Perang Iran menyebabkan terputusnya jalur distribusi logistik yang memicu krisis energi global, bahkan diperkirakan lebih buruk dari yang pernah terjadi di tahun 1970. Dampak signifikan dapat dilihat di beberapa negara Asia. Beberapa negara sudah menaikkan harga Bahan bakar Minyak (BBM), sementara pemerintah menegaskan tidak akan menaikkan harga BBM bersubsidi.
Kepala Laboratorium Energi Baru Terbarukan (EBT) Fakultas Teknik UGM, Ahmad Agus Setiawan, ST., M.Sc., Ph.D., menyampaikan, pemerintah mengambil langkah cukup berani, menahan laju kenaikan harga dengan memanfaatkan subsidi dari pemerintah. Sementara itu, di negara tetangga, masyarakat Filipina memilih menerapkan alternatif mobilitas, yakni berjalan kaki. “Di Asia Selatan, India dan Bangladesh, antrean mengular panjang banyak terlihat di SPBU,” kata Aas, demikian ia akrab disapa, Rabu (8/4).
Upaya pemerintah melakukan efisiensi energi nampak dari kebijakan penerapan Work From Home (EFH) untuk para Aparatur Sipil Negara (ASN) dan karyawan swasta. Menurut Agus, selain kebijakan efisien energi, pemerintah juga perlu mendorong optimalisasi pengembangan energi alternatif. Pasalnya energi alternatif menjadi aspek yang langsung bersinggungan dengan tata kelola pemerintahan.
Aas menjelaskan peran besar Indonesia dalam mendukung proses transisi energi ekonomi global. Pertama, Indonesia sebagai negara dengan populasi terbesar, turut menjadi konsumen energi terbesar. Kedua, tingginya konsumsi energi membuat Indonesia menjadi negara penyumbang emisi karbon terbesar. Meski senantiasa menempati status eksportir nikel dan batubara terbanyak, sumber daya tersebut tidak selamanya dapat diandalkan karena jumlahnya yang terbatas.
“Kalau kita mengikuti peta geopolitik, krisis seperti ini bukan hal yang baru. Perang itu selalu mencari sumber energi. Sementara, dunia ke depan berencana menekan produksi emisi. Ini akan sangat menyulitkan mereka yang tidak siap. Sehingga, kita perlu segera meninggalkan kenyamanan energi masa lalu, bergeser ke alternatif sumber energi lain,” paparnya.
Ia memaparkan beberapa contoh sumber energi baru terbarukan yang turut ia kembangkan. Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sulawesi Selatan adalah salah satu ladang energi dari angin yang dimiliki oleh Indonesia. Upaya yang sama juga sangat mungkin diimplementasikan di wilayah lain, dengan catatan berada di lokasi dengan sumber angin yang pas. Selain itu juga ada Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) apung terbesar di Asia Tenggara, yang terletak di Waduk Cirata, Jawa Barat.
“PLTS apung justru lebih efisien daripada PLTS di tanah karena memiliki sistem pendingin alami dari air. Sebagai negara yang wilayahnya didominasi oleh laut, tentu Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan konsep serupa,” jelas Dosen Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika tersebut.
Meski transisi energi memang bersifat struktural, Menurut Aas, pemerintah perlu upaya yang merangkul semua pihak. Untuk itu, peran akademisi menjadi penting, salah satunya untuk mendiseminasi hasil riset. “Selain penelitian, mereka berperan besar dalam mengedukasi dan meningkatkan kesadaran publik,” pungkasnya.
Penulis : Ika Agustine
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Freepik
