Digitalisasi dan transformasi digital di lingkungan kampus menjadi sebuah keharusan di tengah era kemajuan teknologi informasi dalam mendukung kualitas pelayanan tridarma perguruan tinggi. Oleh karena itu para pranata komputer diharuskan memiliki kapasitas dan kompetensi yang mumpuni untuk mendorong perbaikan pelayanan yang berbasis teknologi tersebut.
Hal itu mengemuka dalam sesi workshop dan benchmarking guna mendukung transformasi digital di lingkungan universitas yang diselenggarakan oleh Kemdiktisaintek RI dan UGM di Grand Keisha Hotel Yogyakarta pada 6-10 April.
Direktur Direktorat Teknologi Informasi (DTI) UGM Prof. Dr. Ridi Ferdiana, S.T., M.T, sekaligus pengajar dan peneliti di bidang rekayasa perangkat lunak, mengatakan transformasi digital dan digitalisasi merupakan dua hal yang berbeda. Lebih jauh ia menjelaskan bahwa digitalisasi merupakan proses perubahan dari fisik menjadi virtual. Sedangkan transformasi digital dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu business process reengineering dan business process transformation. “Digitalisasi menjanjikan satu proses yang bernama ‘efisiensi’ dan transformasi digital juga bukan perkara yang mudah,” ungkapnya.
Kemajuan digital saat ini dalam bentuk Kecerdasan Buatan atau AI, kata Ridi, memiliki kelebihan dan kekurangan AI dalam dunia digital Universitas. Ia menjelaskan bahwa literasi AI harus benar-benar diatur oleh manusia. Sementara dalam etika digital, pemahaman konsep misinformasi, hukum, dan teknologi harus benar-benar diperhatikan. “Etika dalam digital biasanya meliputi etika berjaringan, memahami konsep misinformasi, hukum, dan teknologi,” jelasnya.
Sementara Hendranti Wisnu Saputro, S.T., M.Sc.,dari Direktorat Teknologi Informasi UGM memaparkan materi mengenai sistem Simaster UGM. Dalam sesi pemaparan materinya, Hendranti menjelaskan bahwa Simaster hadir sebagai sebuah strategi integrasi dan tata kelola layanan terpusat untuk mencapai Smart Campus. Menurutnya, dalam proses pembuatan sebuah sistem untuk pendidikan, kritik maupun saran harus diakomodasi agar sesuai dengan keperluan pengguna. “Setiap membuat sebuah sistem. Kritik dan saran pasti akan muncul. Kita harus siap akan hal tersebut. Kita jadikan kritik dan saran sebagai evaluasi agar sistem bikinan kita semakin baik kedepannya,” jelasnya.
Hendranti menjelaskan bahwa seluruh sistem harusnya terintegrasi. Sehingga, saat ada keluhan dari mahasiswa, dosen, atau bahkan staff, permasalahan dapat diselesaikan dalam satu pintu. “Semua sistem di UGM terintegrasi ke Simaster,” terangnya.
Untuk menutup sesi pemaparan materi, Hendranti menyoroti perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang memudahkan masyarakat umum mengakses sebuah informasi. Di hadapan para tamu, Hendranti menegaskan bahwa peran para Tenaga Kependidikan dalam bidang komputer masih sangat diperlukan, meskipun perkembangan AI sudah cukup pesat. “Teknologi itu perkembangannya sangat cepat, bahkan adanya AI tuh terkadang memudahkan orang-orang. Tapi, walaupun begitu, basic knowledge kita tetap harus digunakan, apalagi analisis kita soal sistem,” tutupnya.
Penulis : Diyana Khairunnisa
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Donnie
