Universitas Gadjah Mada kembali membuka kesempatan bagi mahasiswa internasional untuk melanjutkan studi ke UGM melalui jalur reguler dan International Undergraduate Program (IUP) gelombang kedua. UGM secara khusus menyambut calon mahasiswa barunya dari Papua Nugini dan Kepulauan Solomon untuk menempuh pendidikan sarjana hingga pascasarjana di Yogyakarta. Langkah ini menjadi bagian dari upaya UGM dalam memperkuat jejaring global sekaligus memperluas akses pendidikan tinggi berkualitas bagi mahasiswa dari kawasan Pasifik.
Prof. dr. Gandes Retno Rahayu, M.Med.Ed., Ph.D., selaku Direktur Pendidikan dan Pengajaran UGM menyebutkan bahwa terdapat beberapa jalur untuk menjadi bagian dari UGM bagi mahasiswa internasional, yakni melalui jalur reguler dan International Undergraduate Program (IUP) yang masing-masing memiliki ketentuan serta kuota yang berbeda. “Kami membuka dua jalur untuk teman-teman internasional dengan berbagai macam pilihan program studi dan kesempatan,” ujarnya, Senin (13/4).
Ia juga menekankan bahwa keberagaman jalur ini dirancang untuk mengakomodasi latar belakang akademik, kesiapan bahasa, serta tujuan studi calon mahasiswa.
Gandes menuturkan bahwa kedua jalur tersebut memiliki perbedaan persyaratan yang cukup signifikan, mulai dari dokumen yang dibutuhkan hingga sistem pembelajaran yang akan dijalani. Pada jalur reguler, mahasiswa internasional diwajibkan mengikuti pelatihan bahasa Indonesia selama beberapa bulan, mengingat bahasa pengantar yang digunakan dalam perkuliahan adalah bahasa Indonesia. “Dalam skema ini, mahasiswa internasional akan belajar bersama mahasiswa Indonesia di berbagai program studi yang hampir seluruhnya membuka kesempatan melalui jalur reguler,” ujarnya.
Kendati demikian, bagi calon mahasiswa yang belum memiliki kemampuan bahasa Indonesia, UGM telah menyediakan program pembelajaran bahasa Indonesia sebagai bekal sebelum memasuki masa perkuliahan. Program ini dirancang secara intensif dan aplikatif, mencakup keterampilan komunikasi sehari-hari hingga bahasa akademik yang dibutuhkan di kelas. “Kita ingin memastikan mahasiswa internasional dapat beradaptasi secara optimal, baik dalam aspek akademik maupun kehidupan sosial di Yogyakarta,” paparnya.
Sementara itu, jalur IUP ditawarkan bagi calon mahasiswa yang ingin mengikuti perkuliahan dalam bahasa Inggris tanpa kewajiban mempelajari bahasa Indonesia di tahap awal. Program ini tersedia di berbagai fakultas, seperti Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Fakultas Hukum, FISIPOL, Fakultas Psikologi, serta rumpun sains dan teknologi hingga Agro. Melalui jalur ini, mahasiswa juga berkesempatan memperoleh international exposure melalui program double degree, student exchange, maupun academic exposure bersama universitas mitra UGM di berbagai negara. Pengalaman ini tidak hanya meningkatkan kompetensi akademik, tetapi juga memperluas perspektif global serta kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja internasional.
Untuk dapat mengikuti jalur IUP, calon mahasiswa perlu memenuhi persyaratan English proficiency sebagai standar awal, mengikuti Gadjah Mada Scholastic Test, serta menjalani tahap wawancara yang bertujuan untuk menilai kesiapan akademik dan motivasi studi. Pada beberapa program studi, seleksi juga dapat mencakup penulisan esai sebagai bentuk evaluasi kemampuan berpikir kritis dan argumentasi. Penerimaan tahap pertama untuk program ini telah ditutup, sementara intake kedua dibuka pada 1 April hingga 28 April. “Kami menyarankan calon mahasiswa untuk mengikuti intake kedua, karena intake ketiga waktunya relatif lebih terbatas,” jelas Gandes.
Pada jenjang pascasarjana, UGM juga menawarkan berbagai program dengan sistem klaster keilmuan yang serupa, namun dengan variasi program yang lebih spesifik dan mendalam. Sebagai contoh, Fakultas Hukum tidak hanya membuka program di Yogyakarta, tetapi juga memiliki kampus di Jakarta yang memberikan fleksibilitas lokasi studi. Persyaratan pendaftaran meliputi sertifikat TOEFL, surat rekomendasi akademik, serta dokumen pendukung lainnya.
Khusus untuk program magister dan doktor, calon mahasiswa diwajibkan menyusun research proposal sebagai bagian dari proses seleksi, yang mencerminkan kesiapan mereka dalam melakukan penelitian. Beberapa program tersedia dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, sehingga memberikan pilihan yang lebih luas bagi mahasiswa internasional.
Periode pendaftaran pascasarjana terdiri atas dua intake, yakni intake pertama yang telah berlangsung pada 23 Januari hingga 31 Maret, serta intake kedua yang dibuka pada 1 April hingga 25 Mei. Seluruh proses seleksi akan bermuara pada penerimaan mahasiswa baru yang dijadwalkan pada bulan Agustus, bersamaan dengan dimulainya tahun akademik baru.
Direktur Kemitraan dan Relasi Global (DKRG) UGM, Prof. Dr. apt. Puji Astuti, S.Si., M.Sc., menambahkan bahwa Yogyakarta menjadi salah satu daya tarik utama bagi mahasiswa internasional. Kota ini dikenal sebagai salah satu kota pelajar terbaik di Indonesia, dengan lingkungan yang ramah, biaya hidup yang relatif terjangkau, serta ekosistem akademik yang mendukung. Selain itu, kekayaan budaya dan suasana kota yang inklusif juga menjadi faktor penting dalam menciptakan pengalaman belajar yang menyeluruh bagi mahasiswa dari berbagai negara.
Selain itu, UGM juga terus memperluas jangkauan internasionalnya. Pada tahun sebelumnya, tercatat mahasiswa internasional UGM berasal dari 44 negara, menunjukkan meningkatnya kepercayaan global terhadap kualitas pendidikan di UGM. Berbagai fasilitas, peluang beasiswa, serta komunitas mahasiswa internasional turut disediakan untuk mendukung proses adaptasi dan pengalaman belajar selama di Yogyakarta. Dukungan ini mencakup layanan akademik, pendampingan mahasiswa, hingga kegiatan komunitas yang mempererat jejaring antar mahasiswa lintas negara. “Kami ingin memastikan bahwa mahasiswa internasional tidak hanya mendapatkan pendidikan berkualitas, tetapi juga pengalaman global yang berkesan selama studi di UGM,” tutup Puji.
Penulis : Zabrina Kumara
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Humas UGM
