Human flourishing merupakan tingkat kesejahteraan secara utuh yang diukur dari kondisi seluruh aspek kehidupan dalam keadaan baik. Saat ini human flourishing menjadi tujuan tertinggi dari kehidupan manusia, dengan harapan seseorang tidak hanya sekadar bertahan hidup, namun benar-benar berkembang dan berkembang dengan baik sehingga manusia tidak hanya berfungsi secara biologis, tetapi juga secara psikologis, sosial, ekonomi, dan spiritual.
Dicky Sofjan, M.A., MPP., Ph.D., Dosen Indonesia Consortium for religious Studies (ICRS) Universitas Gadjah Mada, menjelaskan terdapat enam domain kesejahteraan yaitu kebahagiaan dan kepuasan hidup, kesehatan mental dan fisik, makna dan tujuan hidup, karakter dan kebajikan, hubungan sosial yang erat, dan stabilitas finansial. Menurutnya, kepercayaan pada agama turut memberikan peran penting bagi setiap pengambilan keputusan dalam sehari-hari sehingga mempengaruhi tingkat kesejahteraan seseorang. “Berdasarkan studi ini, Indonesia menjadi negara paling sejahtera manusianya dibandingkan dengan negara maju lainnya. Mungkin juga ada kaitan antara komitmen agama dengan kesejahteraan manusia di dalamnya,” jelasnya dalam Public Talk Show yang bertajuk “Kajian Human Flourishing dari Multi Perspektif” pada Selasa (29/9) di Auditorium SPs UGM.
Ia mengutip dari hasil penelitian Global Human Flourishing (GFS) belum lama ini yang menempatkan Indonesia menjadi negara yang paling sejahtera dari 22 negara yang lain. Menurutnya hasil survei ini erat kaitannya dengan kebanyakan responden Indonesia memahami makna kehidupan sesungguhnya serta dipengaruhi oleh hubungan sosial yang erat.
Dalam perspektif agama islam, Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Fatimah Husein, M.A., Ph.D., menyampaikan bahwa terdapat beberapa istilah islam yang selaras dengan Human Flourishing seperti insan kamil (keseimbangan antara fisik, akal, sosial, serta hubungan spiritualnya), hayat thayyibah, maslahah (kesejahteraan holistik/martabat), dan tazkiyah an-nasf (penyucian jiwa). Baginya, syarat hidup baik dalam islam dimaknai dengan menggabungkan aspek iman, amal, kebaikan, sabar, memaafkan, serta prinsip maqasidul syariah (perlindungan agama, jiwa, akal, keturunan, dan amal).
Sementara itu, Romo Dr. Albertus Bagus Laksana, SJ., S.S., Ph.D., dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta menekankan pentingnya solidaritas terhadap sesama manusia sekaligus solidaritas terhadap bumi, serta mendefinisikan kondisi akhir yang ideal sebagai hidup yang terberkati dalam kesatuan dengan diri sendiri, sesama, dan kosmos.
Perwakilan dari Human Flourishing Center UGM, Dr. dr. Andreasta Meliala, M.Kes., memaparkan terkait lima pilar Human Flourishing UGM. Pilar yang dikembangkan meliputi health and wellbeing, justice and equity for business and society, interreligious and intercultural relations, education across the lifespan, integral ecology and sustainability. Tujuan ini untuk membuktikan asumsi kemakmuran finansial yang berbanding lurus dengan kualitas hidup yang lebih baik. “Harapannya kontribusi bapak ibu bisa memunculkan studi yang sesuai dengan keadaan di Jogja,” tuturnya.
Samantha Hauw dari Deakin University, Australia memaparkan kesejahteraan dari perspektif industrial dan keasliannya. Meskipun Australia adalah negara makmur, ukuran kesejahteraan tidak terdistribusi merata. Masyarakat adat terus mengalami kerugian sosio-ekonomi akibat dampak kolonisasi dan ketimpangan struktural. Sementara itu, populasi umum menghadapi masalah kesepian, kecemasan iklim, dan degradasi lingkungan. Selain itu, Ia juga menekankan prinsip non-hirarkis bahwa kesehatan manusia bergantung pada kesehatan alam. Konsep ini menawarkan kebebasan yang membebaskan dimana otonomi individu tetap terjaga di dalam jaringan hubungan yang saling bergantung secara mendalam.
Penulis: Jesi
Editor: Gusti Grehenson
Foto: Dok. Sps, Magnific
