Keluarga Kristiani Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Perayaan Natal Bersama Civitas Akademika Katolik dan Kristen UGM. Perayaan Natal kali ini mengusung tema Kasih yang Menghadirkan Harmoni dan Persatuan, di Grha Sabha Pramana, Kamis (15/1). Kegiatan perayaan Natal Bersama ini dibuka dengan Ibadah Natal yang dipimpin Rm Patrisius Mutiara Andalas, SJ, dan Pendeta Sundoyo, SSi., MBA.
Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA yang hadir dalam perayaan Natal mengatakan hidup manusia saat ini berada di era serba tersedia dengan teknologi yang luar biasa. “Di era ini, katanya, apa saja bisa dibuat namun di sisi lain ada kabut-kabut gelap adanya peperang dimana-mana, dan hampir di semua wilayah terjadi bencana dan konflik,” ujarnya.
Wening menyebutkan, konflik nampak terjadi di kalangan netizen yang muncul di platform media sosial, dimana manusia saling serang dan saling hujat. Situasi ini, dinilainya menjadi habitus baru dunia, termasuk di Indonesia yang tentunya membawa dampak luar biasa pada manusia yang menjadikan manusia dan alam menjadi tidak berharga. 
Sebagai penganut paham Emile Durkheim, Wening meyakini agama mampu menjawab persoalan itu. Paham Emile Durkheim melihat agama meyakini adanya kekuatan sejati yang memiliki cara menempatkan agama sebagai cara mempromosikan perdamaian.
Agama apapun, katanya, sesunguhnya anti kekerasan dan anti konflik. Karena itu, sifat damai dari agama harus terus digelorakan dan bisa dilakukan secara bersama-sama. Semua bisa meniru tradisi-tradisi yang telah diwariskan oleh agama-agama dan tradisi budaya luhur yang sudah ada. “Sudah saatnya agama yang sesungguhnya bergerak menjauhkan diri dari perilaku-perilaku praktis. Selamat Natal semoga damai dan terang Natal menyinari setiap keluarga di Universitas Gadjah Mada,” tuturnya.
Rm Patrisius Mutiara Andalas menngungkapkan Perayaan Natal dalam konteks keluarga besar UGM yang hidup dalam keberagaman iman dan budaya maka Kasih Kristus menjadi dasar untuk menghadirkan harmoni, membangun persatuan, serta menumbuhkan sikap saling menghargai dan damai. Dengan begitu maka Natal dimaknai bukan sekedar perayaan, melainkan kesaksian iman yang nyata dalam kehidupan bersama.
Penulis : Agung Nugroho
