Berkendara di manapun tetapkah harus menggunakan kelengkapan keselamatan berkendara dan mematuhi rambu-rambu lalu lintas, termasuk saat berkendara di lingkungan kampus maupun kompleks perumahan. Pasalnya, masih banyak ditemukan pengendara yang tidak menggunakan helm, kelengkapan berkendara yang tidak sesuai, berbonceng tiga, atau main ponsel saat berkendara.
Pengamat transportasi UGM Prof. Ir. Siti Malkhamah, M.Sc., Ph.D. menyebutkan korban yang meninggal dunia akibat kecelakaan berkendara didominasi kelompok usia muda termasuk mahasiswa dan pelajar dengan persentase 81% dan 68% diantaranya tidak memiliki Surat Izin Mengendara (SIM). Maka dari itu diperlukan upaya peningkatan literasi keamanan berkendara untuk tingkat perguruan tinggi. “Diperlukan manajemen mengatur kecepatan kendaraan sangat penting untuk menghindari kecelakaan. Komunikasi antara jalan dan pejalan kaki itu sangat penting,” tegasnya Siti dalam keterangan kepada wartawan terkait hasil Seminar Rabuan dengan tema Safety Riding in Campus Environment: Policy, Practice and Future Direction , Jumat (27/2).
Selain kelengkapan berkendara dan sikap kehati-hatian, disiplin dalam mematuhi aturan rambu lalu lintas dan marka sangat diperlukan. Menurutnya, penerapan teknologi seperti pembatasan kendaraan, penggunaan sepeda kampus, dan integrasi angkutan umum kota dengan kampus bisa menarik orang untuk menggunakan transportasi publik dan selalu aman dalam berkendara terutama di dalam kampus. “Saya sangat optimis meskipun tidak mudah dan tidak bisa sendiri. itu harus kolaborasi di berbagai negara. Pada negara maju tingkat keselamatan tinggi karena kolaborasinya sangat bagus,” ungkapnya.
Sugiyanta, S.Sos., M.A., selaku Kepala Kantor Keamanan, Keselamatan Kerja, Kedaruratan dan Lingkungan (K5L) UGM menyebutkan kampus menjadi prioritas dalam kampanye keselamatan berkendara. Sebab, kampus merupakan ekosistem dengan populasi dengan usia produktif antara usia 15 – 29 tahun dan memiliki mobilitas tinggi selama aktivitas di dalam kampus. “Menciptakan lingkungan yang aman dan sehat merupakan tanggung jawab institusi,” katanya.
Ia mengutip data tahun 2025 menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan 7,7 kali lipat jumlah kecelakaan di UGM dari standar kampus sehat menurut AUN Asean University Network dan HPN. Menurutnya masih terdapat black spot lokasi kecelakaan di UGM yakni Jalan Persatuan, Jalan Pancasila, dan Jalan Agro. “Kejadian kecelakaan tidak hanya melibatkan masyarakat di dalam kampus itu sendiri, namun demikian masyarakat umum juga baik roda dua maupun roda empat,” ungkapnya.
Ia menyebutkan tantangan yang dihadapi yang pertama dalam kampanye keselamatan berkendara di dalam kampus adalah masih rendahnya kesadaran keamanan berkendara, infrastruktur seperti jalan conblok yang masih beresiko saat musim hujan, dan marka jalan yang sudah mulai memudar. “Saya kira peran masyarakat kampus yang di dalam UGM betul-betul harus diwujudkan,” tegasnya.
Petugas K5L menurut Sugiyanta berusaha hadir untuk membantu sivitas akademika apabila terjadi kecelakaan mulai dari penyelamatan di tempat kejadian hingga proses evakuasi korban serta membantu proses pengurusan jasa raharja. Disamping itu K5L UGM juga telah mengupayakan sosialisasi mencegah kecelakaan seperti pembatasan kecepatan di kampus, pemasangan water barrier, dan pemasangan CCTV di sejumlah titik di UGM. “Bagi kita, keselamatan warga kampus jadi prioritas,” ungkapnya.
Sementara Ketua Health Promoting University (HPU) UGM Prof. Yayi Suryo Prabandari, mengungkapkan memang tidak mudah merubah perilaku seseorang yang sudah menjadi kebiasaan untuk mengajak ke arah yang lebih baik seperti memperkuat edukasi keselamatan berkendara. “Memang akan bisa mengubah karena usaha untuk perubahan perilaku itu memang mulai dari niatnya dulu,” ungkapnya.
Akan tetapi, Ia menambahkan bahwa niat saja tidak cukup, diperlukan keterampilan dalam mengelola reaksi emosi. “Kalau tadi ada survei rasa aman. Saya merasa aman kalau saya menggunakan pelindung diri sehingga itu akan menguatkan niat,” tuturnya.
Perubahan hanya bisa dimulai dari masing-masing individu yang bertanggung jawab baik terhadap diri sendiri maupun orang di sekitarnya yang mana juga didukung dengan dengan pembuatan sistem pendisiplinan pengendara. “UGM bersama sejumlah kampus di Indonesia dan Asia Tenggara telah merumuskan konsep kampus sehat. Nah, salah satu strategi yang kita gunakan memang strategi heal health promotion international,” ungkapnya.
Beberapa rumusan tersebut meliputi kebijakan kampus yang berwawasan kesehatan, menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan, memperkuat komunitas kampus untuk bisa memiliki aksi untuk kesehatan, mengembangkan keterampilan personal, dan reorientasi pelayanan kesehatan.
Penulis : Jelita Agustine
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Freepik
