Aji Wikandaru (28), merupakan salah satu dari 10 lulusan program magister (S2) yang berhasil meraih nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00 pada wisuda program pascasarjana UGM, Rabu (21/1), di Grha Sabha Pramana. Selain berhasil meraih IPK sempurna, wisudawan Program Studi Magister Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian ini berhasil menyelesaikan studinya dalam waktu sekitar 1 tahun 10 bulan. Padahal dari total 825 lulusan magister, rerata masa studi adalah 2 tahun 2 bulan dengan IPK rata-rata 3,71.
Aji mengaku bersyukur bisa meraih IPK tertinggi sekaligus lulus kurang dari 2 tahun mengingat ia sempat mencicipi dunia kerja selama 3 tahun sebelum memutuskan melanjutkan magister (S2) di jurusan yang sama. “Setelah lulus saya sempat bekerja di perusahaan retail, lanjut ke manufaktur, dipindahtugaskan juga di berbagai area Jawa,” ujarnya, Selasa (27/1).
Untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister ini, ia harus rela kehilangan pekerjaannya. Namun dukungan dan restu orang tua, perjalanan kuliahnya berjalan lancar bahkan ia sempat mengikuti program Student Exchange ke Thailand di Kasetsart University Bangkok, sekaligus magang di GS1 Thailand, International Conference di Jepang, serta pengalaman menjadi student auditor bersama ASIIN untuk audit Universitas Padjadjaran di Bandung.
Selama menempuh pendidikan, ia pun berkesempatan menyalurkan hobinya berolahraga, khususnya basket. Ia bercerita masih aktif bermain dan bahkan tergabung dalam tim basket pascasarjana pada ajang Porsenigama 2024 dan 2025, yang menjadi penutup perjalanan studinya. “Saya tidak menyangka. Ketika kita berani mengambil risiko untuk berbuat lebih baik dan mengembangkan diri,” pesannya.
Bahkan selama berkuliah S2, ia bertemu dengan banyak orang memberikan banyak sekali pelajaran. Interaksi dengan beragam karakter membuatnya mengakui empatinya semakin terasah. Menurutnya, empati menjadi bagian penting dalam membentuk karakter untuk mendampingi dan menguatkan pencapaian.
Kendati sibuk dengan beragam aktivitas perkuliahan dan ikut pertukaran mahasiswa, ia berterus terang tidak menyangka bisa membawa pulang predikat pujian saat prosesi wisuda. Menurutnya, usaha di magister ini sangat dinikmati karena membawa prinsip amanah atas tanggung jawab yang sedang dikerjakan. Disertai keseriusan, ikhtiar, doa, dan yang terpenting ialah ketulusan. “Kalau kita tidak ada rasa tulus, ego itu tidak siap untuk gagal. Kalau kita udah bisa usaha itu tetap selalu siapkan sisa ruang untuk legowo,” ungkapnya.
Selain itu, kata Aji, sebuah pokok juga ialah menyiapkan timeline seperti targetnya yang lulus Oktober lalu. Namun, ujian datang ketika ia sedang memulai melakukan riset disertai cedera kaki ACL (putus ligamen lutut) yang pemulihannya memakan waktu kurang lebih 6 bulan sehingga mengharuskan rencana kelulusan dan wisuda mundur.
Di bidang riset, Aji mengambil tesis soal pengembangan aplikasi simulasi pergudangan agroindustri menggunakan Virtual Reality. Ia berkolaborasi dengan mahasiswa Teknologi Informasi, menciptakan aplikasi untuk mahasiswa belajar sistem pergudangan. Ditujukan untuk edukasi, Aji menjelaskan sistem ini memungkinkan aktivitas pergudangan di dunia nyata seperti inbound, process, dan outbound barang melalui teknologi VR.
Terkait kelancaran studi dan penulisan tesisnya, Aji mengaku ia banyak ditopang dari bekal pengalaman praktik kerja dalam memahami tantangan nyata. Menurutnya, pengalaman tersebut membuat proses pembelajaran menjadi lebih hidup karena tercipta diskusi dua arah antara mahasiswa dan dosen. “Mahasiswa datang dengan persoalan nyata yang pernah mereka hadapi, diskusinya akan lebih mengalir,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pendidikan adalah investasi jangka panjang karena membentuk pola pikir, karakter, dan kemampuan menyelesaikan masalah yang dibutuhkan di dunia kerja. Namun, teori saja tidak cukup sehingga pengalaman lapangan seperti magang, kerja paruh waktu, atau organisasi menjadi bekal penting untuk memahami realitas kerja. Karena itu, menurutnya mahasiswa perlu terbuka terhadap dinamika dan tantangan agar berani keluar dari zona nyaman dan terus berkembang.
Penulis : Hanifah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Pribadi Aji Wikandaru
