Pasangan suami istri dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UGM dikukuhkan bersama sebagai Guru Besar pada Kamis (4/9) di Balai Senat Universitas Gadjah Mada. Kedua pasangan suami istri tersebut adalah Prof. Drs. Edi Winarko, M.Sc., Ph.D., yang dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Rekayasa Pengetahuan. Sedangkan sanga istri, Prof. Dra. Tutik Dwi Wahyuningsih, Ph.D., dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Kimia.
Pada upacara pengukuhan ini, keduanya menyampaikan ucapan terima kasih kepada kolega hingga pada pasangan masing-masing atas dukungan dan motivasi sehingga bisa meraih jabatan jabatan akademik tertinggi. “Ungkapan terima kasih yang paling tulus saya persembahkan kepada istri saya, Prof. Tutik Dwi Wahyuningsih, atas kasih sayang, dukungan, motivasi, serta pengertian yang senantiasa diberikan sepanjang perjalanan kehidupan dan karier saya,” kata Edi Winarko.
Sementara Tutik menyampaikan ungkapan yang sama pada suaminya. “Akhirnya, terima kasih yang sebesar-besarnya kepada suami tercinta, Prof. Drs. Edi Winarko, M.Sc., Ph.D. yang selalu memberikan ridho, doa, dan dukungan penuh dalam setiap langkah perjalanan karier ini. Dukungan dan pengertiannya menjadi sumber kekuatan yang memungkinkan saya untuk selalu terus berkarya,” katanya.
Pengukuhan dua guru besar ini tidak hanya menjadi bentuk pengakuan atas pencapaian akademik keduanya, tetapi juga menegaskan kontribusi FMIPA UGM dalam pengetahuan ilmu pengetahuan lintas disiplin, mulai dari ilmu kimia hingga kecerdasan buatan yang bermanfaat di masa yang akan datang.
Di dalam pidato pengukuhannya, Edi menyampaikan pidato yang berjudul “Data Berkualitas, AI Berdaya: Pentingnya Pendekatan Data-Centric dalam Penerapan kecerdasan Buatan di Dunia Nyata”. Prof. Edi mengangkat isu fundamental dalam perkembangan kecerdasan buatan, yakni pergeseran paradigma dari pendekatan model-centric menuju data-centric AI.
Ia menjelaskan bahwa selama beberapa dekade terakhir, kemajuan kecerdasan buatan didorong oleh inovasi pada algoritma dan arsitektur model. “Sepanjang sejarah pengembangannya, kemajuan dalam kecerdasan buatan secara fundamental didorong oleh paradigma model-centric, di mana evolusi dicapai melalui inovasi pada algoritma dan arsitektur model,” paparnya.
Pendekatan ini telah menghasilkan berbagai terobosan penting dan luar biasa dalam beberapa dekade terakhir, mulai dari Convolutional Neural Network (CNN), Long Short-Term Memory (LSTM), hingga arsitektur transformer yang kini menjadi fondasi model kecerdasan buatan modern lintas fungsi.
Kendati demikian, ia menekankan bahwa fokus yang terlalu besar pada model ini menyisakan keterbatasan mendasar. Dalam praktiknya, banyak kegagalan sistem kecerdasan buatan justru disebabkan oleh kualitas data yang kurang memadai, bukan oleh kelemahan model itu sendiri. “Kinerja sistem kecerdasan buatan sangat bergantung pada kualitas data latih. Dua model yang identik dapat menghasilkan keluaran dan kualitas yang sangat berbeda jika dilatih dengan data yang berbeda,” jelasnya.
Ia mengilustrasikan hal ini melalui analogi sederhana dalam perancangan mobil balap berperfoma tinggi. Meskipun insinyur telah menyempurnakan segala komponen mobil dengan presisi tinggi, mesin secanggih apa pun tidak akan bekerja optimal tanpa bahan bakar yang berkualitas.
Lebih lanjut, ia juga menyoroti fenomena kesenjangan antara performa saat uji coba dan kondisi nyata di lapangan (operational gap) yang menjadi bukti nyata bahwa adanya keterbatasan sistem kecerdasan buatan saat ini. Model yang tampak unggul dalam pengujian sering mengalami penurunan performa saat dihadapkan pada data dunia nyata yang naik turun akibat distribution shift dan domain drift.
Sebagai respons atas tantangan tersebut, muncul paradigma data-centric AI dalam pengembangan AI, yang menempatkan data sebagai pusat pengembangan sistem kecerdasan buatan. “Data-centric AI tidak menggantikan model-centric AI, melainkan melengkapinya. Pengembangan AI modern memerlukan rekayasa model dan rekayasa data yang berjalan secara paralel,” ujarnya.
Dalam pendekatan ini, data tidak lagi dipandang sebagai sumber daya yang tetap, melainkan sebagai aset yang harus terus diperbaiki melalui proses pengumpulan, pelabelan, dan kurasi yang berkelanjutan. “Data merupakan fondasi utama kecerdasan buatan. Melalui pendekatan yang berpusat pada data, sistem AI yang lebih akurat dan dapat dipercaya dapat dibangun,” ungkapnya.
Di akhir pidatonya, Prof. Edi menegaskan bahwa masa depan kecerdasan buatan tidak hanya bergantung pada kecanggihan model, tetapi juga pada kemampuan mengelola data secara sistematis dan berkelanjutan untuk menghasilkan sistem yang lebih tangguh dan adaptif.
Sementara itu, Prof. Tutik dalam pengukuhannya menyampaikan pidato yang bertajuk “Pirazolina sebagai Platform Molekul Multifungsi: Sintesis, Aktivitas Antikanker, dan Aplikasinya sebagai Kemofluorosensor Selektif”. Melalui orasinya ini, Tutik menyoroti manfaat senyawa pirazolina sebagai platform “bahan” atau molekul multifungsi yang memiliki potensi besar dalam bidang kesehatan dan teknologi sensor.
Tutik menegaskan bahwa sintesis organik adalah sebuah fondasi penting untuk mengembangkan molekul modern. “Sintesis organik merupakan proses pembentukan molekul organik berbasis karbon secara bertahap dan terencana melalui reaksi kimia yang terkontrol,” ujarnya.
Baginya, bidang ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menuntut kreativitas tinggi dalam perancangan molekul. Bahkan, ia mengibaratkannya sebagai sebuah arsitektur yang membutuhkan pemahaman mendalam terkait interaksi antaratom demi menghasilkan struktur yang diinginkan. “Sintesis organik sering dianalogikan sebagai architecture of the molecular world karena menuntut kreativitas dalam perancangan molekul,” jelasnya.
Lebih lanjut, Tutik menjelaskan bahwa melalui pendekatan sintesis organik, para peneliti dapat merancang hingga memodifikasi struktur molekul untuk meningkatkan aktivitas biologis, selektivitas terhadap sel target seperti sel kanker, dan menekan efek toksik terhadap sel normal. Pendekatan ini menjadi hal yang krusial dalam pengembangan obat yang lebih efektif dan aman.
Ia memfokuskan penelitiannya pada senyawa heterosiklik pirazolina yang memiliki struktur cincin yang mengandung atom hetero, seperti nitrogen, oksigen, atau sulfur. Struktur yang memiliki karakteristik tersebut ini memberikan sifat elektronik yang unik dan memungkinkan berbagai aktivitas farmakologis. “Pirazolina merupakan senyawa heterosiklik dengan cincin lima anggota yang mengandung nitrogen. Dan itu menjadikannya memiliki berbagai aktivitas farmakologis, seperti antimikroba, antikanker, antiinflamasi, dan antioksidan,” paparnya.
Dalam konteks universal, Tutik menyoroti bagaimana tantangan pengobatan kanker yang efektif, terutama kebutuhan akan terapi kanker. Ia menjelaskan bahwa walaupun saat ini kemoterapi masih menjadi metode andalan dan utama di dalam pengobatan kanker, terapi tersebut juga memiliki tantangan seperti resistensi obat akibat mutasi DNA dan rendahnya selektivitas masih menjadi persoalan utama kegagalan kemoterapi dalam melawan kanker.
Melalui risetnya, Tutik menunjukkan bahwa substituen pendonor elektron, seperti kloro, metoksi, dan dimetilamino memiliki aktivitas sitotoksik yang menjanjikan terhadap berbagai sel kanker, sekaligus membuka peluang untuk pengembangan obat dengan efek samping yang lebih rendah.
Selain sebagai kandidat obat, pirazolina juga memiliki potensi sebagai kemofluorosensor. Sifat fluoresensinya memungkinkan deteksi zat tertentu secara sensitif dan selektif. “Sifat fluoresensi alami dari pirazolina menjadikannya kandidat yang menarik sebagai fluorofor dalam sistem kemofluorosensor,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa teknologi ini memiliki aplikasi luas, mulai dari pemantauan lingkungan hingga diagnosis medis. Namun demikian, pengembangannya masih menghadapi berbagai tantangan. “Senyawa turunan pirazolina memiliki prospek yang menjanjikan di dalam pengembangan obat antikanker maupun kemofluorosensor. Namun, masih menghadapi beberapa tantangan, antara lain optimasi selektivitas dan pemahaman mekanisme interaksi molekuler,” pungkasnya.
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto
