Di era keberlimpahan informasi, tantangan terbesar masyarakat modern bukan lagi keterbatasan akses pada teks, tetapi kedangkalan dalam memaknai realitas. Diskusi ini mengemuka dalam ceramah tarawih yang disampaikan oleh Mantan Gubernur DKI, Anies Rasyid Baswedan, di Masjid Al Hayat, Fakultas Biologi UGM.
Anies menekankan bahwa masalah utama bangsa Indonesia saat ini bukanlah kurang informasi, melainkan krisis kejernihan dalam mencernanya. Ia kemudian memaparkan sebuah analisis yang mengelompokkan buta huruf menjadi dua golongan. Pertama, golongan buta huruf karena gagal membaca teks. Ada juga golongan yang sangat lancar membaca tulisan, tapi gagal membaca kenyataan. “Akibatnya, banyak pemimpin gagal membuat kebijakan. Bahkan, gagal mendengar jeritan rakyat,” ungkapnya di depan jemaah, Rabu malam (4/3).
Anies menekankan bahwa Islam memantik umat manusia untuk membangun peradaban dimulai dengan memahami. “Manusia diminta untuk menjadi khalifah, tapi pesan itu diawali dengan melihatlah dan membacalah dengan jernih,” jelasnya.
Lebih jauh, ia mengajak jamaah untuk memperluas cakrawala Iqra melampaui literasi tekstual. Baginya, Iqra harus diposisikan sebagai instrumen mengasah empati dan ketajaman nurani dalam melihat keadaan.
Dalam konteks kampus, tanggung jawab ini menjadi lebih besar. Menurutnya, mahasiswa diberikan kesempatan untuk berpikir kritis sembari menguji gagasan, serta menyampaikan pandangan dengan jernih dan berani. “Kampus seharusnya menjadi rumah bagi pertanyaan, bukan pabrik kepatuhan. Kampus menjadi ruangan eksperimen, bukan gudang menyimpan ilmu masa lalu. Karena itu, harus membiasakan unsur di dalamnya bukan hanya menghafal. Jika hanya sebatas menghafal, maka roh Iqra belum hidup,” ungkapnya.
Anies menjelaskan bahwa perintah iqra bagi anak muda merupakan sebuah kesempatan besar melampaui zaman. Ia mengajak agar mahasiswa iqra untuk menangkap fenomena sosial sehingga mampu melahirkan gagasan yang relevan dengan perubahan dunia. Baginya, daya kritis anak muda adalah kunci bagi lahirnya inovasi. “Anak muda itu pandangannya ke depan, membawa kebaruan sudut pandang, dan (berbagai) pertanyaaan,” tegasnya.
Dalam konteks yang lebih luas, Rektor Universitas Paramadina 2007-2025 ini kembali memberikan contoh bahwa Iqra bukan sebatas membaca huruf melainkan menangkap fenomena sosial, terutama hal yang terjadi pada rakyat kecil. “Jangan mau membaca kemiskinan, ketertinggalan, dan ketimpangan dari ruang konferensi pers. Akan tetapi, membacalah dari dapur keluarga, dari antrian berobat, dan dari kecemasan orang tua saat menunggu peluang anaknya bersekolah,” tegasnya.
Penulis : Aldi Firmansyah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Jama’ah Mahasiswa Muslim Biologi
