Kemandirian finansial menjadi salah satu bagian penting dari upaya mendorong transformasi tata kelola perguruan tinggi. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu mampu mengidentifikasi potensi yang dimiliki dan mengembangkan sumber pendapatan secara berkelanjutan, namun tanpa mengabaikan prinsip tata kelola dan kepatuhan terhadap regulasi.
“Perguruan tinggi perlu melihat kembali potensi yang dimiliki, baik dari sisi aset, riset, inovasi, maupun kerja sama. Yang penting bukan sekadar menghasilkan pendapatan, tetapi bagaimana seluruh potensi tersebut dikelola dengan tata kelola yang baik dan dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan,” kata Rektor UGM periode 2014–2017, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D., saat mengisi pelatihan Akademi Kepemimpinan Pendidikan Tinggi (AKPT) Angkatan 1 Tahun 2026 di Balai Senat UGM, Kamis (24/9) .
Rita, demikian ia akrab disapa, menyampaikan optimisme terhadap upaya perguruan tinggi membangun kemandirian finansial. Menurutnya, perubahan perlu dimulai dari mindset dan budaya pengelolaan perguruan tinggi yang selama ini masih banyak bergantung pada dukungan pemerintah dan UKT. Di sisi lain, sejumlah perguruan tinggi telah mulai mengembangkan berbagai sumber pendapatan melalui pemanfaatan aset, teaching factory, teaching industry, serta human capital yang dimiliki.
“Saya masih optimis di tengah pesimisme. Memang perubahan mindset dan culture bukan hal yang mudah, tetapi dari diskusi ini sudah terlihat bahwa Bapak-Ibu Rektor dan Direktur mulai melakukan berbagai upaya untuk menambah dan menguatkan kemandirian anggaran,” ujarnya.
Ia juga melihat peluang perubahan yang lebih besar melalui generasi muda yang dinilai memiliki kecenderungan lebih kuat terhadap kewirausahaan. Menurutnya, upaya yang dilakukan perguruan tinggi saat ini dapat menjadi bekal bagi generasi berikutnya untuk mengembangkan institusi dengan pola pikir yang lebih mandiri dan inovatif. “Semoga apa yang Bapak-Ibu lakukan hari ini menjadi berkah awal untuk membekali generasi berikutnya yang lebih memiliki jiwa entrepreneur. Mungkin dalam lima atau sepuluh tahun ke depan, ceritanya akan berbeda. Para pemimpin berikutnya dapat melanjutkan dan mengembangkan apa yang sudah dimulai hari ini,” katanya.
Untuk menggali persoalan yang dihadapi perguruan tinggi, peserta kemudian mendiskusikan dua pertanyaan utama, yakni kendala dalam mewujudkan kemandirian keuangan pendidikan tinggi di Indonesia serta strategi yang dapat dilakukan untuk mempercepat transformasi tersebut.
Berbagai pengalaman yang disampaikan peserta menunjukkan bahwa tantangan kemandirian keuangan tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan sumber pendanaan, terdapat unsur lain yang menyangkut kapasitas tata kelola, kepemimpinan, pengelolaan aset, inovasi, manajemen risiko, hingga regulasi, ikut sebagai faktor.
Kelompok peserta dari PTN BLU, misalnya, menyoroti perlunya perubahan pola pikir dalam pengelolaan keuangan perguruan tinggi. Perguruan tinggi dinilai perlu bergeser dari pola spending money menuju generating income, sehingga sumber daya yang tersedia dapat dikembangkan menjadi aset produktif. Sementara itu, peserta dari PTN BLU dan PTN Satker berbagi pengalaman mengenai pemanfaatan aset sebagai salah satu sumber pendapatan.
Sejumlah peserta turut membagikan praktik pemanfaatan aset dan sumber daya perguruan tinggi. Universitas Udayana dan Universitas Borneo mengembangkan aset melalui pemanfaatan dan kerja sama dengan pelaku usaha, sementara Politeknik Negeri Lampung memanfaatkan teaching factory, produk, dan jasa dosen untuk mendukung pendapatan. Di sisi lain, Universitas Terbuka memaparkan potensi 39 kantor regional yang dapat dikembangkan sebagai sumber pendapatan tambahan.
Diskusi juga menyoroti tantangan tata kelola dan regulasi yang masih membatasi ruang gerak perguruan tinggi dalam mengembangkan sumber pendapatan. Peserta menilai penguatan kemandirian keuangan perlu disertai peningkatan kapasitas governance, kepemimpinan, pengelolaan aset, inovasi, dan manajemen risiko.
Direktur Sumber Daya Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Prof. Dr. Sri Suning Kusumawardani, S.T., M.T., mengapresiasi semangat dan komitmen peserta selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan serta mendorong mereka untuk tetap antusias dalam mengikuti tahapan AKPT berikutnya.
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto
