Perang kerap dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah manusia. Berbagai negara yang ada di belahan dunia tidak pernah luput dari perang untuk mengusir kolonialisme dari bangsa lain. Hingga kini pun, perang seakan tidak pernah usai. Perang yang ada di Timur Tengah yang terjadi sekarang ini dipicu atas serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada akhir Februari lalu. Padahal dunia masih menghadapi Perang Rusia-Ukraina, konflik Gaza, dan berbagai konflik di belahan negara lainnya.
Namun, apakah perang merupakan sifat bawaan manusia sejak lahir, atau hasil perkembangan sosial dan sejarah? Dosen Program Studi Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Satrio Dwicahyo, M.Sc., M.A., menilai perang merupakan hasil dari perpaduan berbagai dimensi yang melekat pada manusia. “Ada aspek biologis, psikologis, dan juga interaksi sosial. Perang dan kekerasan pada umumnya adalah gabungan dari dimensi-dimensi tersebut, hanya derajatnya yang berbeda-beda,” jelasnya, Selasa (7/4).
Dalam perspektif sejarah, faktor-faktor tersebut terus berkembang dan berhubungan dengan aspek lain, seperti kemajuan teknologi dan perubahan struktur masyarakat. Perkembangan ini, lanjutnya, dapat mempermudah terjadinya perang, namun disisi lain juga bisa menjadi penghambat.
Menanggapi perdebatan mengenai akar agresivitas manusia apakah diwarisi dari nenek moyang primata seperti simpanse atau justru manusia purba hidup damai, Satrio melihat kedua perspektif tersebut saling melengkapi. Ia menilai bahwa sejak awal, manusia telah mengenal kekerasan sekaligus cara-cara nirkekerasan untuk mengelola konflik. “Manusia menggunakan kekerasan untuk bertahan hidup, tetapi pada saat yang sama juga mengembangkan mekanisme damai. Dalam banyak budaya, termasuk perspektif Timur, keduanya selalu berdampingan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa manusia mungkin tidak pernah sepenuhnya lepas dari potensi perang, melainkan hanya berupaya mengurangi kecenderungan tersebut.
Dalam konteks konflik modern, Satrio menyoroti peran signifikan teknologi. Ia menjelaskan bahwa kemajuan teknologi telah memangkas jarak dalam peperangan, sehingga perang kini dapat dilakukan tanpa keterlibatan langsung di medan tempur. “Perang berubah menjadi aktivitas jarak jauh. Hal ini berpotensi menghilangkan unsur kemanusiaan, karena pelaku tidak lagi berhadapan langsung dengan lawannya,” ungkapnya.
Bahkan, ia menilai bahwa fenomena ini memunculkan kecenderungan “gimifikasi perang”, di mana konflik dijalankan seolah-olah seperti permainan, sehingga beban moralnya berkurang.
Selain teknologi, faktor identitas kelompok dan solidaritas juga berperan dalam konflik, meskipun menurut Satrio, faktor ini cenderung lebih cair dibandingkan dengan kepentingan atas sumber daya alam. Ia mencontohkan perubahan aliansi dalam sejarah, seperti hubungan antara Amerika Serikat dan Taliban yang berbalik arah dalam beberapa dekade.
Meskipun konflik global masih marak terjadi, peradaban manusia sebenarnya terus berupaya menekan kemungkinan perang. Berbagai mekanisme seperti diplomasi, pertukaran antar negara, hingga pembentukan organisasi internasional merupakan bentuk institusionalisasi upaya perdamaian. “Organisasi internasional seperti PBB hadir sebagai upaya menahan laju perang melalui norma dan hukum internasional. Namun, solusi yang relevan di satu masa belum tentu efektif di masa lain,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa perang telah ada sejak awal kemanusiaan, sehingga penghentian total mungkin sulit dicapai. “Arahnya bukan berhenti sepenuhnya, tetapi evolusi dalam cara pelaksanaannya. Bisa menjadi lebih baik, tetapi selalu ada kemungkinan juga menjadi lebih buruk,” pungkasnya.
Penulis : Jelita Agustine
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Freepik dan Gettyimage
