi UGM. Pendampingan kemudian dilakukan secara bertahap melalui konsep road to dusun, dari satu dusun ke dusun lainnya.
Ke depan, program pembinaan Fakultas Biologi UGM di Catur Tunggal akan terus diarahkan ke dusun-dusun lainnya. Upiek menyebut salah satu dusun binaan sebelumnya, yakni Mrican, telah dinilai mandiri sehingga pendampingan dapat dilanjutkan ke wilayah lain.”Terdapat 20 dusun di Catur Tunggal, pendekatan road to dusun diharapkan dapat memperluas jangkauan program pembinaan,” ujarnya.
Melalui kegiatan “Racik Rasa dan Rawat Jiwa”, kata Upiek, kolaborasi Fakultas Farmasi dan Fakultas Biologi UGM bersama masyarakat Karanggayam menjadi bagian dari upaya mendekatkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat. Kegiatan tersebut sekaligus memperkuat pembinaan desa mitra melalui edukasi kesehatan, pemanfaatan potensi lokal, serta pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.
Penulis : M. Aidil Syahputra
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Jesi
