Suasana haru mewarnai upacara pengukuhan Guru Besar Prof Zainal Arifin Mochtar di Balai Senat UGM, Kamis (15/1). Ruangan yang penuh sesak dipenuhi para undangan yang hadir, tiba-tiba hening dan sempat terhenti sejenak saat Zainal membacakan pidato penutup pengukuhan Guru Besarnya. Uceng, demikian ia akrab disapa, menyeka air matanya, teringat pesan ayahanda yang telah berpulang. Ia sedih dan terharu, sebab sosok lelaki yang selalu memberi semangat pada dirinya tidak bisa menyaksikan anaknya meraih gelar profesor di kampus Universitas Gadjah Mada.
Uceng mengenang perjalanan panjang pengabdian sekaligus janji kepada orang tuanya sebagai guru besar. Ia mengaku tahun 2017 merupakan masa paling sedih dalam hidupnya, ketika sang ayah berpulang.
Ia teringat dua janji yang pernah disampaikan. Pertama, mengurus dan merawat ribuan buku peninggalan sang ayah, yang kini telah ia tunaikan. Kedua, menuntaskan perjalanan akademiknya hingga meraih gelar guru besar, yang akhirnya terwujud kini.
Usai turun dari mimbar, tangis Uceng pun pecah dalam pelukan ibunda tercinta, Hj. Zaitun Abbas, menambah haru biru suasana pengukuhan. Ia merefleksikan perjalanan hidupnya yang penuh jatuh dan bangun, antara kekecewaan dan kegembiraan, itu semua sebagai bagian dari proses panjang yang ditempuh.
Baginya, pencapaian ini bukanlah ‘batu yang tiba-tiba jatuh dari langit’, meminjam istilah Pramoedya Ananta Toer. “Saya persembahkan terima kasih kepada banyak pihak yang telah memberi sumbangsih, baik langsung maupun tidak langsung, dalam langkah dan jejak saya hingga hari ini,” ucapnya.
Uceng yang lahir di Makassar, menyalakan kontribusinya di dunia hukum bukanlah jalan yang mudah. Perannya terus bergeser dan berkembang, sebagai anak, saudara, pelajar, mahasiswa, dosen, hingga pemuka pemikiran di ranah universitas, kebangsaan, dan dunia digital. Ia mengenang masa tumbuh kembangnya di sebuah rumah mungil di Makassar, tidak jauh dari Stadion Mattoangin. Di bawah atap seng rumah itulah, ia dan keluarganya berbagi kisah, kegembiraan, serta kesedihan dalam satu ikatan darah.
Pengalaman berorganisasi turut membentuknya, mulai dari menjadi Ketua OSIS Smansa Makassar, Ketua Senat Fakultas Hukum UGM, hingga aktif di berbagai komunitas dan lembaga. Ia pernah terlibat di Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat Korupsi), Pandheka FH UGM, Cakshana Institute, Kemitraan, hingga menjadi anggota Dewan Pengawas Masjid di lingkungan tempat tinggalnya, serta lain-lain.
Perjalanan intelektual Uceng dimulai sejak dini. Ia kerap “berkeliling” berbagai forum seperti seminar, lokakarya, diskusi, focus group discussion, hingga acara talk show dan siaran televisi, bahkan sejak hampir dua dekade lalu. “Di situlah saya bertemu tokoh, pemikir, dan orang-orang cerdas yang membantu menimbun informasi serta pengetahuan dalam diri saya,” tuturnya.
Perjalanan pendidikan tingginya dimulai pada 2003 saat menyelesaikan Sarjana Hukum di UGM. Ia kemudian meraih gelar Master of Laws (LL.M.) dari Faculty of Law, Northwestern University, Chicago, Amerika Serikat, pada 2006, dan menyelesaikan studi doktoral di Fakultas Hukum UGM pada 2012.
Uceng sempat menjabat sebagai Ketua Departemen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum UGM (2021–2025). Selain itu, ia aktif dalam berbagai posisi strategis nasional, antara lain sebagai Wakil Ketua Komite Pengawas Perpajakan Kementerian Keuangan RI (2023–2025), anggota Tim Penyelesaian Non-Yudisial Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu (2022–2025), serta pernah tergabung dalam Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (2020), dan lainnya.
Dalam lima tahun terakhir, ia menggeluti belasan penelitian, menulis jurnal, dan puluhan publikasi, menyusun tiga buku bunga rampai, lima buku tunggal, serta meraih tujuh penghargaan. Namanya juga dikenal publik melalui garapan film dokumenter Dirty Vote: Sebuah Desain Kecurangan Pemilu 2024, yang mengangkat analisis kritis terhadap proses pemilu dan mempertegas posisinya sebagai intelektual yang bersuara berbasis data dan fakta.
Uceng menegaskan bahwa menjadi profesor, baginya, relatif hanya persoalan administratif, sementara sikap, tanggung jawab intelektual, dan keberpihakan pada kepentingan publik justru jauh lebih berat. Ia berharap para profesor dapat menjadi intelektual organik, tidak harus selalu tampil langsung di ruang publik, tetapi mampu memberdayakan dan menguatkan pengetahuan masyarakat, terutama di tengah situasi pembodohan dan pembiaran yang kian terasa sistematis. “Tanggung jawab kita kelak akan ditagih. Dari sanalah akan ditentukan Indonesia akan menjadi seperti apa, suatu saat kelak. Karena kepada-Nya kita meminta dan kepada-Nya kita semua berserah diri” ujarnya menutup pidato.
Menjadi salah satu teman diskusi, Ganjar Pranowo turut memberikan kesan bahagia atas pengukuhan Uceng. Ia mengapresiasi ruang gerak Uceng sebagai profesor maupun aktivis yang menyuarakan kebenaran berdasarkan data fakta secara keilmuan. “Mudah-mudahan amanah ini akan terus terbawa menjadi sikap intelektual yang organik,” pesan bahagianya.
Disambut pula oleh Jusuf Kalla yang mengungkap harapan pemikiran Uceng bermanfaat untuk kemajuan bangsa ini menuju jalur yang benar dalam berdemokrasi. “Ya, ini negara demokrasi, orang masyarakat kepada wakil itu tentu diharapkan memberikan suatu kritikan apabila dibutuhkan,” jelasnya.
Eddy O.S Hiariej disinyalir oleh Uceng sebagai saudara, teman, sekaligus musuh debat turut memberikan selamat atas gelar barunya. “Hari ini saya sangat bahagia dan bangga. Saya yakin bahwa gelar guru besar yang dimiliki oleh Prof. Uceng itu akan barokah untuk kemajuan pengetahuan hukum dan untuk pembangunan sistem hukum di negara kita,” ucapnya.
Penulis : Hanifah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto
