Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Prof. Dr. Luthfi Muta’ali, S.Si., M.T, dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Pembangunan Wilayah dalam upacara pengukuhan yang berlangsung di Balai Senat UGM, Selasa (10/2). Dalam upacara pengukuhan tersebut, Luthfi menyampaikan pidato berjudul Pembangunan Wilayah Dalam Perspektif Geografi: Mengintegrasikan Ruang, Lingkungan, dan Keadilan Sosial.
Dalam pidatonya, ia menyampaikan pembangunan wilayah sejatinya melampaui metrik ekonomi kuantitatif. Berdasarkan perspektif geografi, pembangunan harus dipandang sebagai integrasi etis antara ruang hidup, daya dukung lingkungan, dan distribusi keadilan bagi seluruh masyarakat guna menghadapi tantangan global yang kompleks. “Pembangunan wilayah tidak dapat dipahami hanya dari sudut pandang ekonomi dan infrastruktur tetapi harus menyatukan ruang, manusia, dan bumi sebagai satu kesatuan moral dan kebijakan. Pembangunan wilayah sejati bukanlah tentang memperluas ruang kekuasaan, melainkan memperluas ruang keadilan bagi seluruh makhluk,” ujarnya.
Luthfi Muta’ali berpandangan konsep pembangunan untuk wilayah menempati posisi krisis diantara cabang-cabang utama geografi, dan ia berfungsi sebagai penghubung yang mengintegrasikan geografi fisik, manusia, lingkungan, dan kebijakan ke dalam wacana ilmiah yang kohesif. Ia kembali menandaskan dalam konteks pembangunan Indonesia, paradigma ini memperkuat pernyataan bahwa kemajuan wilayah seharusnya tidak hanya bergantung pada metric pertumbuhan ekonomi kuantitatif tetapi harus mencerminkan keseimbangan yang harmonis antara pusat dan pinggiran, kemanusiaan dan lingkungan, serta ilmu pengetahuan dan kebijakan. “Geografi harus menempatkan landasan etis untuk pembangunan bangsa yang berkaitan dengan spasial, tanggung jawab komunal, dan akuntabilitas untuk planet Bumi yang menopang kita,” terangnya.
Dalam konteks Indonesia, Luthfi menerangkan geografi pembangunan wilayah bukan sekedar disiplin akademis, tetapi menjadi disiplin kebangsaan yang menggambarkan keberadaan dan kedaulatan wilayah nusantara. Pembangunan wilayah otentik memerlukan kesadaran wilayah, dan pemahaman mendalam tentang ruang kolektif yang memandu perkembangan, dan kesadaran ini, disebutnya, terus berevolusi di tengah tantangan ketidaksetaraan, urbanisasi, dan krisis ekologis.
Lagi Luthfi mengingatkan bahwa pembangunan di Indonesia bukan hanya soal infrastruktur atau pertumbuhan ekonomi melainkan inisiatif budaya yang menanamkan prinsip kebangsaan dalam konfigurasi spasial. Wilayah nusantara adalah representasi identitas dan persatuan nasional. “Ini tentunya menjadi salah satu tanggungjawab yang diemban para sarjana geografi pembangunan wilayah di Indonesia dalam mempertahankan keseimbangan harmonis antara tiga aspek fundamental yaitu wilayah sebagai sumber kemakmuran, lingkungan sebagai fondasi kehidupan, dan kemanusiaan sebagai reservoir kebijakansanaan. Keselarasan ketiganya itulah yang akan mewujudkan pembangunan wilayah Indonesia yang berorientasi pada masyarakat,” imbuhnya.
Penulis : Agung Nugroho
Foto : Firsto
