Program studi S1 dan S2 Perencanaan Kota dan Wilayah (PWK), Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada melaksanakan proses asesmen akreditasi internasional Accreditation Agency for Study Programs in Engineering, Informatics, Natural Sciences and Mathematics (ASIIN) pada 11-12 Februari lalu. Kegiatan visitasi akreditasi ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan UGM dalam memastikan kualitas akademik yang selaras dengan standar global. Asesmen yang dilaksanakan menghadirkan para asesor ASIIN beserta perwakilan institusi terkait
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., menyampaikan apresiasi atas kehadiran para asesor serta menegaskan pentingnya asesmen internasional sebagai bagian dari budaya mutu di lingkungan UGM. Ia menuturkan bahwa asesmen ini bukan sekadar proses evaluasi formal, melainkan bagian dari komitmen berkelanjutan universitas dalam memperkuat kualitas akademik dan tata kelola pendidikan. “Asesmen ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan kami untuk meningkatkan keunggulan akademik serta memastikan program studi kami selaras dengan standar internasional,” jelasnya, Jumat (13/2).
Dikatakan Wening, UGM memandang penjaminan mutu melalui asesmen internasional sebagai ruang refleksi yang konstruktif. Keterlibatan asesor internasional dinilai memberikan perspektif objektif sekaligus peluang pembelajaran yang berharga bagi pengembangan institusi. “Di UGM, kami meyakini bahwa penjaminan mutu melalui mitra internasional bukan hanya bentuk evaluasi eksternal, tetapi juga kesempatan untuk melakukan refleksi kritis dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan,” tambahnya.
Menurutnya, proses diskusi dan penelaahan yang dilakukan selama asesmen diharapkan dapat menghasilkan masukan strategis untuk penguatan kurikulum, peningkatan kualitas pembelajaran, serta pengembangan tata kelola program studi ke depan. “Kami menantikan diskusi yang konstruktif dan terbuka selama proses asesmen ini berlangsung,” ungkapnya.
Salah satu perwakilan ASIIN, Prof. Dr. Frank Schwartze, menyampaikan apresiasi atas sambutan yang baik dari UGM dan menambahkan bahwa proses asesmen dan akreditasi ini merupakan bagian dari peningkatan mutu pendidikan yang dilakukan demi penguatan kualitas akademik dan kemajuan ilmu pengetahuan UGM. “Pada dasarnya, kita semua berupaya meningkatkan kualitas pendidikan untuk menghasilkan ilmu pengetahuan terbaik dan memberikan manfaat maksimal bagi mahasiswa,” ujarnya.
Ketua Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK),Isti Hidyatai, Ph.D., menjelaskan bahwa penyempurnaan kurikulum menjadi salah satu fokus utama perubahan. Evaluasi kurikulum dilakukan secara berkala dengan melibatkan masukan dari para pemangku kepentingan, termasuk mitra industri, pemerintah, serta alumni, guna memastikan kesesuaian capaian pembelajaran dengan kebutuhan profesional dan perkembangan keilmuan. “Selain penguatan kurikulum yang telah berjalan, kami juga tengah mempersiapkan kurikulum baru yang direncanakan mulai diterapkan pada tahun 2026. Proses ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan sebagai bagian dari respons terhadap dinamika kebutuhan akademik dan profesi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa program studi juga melakukan penyesuaian terhadap ambang batas dalam sistem asesmen pembelajaran untuk menjaga standar evaluasi yang lebih terukur dan selaras dengan praktik internasional.“Kami juga melakukan penyesuaian dalam sistem asesmen serta terus mendorong perbaikan berkelanjutan dalam aspek akademik,” tuturnya.
Menurutnya, seluruh langkah tersebut merupakan bagian dari prinsip continuous improvement yang diterapkan secara konsisten dalam tata kelola program studi. Melalui upaya tersebut, Program Studi PWK berkomitmen menjaga kualitas pendidikan sekaligus meningkatkan relevansi dan daya saing lulusan di tingkat global.
Dalam diskusi tersebut, pihak ASIIN juga menyoroti berbagai program internasional yang dikembangkan UGM, termasuk strategi internasionalisasi kurikulum, mobilitas mahasiswa dan dosen, serta penguatan jejaring kemitraan global. Diskusi berlangsung secara terbuka dan konstruktif dengan membahas capaian, tantangan, serta peluang pengembangan program studi ke depan.
Wening menyampaikan bahwa UGM mencatat peningkatan signifikan dalam jumlah mahasiswa internasional selama satu tahun terakhir, khususnya dari kawasan Asia Tenggara. Menurutnya, strategi internasionalisasi yang lebih terarah telah memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan jumlah mahasiswa asing di UGM.
Ia menjelaskan bahwa sebelumnya jumlah mahasiswa internasional di UGM berada pada kisaran 800 orang. Namun, dalam satu tahun terakhir, jumlah tersebut meningkat hingga mendekati lebih dari 2.000 mahasiswa. “Dalam satu tahun terakhir, kami melihat peningkatan yang cukup signifikan. Jika sebelumnya jumlah mahasiswa internasional sekitar 800 orang, saat ini jumlahnya hampir mencapai lebih dari 2.000 mahasiswa,” ungkapnya.
Wening menuturkan bahwa peningkatan tersebut tidak terlepas dari strategi promosi yang dilakukan secara aktif melalui berbagai kegiatan roadshow ke sejumlah negara, terutama di kawasan Asia Tenggara seperti Timor Leste, Myanmar, dan negara-negara tetangga lainnya. Menurutnya, pemilihan kawasan Asia Tenggara sebagai fokus promosi didasarkan pada pertimbangan aksesibilitas dan efisiensi biaya pendidikan. Ia menyebutkan bahwa melanjutkan studi ke luar negeri seringkali membutuhkan biaya yang cukup besar, sehingga Indonesia menjadi alternatif tujuan studi yang kompetitif bagi negara-negara tetangga. “Kami menyadari bahwa biaya untuk menempuh pendidikan ke luar negeri cukup tinggi. Karena itu, kami menyusun strategi dengan menyasar negara-negara tetangga yang secara geografis lebih dekat dan memiliki kebutuhan pendidikan tinggi yang terus berkembang,” jelasnya.
Disamping itu, Wening menekankan pentingnya pengembangan International Undergraduate Program (IUP) sebagai salah satu daya tarik utama bagi mahasiswa internasional. Ia menyampaikan bahwa di Fakultas Teknik (FT), program IUP telah berjalan selama tiga tahun terakhir dan menunjukkan perkembangan yang positif. “Program IUP menjadi salah satu kunci penting dalam strategi internasionalisasi kami. Di Fakultas Teknik, program ini sudah berjalan selama tiga tahun dan terus berkembang. Sementara itu, di fakultas-fakultas lain, program IUP telah lebih dulu mapan dan berhasil menarik banyak mahasiswa internasional untuk belajar di UGM,” tuturnya.
Penulis : Zabrina Kumara Putri
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Jesi
