Perjalanan bisnis sesorang bisa dimulai dari hal sederhana. Begitu pun Herdiana Dewi Utari, S.Si, pemilik usaha teh herbal Dewiti ini telah terbiasa berjualan sejak di bangku kuliah Fakultas Geografi UGM hingga setelah menikah. Meski menjadi ibu rumah tangga, ia tetap melanjutkan rintisan usaha teh herbal. Selain bisa menopang ekonomi keluarga, kegemarannya berwirausaha pun terus bertumbuh secara alami hingga akhirnya bisa menciptakan produk herbal yang kini telah menjangkau pasar nasional bahkan internasional. “Semua bermula dari kepedulian terhadap kebutuhan ibu-ibu rumah tangga. Itu yang menjadi awal ide bisnis,” ungkapnya saat wawancara di Kampus UGM, Jum’at (20/2).
Herdiana Dewi Utari, S.Si., alumni Universitas Gadjah Mada Fakultas Geografi Program Studi Kependudukan dan Tenaga Kerja angkatan 1991 merupakan pemilik CV Dewi Makmur, sebuah UMKM yang memproduksi aneka olahan teh herbal dengan merek dagang DEWITI. Herdiana mengaku semangat kewirausahaan yang ia miliki tidak lahir dari ruang kelas bisnis, namun bermula karena kepedulian dan keberanian membaca peluang pasar.
Di awal merintis usaha olahan teh herbal, Herdiana mengaku dilatarbelakangi seringkali memperhatikan kebiasaan anak-anak yang gemar mengonsumsi minuman ringan berwarna, berperasa, dan mengandung pemanis serta pengawet. Dari pengamatan itulah muncul ide bisnis, dan disaat bersamaan tengah popular tren minuman berbahan bunga rosela. Iapun lantas mencoba membuat berbagai olahan rosela untuk konsumsi keluarga berupa teh rosela, sirop, selai, hingga manisan. “Senang karena ada respons dari anak-anak, dan ini menjadi titik balik penting. Produk rosela ini disukai karena rasanya segar, warna merah cerah, dan rasa manisnya berasal dari gula asli,” terangnya.
Membaca dari berbagai literatur mengenai manfaat rosela semakin memantapkan langkah Herdiana membuat produk herbal ini. Hal itu semakin memperkuat keyakinannya bahwa produk herbal ini memiliki potensi pasar yang luas, dan iapun mulai menata langkah secara lebih serius. Di awal, ia fokus membangun usaha ini secara rumahan, dan ia memilih minuman herbal disamping untuk memenuhi kebutuhan keluarga, produk ini dinilainya layak untuk dipasarkan secara profesional.
Herdiana bercerita CV Dewi Makmur mulai menjalankan usaha pada Juni 2008, dan di saat itu proses produksi masih dilakukan dengan menggunakan peralatan manual dan hanya memproduksi satu jenis produk, yaitu rosela. Seiring meningkatnya pasar dan permintaan konsumen maka usaha ini mengalami perkembangan pesat, dan di tahun 2010 ia membentuk merek dagang DEWITI. Untuk memperkuat legalitas usaha iapun mengupayakan usahanya berbadan hukum CV.
Dalam dunia usaha, langkah tersebut dinilai sebagai fase penting dalam profesionalisasi bisnis karena legalitas bukan sekadar formalitas, melainkan pondasi untuk ekspansi pasar, sertifikasi, dan penguatan kepercayaan konsumen. Produk DEWITI pun semakin berkembang. Ada sembilan jenis produk herbal yang dihasilkan antara lain Teh Rosella, Teh Kulit Manggis, Teh Daun Sirsak, Teh Jati Cina, Angkak, Wedang Uwuh, Teh Sarang Semut, Teh Daun Kelor, dan Teh Sereh Wangi / Teh Sereh Jahe. “Berbagai varian ini tentu menjadi bukti bahwa kami CV Dewi Makmur mampu membaca kebutuhan pasar sekaligus mengembangkan diversifikasi produk berbasis herbal lokal,” terangnya.
Dengan penuh syukur, Herdiana menuturkan salah satu pencapaian penting CV Dewi Makmur adalah kontribusinya sebagai pelopor teh herbal celup di Yogyakarta. Dia bercerita di tahun 2008, produsen teh herbal celup masih sangat sedikit. Tercatat, di tahun-tahun itu CV Dewi Makmur menjadi salah satu dari dua produsen di Yogyakarta yang memproduksi teh herbal dalam bentuk celup, dan CV Dewi Makmur tercatat sebagai produsen pertama yang memasarkan produk teh herbal celup ke retail modern dan toko oleh-oleh.
“Saat pesaing sejenis masih didominasi produk dari Jakarta dan Jawa Timur, CV Dewi Makmur mampu mengisi ruang pasar di Yogyakarta dengan produk lokal yang berkualitas. Strategi penetrasi pasar ini memperlihatkan jika kekuatan UMKM tidak selalu bergantung pada skala modal, tetapi lebih pada ketepatan membaca momentum, inovasi produk, serta keberanian membuka jalur distribusi baru,” paparnya.
Perjalanan tidak selalu mulus. Tantangan besar dihadapi CV Dewi makmur saat pandemi Covid-19 melanda di tahun 2020. Meski produk herbal sempat booming, kondisi pasar di masa covid tidak serta-merta menguntungkan. Bahkan di awal pandemi, bisnis CV Dewi Makmur justru mengalami over stock, akibat penutupan toko retail modern dan toko oleh-oleh. Produk yang rutin diproduksi tidak laku karena persepsi pasar bergeser. “Masyarakat lebih mengenal produk herbal yang identik dengan istilah empon-empon corona sehingga terjadi perubahan tren permintaan,” imbuhnya.
CV Dewi Makmur pun lantas melakukan respons adaptif yang cepat. Melihat permintaan pasar lantas mulai memproduksi rempah-rempah dengan komposisi khas. Produk inipun kemudian dipasarkan dengan nama Wedang Jangkep. Tidak sekedar mengikuti tren, produk ini dibuat dengan belajar banyak dari studi literatur. “Produk Wedang Jangkep ini dengan komposisi rempah ini sesungguhnya telah dikenal sejak masa nenek moyang dan memiliki manfaat untuk meningkatkan imunitas tubuh,” ungkapnya.
Herdiana pun mengakui kemampuan beradaptasi inilah yang kemudian menjadi salah satu indikator UMKM bisa tangguh. UMKM yang mampu membaca krisis, merespons dengan inovasi, dan mengelola ulang arah produksi sesuai perubahan perilaku konsumen. Selain itu, dalam pengembangan produk, CV Dewi Makmur juga menaruh perhatian besar pada aspek legalitas, sertifikasi, dan standar mutu. Produk DEWITI telah memiliki Sertifikat MUI, Standar kesehatan dari dinas kesehatan setempat, dan Sertifikat UKOT (Usaha Kecil Obat Tradisional). Pencapaian tersebut tentu menanadai CV Dewi Makmur tidak hanya mengandalkan kualitas rasa atau popularitas herbal, namun sekaligus membangun kredibilitas melalui jalur sertifikasi resmi.
Diluar produk bermerek DEWITI, CV Dewi Makmur juga melayani jasa maklun (toll manufacturing) untuk produk teh merek lain. Layanan yang disediakan mencakup proses lengkap, mulai dari penyediaan bahan baku, pengolahan menjadi teh celup, hingga pengemasan dalam aluminium foil, inner box, dan karton box sampai produk siap dikirim. Tidak hanya itu, CV Dewi Makmur juga menyediakan penjualan berbagai rempah kering dan membuka peluang kunjungan wisata edukasi kesehatan, yang memperkuat fungsi usaha tidak hanya sebagai produsen tetapi juga sebagai sarana edukasi masyarakat.
Dari Yogyakarta, produk DEWITI berkembang meluas ke berbagai wilayah Indonesia. Distribusi produk telah menjangkau DI Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan, hingga Ambon dan Bali. CV Dewi Makmur pun berhasil memperluas pasar ke luar negeri hingga ke negara-negara seperti Malaysia, Korea Selatan, Jepang, bahkan Singapura.
Kisah Herdiana Dewi Utari menegaskan bahwa alumni UGM tidak hanya berkontribusi melalui jalur profesi formal, tetapi juga melalui wirausaha berbasis UMKM yang berdampak luas. Berangkat dari kepedulian keluarga, mampu berkembang melalui ketekunan, dan CV Dewi Makmur membuktikan bahwa UMKM dapat tumbuh menjadi entitas bisnis yang profesional, inovatif, dan berdaya saing. “Perjalanan ini juga menunjukkan bahwa UMKM bukan pilihan “cadangan”, melainkan pilihan strategis bagi alumni untuk menciptakan karya nyata, membuka peluang ekonomi, dan mengangkat potensi lokal menjadi produk bernilai tinggi,” tuturnya.
Penulis : Agung Nugroho
