Zufa Pasha Sabina (22), merupakan satu-satunya dari 1.201 lulusan program sarjana (S1) yang berhasil meraih nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00 pada wisuda program sarjana UGM, Rabu (25/2), di Grha Sabha Pramana. Selain berhasil meraih IPK sempurna, wisudawan Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) ini berhasil menyelesaikan studinya dalam waktu sekitar 3 tahun 6 bulan. Padahal rerata masa studi lulusan sarjana adalah 4 tahun 2 bulan dengan IPK rata-rata 3,53.
Zufa mengaku senang dan tidak menyangka menjadi satu-satunya yang mengantongi predikat sempurna. Sebab menurutnya, kegiatan di prodi sudah sangat padat sebagaimana ujian setiap satu bulan, tugas yang terus menerus, serta kegiatan di luar akademik yang ia jajali. “Sempat ada magang di luar. Nah, awalnya pun agak pesimis untuk mendapat nilai segitu, tetapi seiring berjalannya waktu ternyata bisa juga,” ungkapnya, Kamis (26/2).
Berangkat dari kota asal Kebumen, Zufa membawa mimpinya menjadi besar di bidang medika. Ia menilai program studi yang diambilnya mempunyai andil besar di masyarakat seiring dengan keilmuan yang berkelanjutan. Menurutnya, ilmu kesehatan akan terus berkembang dan perlu dipelajari. Seiring dengan hal ini, ia sedang melanjutkan belajarnya di program profesi ners selama kurang lebih satu tahun ke depan. Serta tugas akhir yang dikembangkan adalah penyusunan video edukasi tentang preeklampsia pada ibu hamil dengan judul “Pengembangan Media Edukasi Video Preeklampsia Pada Ibu Hamil”.
Memupuk pengalamannya di keperawatan, ia menyebut sempat magang di PSC 119 YES (Public Safety Center 119 Yogyakarta Emergency Services) selama tiga bulan. Zufa mengaku bersyukur pengalamannya ini membuka jejaring informasi tentang dunia kesehatan, klinis, serta kedaruratan. “Jadi aku benar-benar terjun ke lapangan di prehospital. Banyak banget pelajaran yang dapat diambil di situ tentang kedaruratan,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Zufa menceritakan bahwa kesibukan di akademik sedikit banyak membuatnya lelah. Namun, ia menekankan dukungan dari keluarga dan teman-teman selalu berhasil menguatkannya. Ia berterus terang menceritakan kebiasaan sederhananya bercakap dengan sang ibu di tiap malam via telepon sebagai kegiatan rutin. Usai menelpon Ibu, Zufa mengaku selalu mendapat motivasi dan petuah sehingga ia selalu bersemangat dalam menjalankan aktivitas kuliah di esok paginya. “Pokoknya setiap malam saya selalu menelpon ibu, senang rasanya kalau sudah mendengar suaranya, ” kenangnya.
Menyoal tentang strategi belajarnya, ia menyatakan tidak memasang target nilai sempurna, tetapi menganalisis pola akademik seiring berjalannya semester. Dari sana ia belajar menyesuaikan ekspektasi dan arah perjuangan. “Awalnya tidak ada target tertentu, tapi ketika sudah di pertengahan, kelihatan polanya. Yang penting nilainya tidak turun dan bisa tetap stabil,” tuturnya.
Ia juga menegaskan bahwa terkadang masih melewati rasa malas. Baginya, hal ini dapat ditanggapi dengan kemampuannya memilah prioritas, menentukan tugas yang perlu disegerakan atau dapat ditunda kemudian. Zufa menilai manajemen waktu sebagai kunci utama. Ia mengingatkan bahwa tanpa pengaturan waktu yang baik, seseorang akan kesulitan menentukan prioritas dan rentan merasa kewalahan.
Meski demikian, ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara belajar dan waktu beristirahat. Sebagai gantinya, ia lebih memilih pola belajar mencicil karena ujian datang hampir setiap bulan agar beban belajar tidak menumpuk di akhir. “Minimal sehari baca satu atau dua halaman saja itu sudah progres,” tambahnya.
Menurutnya, selalu ada ruang untuk berusaha lebih sungguh-sungguh, dan upaya itulah yang kerap menjadi pembeda antara satu orang dengan yang lain. Ia percaya bahwa konsistensi, sekecil apapun bentuknya, akan berbuah pada hasil jangka panjang. “Do your best you can, lakukan semaksimal mungkin, lakukan yang terbaik karena pasti ada ruang untuk berjuang maksimal,” ungkapnya.
Zufa juga mengingatkan bahwa nilai akademik pada akhirnya hanyalah angka, sebuah representasi dari proses, kerja keras, dan usaha yang telah dijalani. “Nilai itu bisa menunjukkan prosesmu, tetapi jangan sampai membuatmu lupa untuk tetap rendah hati, membumi, dan tidak sombong,” tutupnya.
Penulis : Hanifah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Pribadi Zufa
