Di tengah kebisingan informasi digital saat ini, puisi hadir sebagai sebuah “jeda” untuk menenangkan jiwa. Tradisi puisi di Indonesia sudah sejak lama menjadi media untuk menyimpan nilai-nilai kearifan budaya. Peringatan Hari Puisi Dunia pada 21 Maret lalu menjadi sebuah momentum untuk merayakan karya para penyair sekaligus merawat kepekaan sosial dan imajinasi generasi muda. “Puisi perlu terus dihidupkan melalui pembacaan, penulisan, dan berbagai ruang apresiasi di sekolah, kampus, komunitas, maupun media digital. Dengan demikian, puisi dapat tetap menjadi “cahaya kecil” dari kata-kata yang menumbuhkan empati, memperluas imajinasi, dan menguatkan kemanusiaan,” ujar Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia FIB UGM, Dr. Novi Siti Kussuji Indrastuti, M.Hum., Senin (6/4).
Novi menilai esensi puisi jauh melampaui aspek estetika semata. Peringatan Hari Puisi Dunia menjadi sebuah momentum untuk merayakan pentingnya kata-kata sebagai ruang refleksi kemanusiaan di tengah gempuran informasi digital. “Peringatan Hari Puisi mampu bertahan sebagai sebuah renungan sebagai media untuk merenungkan kehidupan, alam, harapan, dan nilai kearifan lokal,” jelasnya.
Novi mengakui bahwa masih terdapat tantangan mengenai rendahnya minat baca puisi di kalangan generasi muda, terutama dalam pola konsumsi informasi yang serba cepat dan visual. Dilansir pada Badan Pusat Statistik tahun 2023, Indeks Kegemaran Membaca masyarakat Indonesia berada di angka 72, sementara hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan literasi membaca pelajar di Indonesia masih perlu ditingkatkan, termasuk dalam membaca karya sastra, seperti puisi.
Kendati begitu, Novi melihat adanya gejala positif dalam beberapa tahun terakhir. Puisi mulai menemukan ruang baru melalui media digital seperti Instagram, blog, dan forum literasi daring yang turut menghidupkan kembali apresiasi terhadap puisi. “Minat terhadap puisi sebenarnya tidak menurun, tetap sedang mengalami transformasi medium dan cara apresiasinya,” jelasnya.
Untuk menggalakan budaya baca puisi, termasuk anggapan bahwa puisi sulit untuk dipahami. Pendekatan pengajaran yang terlalu teoritis di sekolah dinilai ikut membentuk persepsi akan hal tersebut. Ia mendorong pendekatan pengajaran karya sastra puisi melalui media yang lebih kreatif, seperti komunitas literasi, festival, pertunjukan puisi, serta pemanfaatan media digital agar puisi hadir lebih dekat dan relevan bagi generasi muda. “Perlu ada pembinaan, diskusi, dan ruang apresiasi berkelanjutan agar kegiatan bertemakan karya sastra dapat membangun sistem literasi yang mendorong minat generasi muda dalam membaca, menulis, dan menghargai puisi sebagai bagian dari budaya dan ekspresi intelektual mereka,” imbuhnya.
Sebagai inspirasi, Novi menyebut beberapa nama tokoh pemerhati karya sastra puisi di Indonesia. Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Damono, dan Aan Mansyur merupakan representasi puisi Indonesia yang terus hidup dan berkembang. Karya mereka yang menggunakan bahasa sehari-hari dinilai lebih mudah diakses dan dekat dengan generasi muda. “Tokoh-tokoh tersebut merupakan penerus jejak penyair besar, seperti Chairil Anwar, W.S. Rendra dan Taufik Ismail. Ini menunjukkan tradisi kepenyairan Indonesia masih tetap berlanjut,” jelasnya.
Dengan adanya peringatan Hari Puisi Dunia tahun 2026, Novi berharap agar puisi terus dihidupkan melalui pembacaan, penulisan, dan ruangan apresiasi di berbagai lini, seperti sekolah, kampus, komunitas, hingga media digital. “Puisi perlu menjadi “cahaya kecil” dari kata-kata yang menumbuhkan empati, memperluas imajinasi, dan menguatkan kemanusiaan,” tutupnya.
Penulis : Diyana Khairunnisa
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Jabarekspres
