Bekerja lebih dari 10-14 jam sehari, jutaan pengemudi ojek daring atau ojol masih bergulat dengan pendapatan rendah dan ketidakpastian. Pendapatan rendah, jam kerja panjang, dan beban biaya harian membuat profesi ini kian menjauh dari bayangan sejahtera. Setiap hari mereka memenuhi jalanan, mengantar penumpang, makanan, dan barang, menjembatani kebutuhan rumah tangga dengan pusat-pusat ekonomi. Sayang, di balik mobilitas yang tampak dinamis itu, kehidupan mayoritas pengemudi ojol justru bergerak di tempat.
Dosen Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK) Fisipol UGM, Dr. Hempri Suyatna menanggapi hal tersebut menyatakan dari berbagasi hasil riset memang menunjukkan para pekerja yang terlibat di sektor platform termasuk ojek online memiliki kerentanan seperti ketidakpastian kerja, ketidakamanan pendapatan, serta lemahnya perlindungan hak sosial. Kondisi ini tentunya menyebabkan mereka berpotensi mengalami kemiskinan. Terkait hal itu, memang harus ada upaya-upaya untuk mengembangkan model perlindungan sosial. “Selama ini belum ada model perlindungan sosial yang komprehensif untuk melindungi mereka,” ujarnya di Kampus UGM, Kamis (12/2).
Hempri mengatakan model-model perlindungan sosial yang ada masih terbatas dan parsial, dan biasanya para pekerja sendiri yang proaktif mendaftar tapi tidak terlembagakan secara baik. Untuk itu, katanya, tampaknya perlu ada Upaya mewujudkan ekosistem digital yang mampu memberikan perlindungan bagi para pekerja di platform tersebut. “Diperlukan adanya regulasi ketenagakerjaan yang memberikan jaminan soal pengupahan, jaminan sosial atau asuransi kepada para pekerja di sektor online,” ujarnya.
Selain itu, dalam konteks pengupahan harus ada aturan terkait model penghitungan upah yang lebih adil. Sementara itu dalam asuransi, perlu ada kewajiban dari perusahaan-perusahaan platform untuk mengasuransikan para ojek online. Semisal melalui mekanisme BPJS ketenagakerjaan. “Bagaimanapun di sisi lain, penguatan modal sosial dari ojek online ini juga perlu dirawat. Solidaritas sosial yang tinggi, kesetiakawanan sosial yang kuat di antara mereka seharusnya menjadi modal penting di dalam mengembangkan jaminan-jaminan sosial informal para ojek online,” sarannya.
Penulis : Agung Nugroho
Foto : Tangsel Life
