Tim Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada, Unit Kita Morotai, sukses menggelar Festival Rao Rayo 2026 di Desa Posi-Posi Rao, Kecamatan Pulau Rao, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, pada Kamis (5/2) silam. Festival tahunan ini mengusung tema “Celebrating Coastal Cultural Traditions” sebagai ruang perayaan budaya pesisir sekaligus penguatan identitas lokal. Kegiatan melibatkan lima desa, yakni Posi-Posi Rao, Saminyamau, Leo-Leo, Aru Burung, dan Lou Madoro. Rangkaian acara dipusatkan di area pelabuhan desa yang disulap menjadi panggung budaya terbuka. Kehadiran festival menjadi wujud kolaborasi mahasiswa KKN, pemerintah daerah, serta masyarakat dalam merawat tradisi secara berkelanjutan.
Dosen Pembimbing Lapangan KKN-PPM UGM Unit Kita Morotai, Ibu Atrida Hadianti, S.T., M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa festival ini tumbuh dari proses pendampingan lintas periode yang berfokus pada pemberdayaan berbasis budaya. Ia menilai ruang ekspresi seperti ini mampu memperkuat kohesi sosial sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif. Selama tiga periode KKN, mahasiswa dan warga membangun komunikasi yang intens untuk memastikan festival berjalan konsisten. Menurutnya, budaya pesisir menyimpan nilai sejarah dan filosofi yang relevan bagi pembangunan daerah. “Festival Rao Rayo ini bukan semata-mata untuk menarik wisatawan, melainkan perekat persaudaraan dalam melestarikan budaya sebagai representasi Bhineka Tunggal Ika,” kata Atrida, Kamis (12/2)

Apresiasi juga datang dari Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai yang melihat festival ini sebagai model sinergi akademisi dan masyarakat. Sekretaris Daerah Kabupaten Pulau Morotai, Muhammad Umar Ali, menilai keberlanjutan festival menunjukkan komitmen kolektif yang kuat. Ia menyebut konsistensi penyelenggaraan selama tiga tahun terakhir menjadi indikator keberhasilan pemberdayaan berbasis komunitas. Pemerintah daerah memandang inisiatif ini selaras dengan agenda penguatan identitas lokal dan pembangunan berkelanjutan. “Penyelenggaraan yang ketiga kalinya ini menunjukkan konsistensi dalam pembangunan dan pemberdayaan masyarakat,” ungkapnya.
Di tingkat kecamatan, dukungan terhadap festival juga ditegaskan sebagai upaya merawat kebanggaan generasi muda. Camat Pulau Rao, Sherly Tamadarage, menyampaikan bahwa budaya pesisir merupakan aset sosial sekaligus potensi ekonomi yang perlu dikelola secara serius. Ia menilai keterlibatan pemuda dalam pawai budaya dan kompetisi musik tradisional menjadi sinyal positif bagi regenerasi pelaku seni lokal. Festival dinilai mampu membangun rasa memiliki terhadap identitas daerah. “Budaya adalah warisan leluhur yang harus kita jaga dan wariskan kepada generasi muda agar semakin bangga terhadap identitasnya,” tuturnya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Pawai Budaya yang menampilkan busana adat dan tarian tradisional dari setiap desa. Suasana pelabuhan berubah menjadi ruang pertunjukan terbuka dengan iringan musik khas pesisir. Berbagai tari seperti Tari Petik Cengkih, Tari Toki Gaba, serta Tari Lesung turut dipentaskan sebagai representasi kehidupan masyarakat setempat. Kompetisi musik Yanger menjadi magnet utama dengan penilaian mencakup aransemen, vokal, pelafalan bahasa daerah, dan penghayatan panggung. Pada malam hari, pertunjukan Teater Budaya menghadirkan narasi sejarah dan kearifan lokal Pulau Rao yang dikemas secara dramatik.
Selain pertunjukan seni, festival turut menghadirkan pameran UMKM dari tiap desa. Produk kuliner khas, kerajinan tangan, hingga hasil olahan laut dipamerkan kepada pengunjung dan tamu undangan. Kegiatan ini membuka ruang promosi bagi pelaku usaha lokal sekaligus memperluas jejaring pemasaran. Dukungan berbagai mitra, termasuk sektor swasta dan BUMN, memperkuat penyelenggaraan acara. Melalui kolaborasi lintas sektor, Festival Rao Rayo diharapkan terus berkembang sebagai agenda tahunan yang inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat Pulau Rao.
Reportase/Dok: Tim KKN-PPM Kita Morotai
Penulis: Triya Andriyani
