Tim Mahasiswa Program Studi Magister Keperawatan (PSMK) Universitas Gadjah Mada terlibat langsung dalam respons bencana banjir yang melanda Kabupaten Aceh Utara pada akhir November 2025. Keterlibatan ini menjadi bagian dari pengiriman Tim Emergency Medical Team (EMT) Academic Health System (AHS) UGM yang berkolaborasi dengan jejaring rumah sakit dan dinas kesehatan setempat. Kehadiran tim diharapkan dapat memperkuat layanan kesehatan dasar serta mendukung koordinasi penanganan bencana di wilayah terdampak.
Dalam misi kemanusiaan tersebut, dua mahasiswa PSMK UGM peminatan Gawat Darurat dan Bencana, Hamka Abdi Kusuma, S.Kep., Ns. dan Berliando Toro Betty Runesi, S.Kep., Ns., diterjunkan secara bergiliran dalam tim EMT AHS UGM. Penugasan tim EMT AHS UGM mencakup dukungan layanan kesehatan di rumah sakit rujukan, puskesmas, hingga posko pengungsian. Selain memberikan layanan medis, tim juga membantu penguatan sistem manajemen bencana kesehatan di tingkat daerah. Hamka menjelaskan kondisi lapangan yang dinamis menuntut kesiapsiagaan dan kemampuan adaptasi tinggi dari seluruh personel yang terlibat. “Di lapangan kami tidak hanya fokus pada pelayanan klinis, tetapi juga memastikan sistem rujukan dan koordinasi berjalan agar kebutuhan kesehatan warga bisa tertangani,” ungkapnya, Rabu (4/2).

Dalam pelaksanaannya, tim menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan listrik dan air bersih hingga akses menuju lokasi pengungsian yang terputus akibat banjir. Hamka yang bertugas di tim dua sekaligus menjadi perawat yang mendampingi dokter, berujar situasi ini menuntut pengambilan keputusan cepat serta kerja sama lintas profesi agar pelayanan tetap berjalan. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting dalam praktik keperawatan bencana di situasi nyata. “Kondisi keterbatasan justru melatih kami untuk lebih sigap, berpikir kritis, dan bekerja sebagai satu tim di tengah situasi darurat,” tuturnya.
Selain pelayanan kesehatan langsung, keterlibatan Hamka dan Berliando ini juga menjadi implementasi pembelajaran berbasis pengabdian masyarakat. Mahasiswa terlibat dalam sistem komando penanganan kesehatan, koordinasi lintas sektor, hingga pengelolaan data dan pelaporan lapangan. Hamka mengungkapkan proses ini memberikan pengalaman kontekstual yang tidak didapatkan di ruang kelas. “Kami belajar bagaimana teori manajemen bencana diterapkan secara nyata, dari pengambilan keputusan hingga pelaporan di lapangan,” ujar Hamka.
Pada batch ketiga penugasan, Berliando berperan dalam tim manajemen respons bencana. Ia terlibat dalam pendampingan aktivasi Health Emergency Operation Center (HEOC) Dinas Kesehatan Aceh Utara, termasuk pemetaan situasi, pendataan sumber daya EMT, dan koordinasi tim kesehatan di lapangan. Peran ini menjadi krusial untuk memastikan respons kesehatan berjalan terstruktur. “Pendampingan HEOC memberi kami gambaran utuh bagaimana sistem kesehatan daerah bekerja saat menghadapi krisis,” jelasnya.

Berliando juga turut mendampingi tim pelayanan kesehatan di lokasi pengungsian Lhok Puuk Kadus Barat yang terisolasi akibat rusaknya akses jalan. Tim harus menempuh perjalanan menggunakan perahu nelayan untuk menjangkau wilayah pesisir tersebut. Meski dihadapkan pada risiko cuaca dan keterbatasan logistik, pelayanan kesehatan tetap diupayakan menjangkau masyarakat. “Akses yang sulit tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan layanan, karena masyarakat di lokasi terisolasi justru paling membutuhkan pendampingan kesehatan,” ujarnya.
Keterlibatan mahasiswa Magister Keperawatan UGM dalam respons bencana banjir Aceh Utara ini menunjukkan peran perguruan tinggi dalam mendukung penanganan krisis kesehatan. Pengalaman lapangan tersebut memperkuat kompetensi mahasiswa dalam keperawatan gawat darurat dan bencana, sekaligus berkontribusi langsung bagi masyarakat terdampak. Melalui misi ini, UGM terus mendorong pembelajaran yang berpihak pada kemanusiaan dan kebutuhan nyata di lapangan. “Pengalaman ini menjadi bekal berharga bagi kami untuk terus berkontribusi dalam penanganan bencana di masa depan,” pungkas Berliando.
Reportase/Dokumentasi: Hamka Abdi Kusuma
Penulis: Triya Andriyani
