Persoalan kemiskinan struktural masih dihadapi masyarakat Kalurahan Bumirejo, Kulon Progo. Sekitar 70% dari 9.000 warga masyarakat masih bergantung pada bantuan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kondisi tersebut juga dipengaruhi ketidakpastian pendapatan karena sebagian besar masyarakat bekerja di sektor informal. Di sisi lain, Bumirejo memiliki potensi pertanian yang cukup besar, salah satunya komoditas jagung. Selama ini, jagung masih banyak dijual dalam bentuk mentah dengan harga yang fluktuatif.
Kondisi tersebut mendorong sekelompok mahasiswa UGM yang tergabung dalam Tim PPK Ormawa Keluarga Mahasiswa Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (Kapstra) mengembangkan diversifikasi produk berbasis jagung dengan pendekatan ekonomi sirkular dan zero waste. Beberapa produk yang dikembangkan dalam bentuk keripik jagung, sereal jagung, teh serabut jagung, dan briket bonggol jagung.“Terdapat potensi pertanian melimpah, yaitu jagung. Jagung biasanya dijual secara mentah dengan harga yang fluktuatif,” ujar Koordinator Kiara Nadya, Kamis (27/8).
Kiara menuturkan tim Kapstra menginisiasi program Synergy Corn Innovation for Rural Empowerment (Syncorn) dalam memperkuat pemberdayaan masyarakat, peningkatan kapasitas, penguatan kelembagaan, hingga perluasan akses pasar. Pengembangan usaha tersebut dilakukan melalui Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang melibatkan sejumlah kelompok masyarakat di Kalurahan Bumirejo. Kelompok yang terlibat di antaranya Kelompok Tani (KT), Kelompok Wanita Tani (KWT), Kelompok Disabilitas Kalurahan (KDK), Bina Keluarga Remaja (BKR), dan Karang Taruna.
Selain itu, tim mengajak mahasiswa dari sejumlah program studi di UGM untuk terlibat sebagai relawan. Diantaranya UKM Peduli Difabel juga menjadi mitra pendampingan bagi KDK yang tergabung dalam KUB Syncorn. Kolaborasi tersebut dilakukan seiring meningkatnya kapasitas produksi masyarakat. “Kehadiran relawan dan mitra diharapkan dapat membantu proses produksi berjalan lebih efektif sekaligus mendukung pendampingan kelompok,” ujarnya.
Selain penguatan dari sisi eksternal, tim juga melakukan monitoring dan evaluasi bersama melalui kegiatan coaching bersama Belmawa. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk melaporkan perkembangan program sekaligus memperoleh masukan bagi perbaikan pelaksanaan kegiatan.
Serangkaian agenda juga dilakukan sebagai pelengkap, seperti konsultasi bersama PLUT KUMKM Yogyakarta dan Dinas Kesehatan Kulonprogo terkait legalitas produk, serta diskusi kolaboratif bersama Rumah Zakat Yogyakarta sebagai mitra. Agenda lainnya juga berbentuk upaya pengenalan program dan pemasaran produk untuk memperluas exposure melalui penjualan daring menggunakan live shopping Tiktok dan luring dalam pop-up store Perayaan Jumat Sore yang bertempat di GIK UGM.
Salah satu tantangan yang dihadapi tim dalam pengembagnan Syncorn ini, Kiara mengungkapkan bahwa penyusunan legalitas menjadi salah satu kendala. Tahapan pengurusan yang cukup kompleks serta server yang kerap mengalami gangguan sempat menghambat proses tersebut. Namun, setelah berkolaborasi dengan Rumah Zakat, LP3H UINSUKA, dan LPPT UGM, pengurusan legalitas dapat berjalan lebih lancar. “Setelah konsultasi dan bermitra dengan Rumah Zakat, LP3H UINSUKA, dan LPPT UGM, pengurusan legalitas jadi lebih mudah karena ada pendampingan,” ungkapnya.
Menuju Kemandirian KUB
Setelah dua bulan pelaksanaan, Syncorn menunjukkan perkembangan pada kapasitas produksi dan kemampuan masyarakat dalam mengelola usaha. Aktivitas produksi berlangsung lebih konsisten dengan kapasitas yang meningkat, sementara penerapan quality control mulai diperkuat. “Proses administrasi dan legalitas sejumlah produk juga telah memasuki tahap akhir. Perkembangan tersebut menjadi salah satu modal bagi KUB untuk melanjutkan kegiatan usaha setelah program berakhir,” katanya.
Setelah memasuki exit strategy, Tim PPK Ormawa KAPSTRA berharap KUB Syncorn dapat terus berkembang tanpa bergantung pada pendampingan tim. Keberlanjutan tersebut diharapkan dapat memberikan dampak terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat Bumirejo. “Setelah exit strategy, kami berharap KUB dapat terus berjalan secara mandiri dan berkembang lebih baik untuk mengasilkan perubahan yang lebih berkelanjutan bagi peningkatan pendapatan, kemandirian, dan kesejahteraan di Kalurahan Bumirejo,” kata Kiara.
Sukarni selaku Lurah Bumirejo sekaligus Ketua KUB Syncorn berharap produk olahan jagung yang dikembangkan melalui program tersebut dapat menjadi identitas bagi wilayahnya. Menurutnya, produk seperti keripik jagung, sereal jagung, teh serabut jagung, dan briket bonggol jagung dapat memperkenalkan potensi jagung lokal kepada masyarakat yang lebih luas.“Semoga produk dapat menjadi ikon Kalurahan Bumirejo,” ujar Sukarni.
Rangkaian kegiatan pada Juli menjadi bagian dari proses membangun kemandirian masyarakat melalui penguatan kapasitas, kelembagaan, produksi, legalitas, dan pemasaran. Dengan kolaborasi yang terus diperluas, Syncorn diharapkan dapat berkembang menjadi ekosistem usaha masyarakat yang mandiri, inklusif, dan berkelanjutan di Kalurahan Bumirejo.
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Kapstra
