Di tengah derasnya arus informasi global soal konflik di kawasan Timur Tengah, ancaman PHK, hingga menurunnya kemampuan daya beli, turut menjadi salah satu pemicu yang memengaruhi kondisis psikologis seseorang. Salah satu yang kerap muncul adalah kecemasan personal yang dipicu oleh perkembangan situasi global. Konflik yang terjadi jauh dari kehidupan sehari-hari perlahan memengaruhi cara individu memandang dunia. Bahkan paparan informasi yang terus mengalir membuat sebagian orang merasa kondisi dunia semakin tidak menentu. “Saat ini saya banyak menangani kecemasan yang muncul seiring konflik global, dan masyarakat secara tidak langsung terkondisikan untuk percaya bahwa dunia ini semakin tidak baik-baik saja,” ungkap Psikolog lulusan UGM, Pamela Andari Priyudha, M.Psi., Psikolog,nya, Senin (13/4).
Lulusan Magister Psikologi Profesi Universitas Gadjah Mada pada 2016 silam ini mengaku dalam praktik psikolog di platform kesehatan mental ibunda.id, ia berhadapan dengan beragam cerita mulai dari kecemasan personal hingga tekanan akibat situasi eksternal Menurut Pamela, paparan berita negatif yang berulang memicu respons emosional yang cukup intens. Dalam banyak kasus, muncul ketegangan fisik dan emosional sebagai bentuk antisipasi terhadap kemungkinan buruk di masa depan. Kondisi ini sering muncul pada individu dengan pengalaman hidup traumatis. Tubuh meningkatkan kewasapadaan sebagai bagian dari mekanisme pertahanan diri. “Paparan informasi negatif secara terus menerus ini bisa memunculkan acute anticipatory stress atau stres antisipatif, di mana tubuh bersiap untuk menghadapi sesuatu yang belum terjadi,” katanya.

Jika berlangsung terus-menerus, tekanan psikologis dapat berkembang menjadi kecemasan yang lebih luas. Pamela menuturkan, berbagai isu seperti ancaman konflik, ketidakpastian ekonomi, hingga berkurangnya lapangan pekerjaan memperkuat rasa tidak aman. Informasi yang tidak dikelola dengan baik akan memperbesar risiko munculnya kecemasan kolektif. Individu sering kali kesulitan membedakan antara ancaman nyata dan kemungkinan yang dibayangkan. “Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berkembang menjadi stress berkepanjangan yang memicu kecemasan bahkan depresi secara kolektif,” jelas Pamela.
Dari Tekanan Menuju Pertumbuhan Psikologis
Di balik tekanan emosional, Pamela melihat adanya peluang individu untuk bertumbuh. Ia menjelaskan bahwa manusia memiliki kapasitas untuk mengubah stres menjadi dorongan yang lebih adaptif. Dengan pengelolaan emosi yang tepat, tekanan dapat diarahkan menjadi energi positif. Konsep ini dikenal sebagai post-traumatic growth atau pertumbuhan pasca trauma. “Manusia dibekali kemampuan untuk mengubah stres menjadi eustress yang mendorong pertumbuhan diri dan peningkatan kualitas hidup,” tuturnya.
Post-traumatic growth menggambarkan perubahan psikologis positif yang muncul setelah seseorang berhasil melewati pengalaman yang menekan. Pamela menuturkan proses ini melibatkan perjuangan kognitif dan perenungan mendalam dalam menerima realitas. Namun tidak semua individu mengalami pertumbuhan ini, bahkan sebagian dapat mengalami gangguan seperti Post-traumatic stress disorder (PTSD). Dalam beberapa kasus, pertumbuhan dan luka psikologis dapat muncul secara bersamaan. “Post-traumatic growth bukan sekadar pulih, tetapi berkembang ke arah kualitas hidup yang lebih baik dari sebelumnya,” jelasnya.

Dalam praktiknya, Pamela menjumpai berbagai contoh individu yang mampu bertumbuh setelah menghadapi tekanan emosional. Salah satunya dialami oleh individu yang kerasa cemas setelah mendengar kabar pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran. Kecemasan meningkat ketika rekan kerja mulai mengalami pemutusan kerja satu per satu. Kondisi ini memicu gejala fisik seperti mual, serangan panik, hingga tekanan untuk terus tampil optimal yang berujung pada kelelahan. “ Setelah mendapatkan bantuan psikologis, klien saya mulai memahami dirinya, menyusun kembali visi hidup, dan mempersiapkan langkah karier yang lebih sesuai,” paparnya.
Lebih lanjut, kemampuan untuk mencapai post-traumatic growth, menurut Pamela, dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Ketangguhan individu menjadi fondasi dalam menghadapi tekanan. Selain itu, karakter seperti optimisme, keterbukaan, dan kecerdasan emosional membantu proses pemaknaan pengalaman. Dukungan informasi dan lingkungan yang tepat turut memperkuat kemampuan individu dalam menghadapi situasi sulit. “Cara seseorang memaknai pengalaman dan proses berpikir dalam memahami situasi sangat menentukan apakah ia dapat bertumbuh,” ungkapnya.
Sebagai psikolog yang aktif berpraktik, Pamela tidak hanya berfokus pada penanganan individu secara klinis, ia turut berperan dalam meningkatkan literasi kesehatan mental di masyarakat. Melalui platform digital layanan psikologi, ia menjembatani kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan akses pendampingan yang lebih mudah dan relevan dengan dinamika kehidupan saat ini. Pengalaman menangani berbagai kasus membuatnya memahami bahwa tantangan kesehatan mental semakin kompleks seiring perubahan sosial dan derasnya arus informasi. Hal ini mendorongnya untuk terus mengembangkan pendekatan yang adaptif dan berorientasi pada kebutuhan individu.
Sebagai alumni Universitas Gadjah Mada, Pamela membawa perspektif yang menekankan pentingnya cara pandang dalam menghadapi kehidupan. Ia meyakini bahwa setiap peristiwa memiliki nilai yang ditentukan oleh bagaimana individu memaknainya. Cara pandang ini berpengaruh terhadap emosi dan respons yang muncul dalam diri seseorang. Dalam menghadapi arus informasi global, individu perlu mengelola konsumsi informasi serta menjaga keseimbangan emosi. “Kita tidak selalu memiliki kendali atas peristiwa di luar diri, tetapi kita memiliki kendali penuh atas bagaimana meresponsnya,” pungkasnya.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Freepik dan Dok. Pamela
