Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM melaksanakan Rapat Senat Terbuka untuk memperingati Dies Natalis ke- 80 pada Selasa (3/3) di Auditorium Gedung Poerbatjaraka. Mengusung tema, “Delapan Dekade Membangun Peradaban”, FIB UGM telah banyak menorehkan prestasi dan kontribusi dalam pengembangan Ilmu Humaniora.
Berdasarkan laporan dari Dekan FIB UGM, Prof Setiadi, menyampaikan Program Studi Antropologi, Arkeologi, dan Sastra Inggris UGM berhasil meraih peringkat 1 nasional. Untuk prodi Antropologi berada di peringkat 101-170 dunia. Sedangkan Prodi Arkeologi dan Antropologi berada di peringkat 151-200 dunia pada QS World University Rankings By Subject 2025. Bahkan pada tahun 2025, lembaga pemeringkat EduRank menempatkan Bidang Sastra FIB Universitas Gadjah Mada pada peringkat pertama dari 68 penyelenggara pendidikan sastra di Indonesia.
Lebih lanjut, FIB UGM juga menghasilkan 169 judul penelitian lintas disiplin atau setara dengan 201% dari target awal sebanyak 84 judul dengan tingkat sitasi publikasi dosen FIB UGM melonjak tajam dari 50 sitasi pada tahun 2022 menjadi 381 sitasi pada tahun 2025, juga pada tahun 2025, terdapat 5 jurnal di FIB yakni Deskripsi Bahasa, Bakti Budaya, Lembaran Antropologi, Gama JTS, dan Lembaran Sejarah yang berhasil mendapatkan indeksasi tingkat internasional DOAJ.
Di bidang program pertukaran mahasiswa, FIB pun sukses menerima 150 mahasiswa asing untuk semua jenjang, mencapai 150% dari target yang ditetapkan sebanyak 100 mahasiswa. Serta, dalam 4 tahun terakhir, mahasiswa FIB sukses mengumpulkan 23 prestasi tingkat internasional, 224 prestasi nasional, dan 48 prestasi regional.
Menurut Setiadi, pencapaian-pencapaian yang dihasilkan oleh FIB UGM tersebut merupakan hasil kerja keras seluruh sivitas akademika dan bukan hanya pencapaian sesaat. “Capaian ini merupakan puncak-puncak dari upaya kerja keras di atas fondasi keilmuan yang telah dibangun oleh para guru kita. Kita patut berterima kasih kepada para sesepuh, warga senior, dan pendiri Fakultas ini,” ujarnya.
Rektor UGM, Prof. Ova Emilia menyampaikan apresiasi atas prestasi yang dicapai oleh sivitas akademika FIB UGM. Menurut Rektor, di usia ke-80 tahun ini, kita bisa mengenang perjalanan panjang FIB dalam mendidik putra-putri terbaik bangsa. “Sejak berdirinya di tahun 1946, resiliensi, adaptasi, dan inovasi menjadi jawaban atas keteguhan Fakultas Ilmu Budaya dalam menghadapi tekanan segala zaman, tekanan akibat krisis ekonomi ataupun politik dan juga tantangan perubahan zaman. Dan ini membuktikan ketangguhan Fakultas dalam melahirkan alumi dengan karya-karya inovasi yang berdampak bagi negeri,” ujarnya.
Guru Besar Bidang Linguistik Antropologis UGM, Prof. Dr. Suhandano, M.A., pun turut menyampaikan Pidato Ilmiahnya yang bertajuk “Studi Bahasa dan Tantangannya pada Era Digital”. Dalam pidato ini, Suhandono memaparkan mengenai evolusi ilmu linguistik dari masa ke masa dan bagaimana ilmu tersebut diuji oleh perubahan cara manusia berkomunikasi di era digital saat ini.
Menurutnya, di era digital ini ada perbedaan dalam cara orang berbahasa. Saat ini, percakapan di media sosial seringkali melibatkan orang yang tidak saling mengenal sehingga normanya lebih longgar, memiliki gaya bahasa yang berbeda, dan banyak menggunakan emotikon. Ada pun tantangan terbesar yang terjadi pada era virtual ini adalah bahasa kerap digunakan untuk memanipulasi kebenaran dan membangun opini publik melalui buzzer (pendengung). “Opini publik yang sudah terbangun kadang tidak mudah diubah, tetapi kajian ilmiah bahasa tidak boleh tunduk pada opini tersebut,” ingatnya.
Lebih lanjut, Suhandano pun menekankan bahwa bahasa memengaruhi persepsi manusia terhadap dunia. Oleh karena itu, studi bahasa harus bisa membantu menyelesaikan masalah nyata di masyarakat, seperti menganalisis bagaimana bahasa di media massa membingkai isu “perubahan iklim” yang pada akhirnya memengaruhi kepedulian manusia terhadap lingkungan. “Studi bahasa saat ini menghadapi banyak tantangan, tetapi di balik tantangan itu, terdapat peluang untuk maju,” ujarnya.
Penulis : Leony
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto
