
Wakil Presiden ke-10 dan 12 Indonesia, Dr. (HC) Drs. Muhammad Jusuf Kalla mengajak generasi muda untuk memajukan negeri ini melalui diplomasi budaya positif seperti kerja keras, kecerdasan, keberanian, serta sopan dan berakhlak untuk mendorong perubahan, kemajuan dan kesejahteraan yang lebih berkeadilan.
“Di tengah globalisasi yang terjadi saat ini, anak muda harus memiliki pengalaman bertukar budaya dengan mengeksplorasi peluang kerja di negara lain, karena akan mempengaruhi cara berpikir dan berperilaku,” kata Jusuf Kalla dalam Orasi Ilmiah dan Kuliah Umum bertajuk Diplomasi Budaya dan Perdamaian pada Senin (24/2) silam di Auditorium Soeganda, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM.
Menurut JK, demikian ia akrab disapa, mengatakan kelekatan budaya turut berpengaruh pada cara pandang individu. Menurutnya, setiap orang tidak pernah melihat budaya lain akan merasa selalu besar tanpa tahu kalau dunia ini sangatlah luas. Menurutnya bangsa Indonesia jauh tertinggal dengan Jepang dan Tiongkok karena kedua negara tersebut memiliki budaya kerja keras yang belum dimiliki oleh bangsa ini.
Ia pun turut mengomentari soal maraknya perbincangan di sosial media terkait tagline #kaburajadulu juga turut menarik perhatiannya yang menurutnya tagline ini justru bermakna positif. “Kalau kita hanya tinggal di Indonesia, kita jadi tidak tahu kalau dunia ini berubah,” tuturnya.
Dia menegaskan generasi muda Indonesia harus mengambil contoh dari pekerja India yang mau meningkatkan kapasitasnya dengan belajar budaya kerja Amerika yang kemudian diterapkan untuk membangun negerinya. Kini, banyak warga India yang menguasai perusahaan teknologi di Amerika, seperti Twitter (X), Microsoft, hingga Meta. Menurutnya, dengan meniru nilai positif dari budaya negara lain, JK yakin generasi muda Indonesia dapat mempercepat pembangunan dan meningkatkan daya saingnya di tingkat global.
JK yang pada Oktober 2024 silam menerima gelar ‘Peace Mujahid Award’ dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini juga menekankan pentingnya diplomasi budaya sebagai sarana efektif dalam membangun perdamaian saat ia turut berperan dalam meresolusi konflik di Afghanistan. Pemahaman dan penghargaan terhadap budaya lain merupakan kunci dalam menciptakan harmoni dan mencegah konflik antarbangsa. Ia berpesan, dalam konteks resolusi konflik, diplomasi budaya berperan penting dalam menciptakan dialog yang konstruktif, mengurangi ketegangan, serta membangun kepercayaan di antara pihak-pihak yang bertikai. Dengan menekankan pentingnya dialog, peran ulama, serta pendekatan inklusif, Jusuf Kalla terus berkontribusi dalam misi perdamaian global, sejalan dengan amanat konstitusi Indonesia untuk turut serta dalam menciptakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA turut bercerita terkait keberhasilan Jusuf Kalla dalam menyelesaikan konflik Ambon dan Poso yang menjadi acuannya dalam penulisan di beberapa artikel. Ia berujar perdamaian dari banyak konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia masih menjadi isu penting bagi studi di bidang sosial humaniora. “Kita berharap agar Indonesia tetap dalam kondisi aman dan damai, namun terkadang kita melupakan sosial dan humaniora karena sekarang yang paling diagungkan itu penguatan di sektor teknologi digital dan sebagainya. Padahal justru humaniora ini yang memiliki peran penting karena aspek perdamaian, kesejahteraan kebahagian itu semuanya adalah konten-konten keilmuan yang ada di sosial humaniora,” ungkap Wening.
Dekan FIB UGM, Prof. Dr. Setiadi, M.Si., dalam pidato sambutannya, menyampaikan perjalanan FIB UGM selama 79 tahun dalam menjalankan pengabdian terhadap negara. Ia menjelaskan, FIB telah banyak melakukan kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi yang memiliki kontribusi signifikan bagi kemajuan bangsa dan negara dalam mewujudkan tagline UGM, mengakar kuat menjulang tinggi. Program INCULS (Indonesian Language and Culture Learning Service) yang merupakan pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing menjadi salah satu program unggulan untuk mempromosikan Indonesia ke seluruh dunia. “Ada 27 negara yang sudah kami sasar, dan di dua bulan pertama tahun ini sudah ada 238 mahasiswa asing yang belajar bahasa di FIB. Kami kira ini akan terus bertambah dan mungkin tahun ini bisa dua atau tiga kali lipat dari tahun sebelumnya,” jelas Dekan.
Setiadi juga menjelaskan capaian beberapa program studi yang masuk ke pemeringkatan dunia, seperti bidang antropologi yang masuk ke ranking 51-100 dunia, bidang arkeologi dan modern language di ranking 151-200 dunia, serta bidang sejarah di ranking 201-230 dunia. Menurutnya, meskipun pemeringkatan bukan tujuan akhir dari FIB, namun ranking adalah cerminan pengakuan kolega dan lembaga luar negeri terhadap eksistensi FIB sehingga capaian tersebut patut untuk dirayakan. Ia juga menyampaikan mimpi FIB selanjutnya agar pengembangan studi bahasa tidak hanya sebatas pengajaran dan riset linguistik saja, tetapi juga bisa turut serta dalam riset lintas disiplin ilmu. “Neurolinguistik harus ada di sini. Bagaimana teman-teman linguistik bisa mengembangkan kajian lintas disiplin melalui kerja sama dengan Fakultas MIPA atau Fakultas Kedokteran,” tutur Setiadi.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Firsto