Mikroalga memiliki peran yang sangat besar dalam menopang kehidupan manusia dan alam di muka bumi ini. Ia berkontribusi secara signifikan terhadap fiksasi karbon melalui fotosintesis dengan mengubah karbon dioksida di atmosfer menjadi senyawa organik. Proses ini sangat penting dalam mitigasi perubahan iklim dengan menurunkan kadar karbon dioksida di atmosfer, yang merupakan pendorong utama pemanasan global. “Mikroalga juga berkontribusi sekitar 40-50% terhadap oksigen di atmosfer, sehingga dapat dikatakan bahwa sebagian oksigen pada setiap tarikan napas manusia berasal dari proses fotosintesis mikroalga,” jelas Dosen Fakultas Biologi UGM Prof. Dr. Eko Agus Suyono, M.App.,Sc., dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam Bidang Bioteknologi Industri dan Lingkungan, Kamis (2/4), di Balai Senat UGM.
Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul “Mikroalga Sebagai Mesin Biologis Masa Depan: Integrasi Teknologi CO2 Capture dan Konsep Biorefinery Untuk Kemandirian Bangsa”, Eko menuturkan mikroalga berfungsi sebagai produsen primer utama yang menopang rantai makanan global. Ia pun berperan sebagai komponen penting dalam siklus karbon dan nutrien, terutama di ekosistem akuatik, karena berfungsi sebagai penyerap sekaligus sumber karbon yang mendukung berbagai tingkat kehidupan di alam. “Tidak hanya untuk biofuel, mikrolaga pun diketahui kaya akan polisakarida, lipid, pigmen, protein, vitamin, mineral, serta antioksidan yang memiliki potensi luas untuk berbagai aplikasi, mulai dari pangan dan pakan, kosmetik, farmasi, hingga produk berbasis hayati lainnya,” ungkapnya.
Ia menyebutkan, kandungan biomassa pada mikroalga bernilai pasar tinggi dan dapat diolah menjadi berbagai macam produk bernilai tinggi, seperti biodiesel, bioetanol, biohidrogen, pakan, pangan, hingga pupuk. Salah satu penelitian yang pernah dilaksanakan oleh Eko menunjukkan bahwa mikroalga juga dapat digunakan untuk pemanfaatan limbah, produksi biomassa bernilai tambah, serta penguatan konsep biorefinery.
Lebih lanjut, mikroalga pun menawarkan manfaat sebagai sumber biomaterial dan energi. Mikroalga sudah dikenal sebagai bahan baku material berbasis biologi yang tidak kalah dengan tumbuhan tingkat tinggi dan telah diaplikasikan di berbagai bidang. Sebagai sumber energi, mikrolaga berpotensi sebagai biofuel feedstock, bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan. “Potensi mikroalga jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan sumber biofuel pada umumnya, seperti kelapa sawit, jagung, bunga matahari, dan kacang-kacangan,” jelasnya.
Di bidang pangan dan pakan, kata Eko, mikroalga berpotensi menjawab tantangan ketahanan pangan global dan permasalahan lingkungan karena dapat diproduksi pada lahan marjinal, yang tidak akan mengganggu produksi bahan pangan lainnya serta memiliki pertumbuhan yang cepat. Sedangkan untuk pakan, berbagai kajian menunjukkan bahwa mikroalga memiliki efisiensi fiksasi karbon yang sangat tinggi serta kandungan nutrisi dan komponen bioaktif yang kaya, sehingga berpotensi besar dikembangkan sebagai pakan fungsional yang mampu meningkatkan pertumbuhan, kesehatan, dan status imun ternak secara simultan.
Tak hanya itu, dalam bidang biomedis pun, mikroalga menawarkan berbagai macam manfaat mulai dari bahan baku obat alam, suplemen, drug delivery, hingga biosensor. “Mikroalga pun mengandung antioksidan yang lebih tinggi daripada vitamin C dan memiliki kandungan antiinflamasi dan antikanker,” terangnya.
Sebagai bioremediasi, mikroalga juga dapat digunakan untuk menyerap limbah lingkungan. Hal ini karena adaptasi mikroalga yang tinggi terhadap berbagai macam kondisi lingkungan, enzim dan senyawa kimia yang dihasilkan, dan juga komponen kimia yang terdapat di dinding sel mikroalga tersebut. Tak hanya itu, mikroalga pun dapat dintegrasikan dengan Internet of Things dan machine learning. “Dalam konteks ini, IoT menjadi terobosan karena memungkinkan pemantauan biomassa dan parameter budidaya secara kontinu dan real-time, lalu menyiapkan aliran data yang siap diolah menjadi informasi operasional,” jelasnya.
Di akhir pidatonya, Eko mengatakan melalui pendekatan yang terintegrasi, mikroalga dapat menjadi jembatan antara kepentingan lingkungan, kebutuhan industri, dan agenda pembangunan berkelanjutan. Namun, hal ini haruslah didukung oleh seluruh pihak. Karena itu, riset mikroalga perlu terus diperkuat dari hulu hingga hilir, mulai dari eksplorasi strain unggul dan bioprospeksinya, optimasi kultivasi dan pemanenan dari skala laboratorium dan pilot sampai massal di industri, hingga inovasi teknologi pemrosesan dan pemanfaatannya. “Mikroalga berpotensi sebagai solusi masa depan demi ketahanan lingkungan, kemandirian teknologi, dan kemajuan bangsa, ”pungkasnya.
Penulis : Leony
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Donnie
