Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM secara resmi mencanangkan gerakan Kawasan Rendah Emisi (KRE) melalui sebuah deklarasi yang digelar di kawasan Jeron Beteng, Kota Yogyakarta, pada Minggu (1/2). Deklarasi yang dibacakan oleh Prof. Ir. Bakti Setiawan M.A., Ph.D. berisi komitmen bersama untuk menerapkan prinsip KRE yang bertujuan untuk mengurangi dampak lingkungan, meningkatkan kualitas udara, dan menata sistem transportasi yang lebih berkelanjutan. Implementasinya dilakukan bertahap melalui proyek percontohan di Jeron Beteng sebagai upaya mendukung target iklim nasional sekaligus melindungi kawasan warisan dunia.
Deklarasi arah baru KRE Jeron Beteng ini dihadiri oleh sejumlah pihak, termasuk Sekretaris Pustral UGM, Dr. Ir. Dewanti, MS, Mantan Ketua Pustral UGM, Prof. Ikaputra, Kepala Dinas Perhubungan DIY, Chrestina Erni, Kepala Dinas PUPESDM DIY, Anna Herbranti, Direktur Eksekutif VIRIYAENB, Suzanty Sitorus, Perwakilan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, perwakilan kelurahan, segenap tenaga ahli, dan masyarakat umum.
Melalui slogan “Nyawiji tanpa emisi, Tradisi luwih Lestari”, Ikaputra menegaskan bahwa emisi merupakan salah satu penyebab terbesar munculnya climate change. Menurutnya, kawasan perkotaan terkhususnya cagar budaya seperti Jeron Beteng, memiliki peran strategis untuk berkontribusi mengurangi emisi karbon, terutama aktivitas transportasi. “Perubahan iklim adalah masalah nyata di dunia, dan salah satu penyebab utamanya berasal dari emisi sektor transportasi. Sebagai kawasan warisan dunia Unesco, Yogyakarta juga didorong untuk ikut mengurangi emisi dan menjadi contoh upaya penanganan perubahan iklim,” ujarnya.
Ikaputra menjelaskan alasan dipilihnya Jeron Beteng sebagai lokasi awal inisiasi ini adalah karena sebagai cagar budaya, Jeron Beteng memiliki daya tarik dan mudah dikenali oleh publik. Setelah inisiasi ini dapat berjalan dengan lancar, harapannya penerapan prinsip KRE ini dapat menyebar ke arah luar Beteng. “Cagar budaya menjadi branding karena orang-orang akan datang ke sini, namun bukan berarti tempat lain tidak membutuhkan. Justru sangat membutuhkan, tetapi cagar budaya dapat menjadi teladan karena sudah dikenal, sehingga setelah ada contoh penerapannya dapat diperluas, misalnya dari Keraton ke Pasar Ngasem, ke pinggiran benteng, dan bahkan ke luar kawasan cagar budaya,” jelasnya.
Ia menilai bahwa inisiatif bersama di tingkat lokal merupakan kunci utama agar Indonesia dapat berkontribusi dalam upaya pengurangan emisi secara global. “Inisiasi lokal merupakan kunci agar Indonesia dapat menyumbangkan peran tersendiri dalam pengurangan emisi tingkat global,” kata Ika.
Inisiasi ini mendapatkan respon positif dari pihak pemerintah, komunitas, dan masyarakat daerah. Dukungan tersebut dinilai mencerminkan persamaan visi untuk menuju tahapan pengurangan emisi di daerah Jeron Beteng. “Respon dari pemerintah luar biasa. Hari ini ada kepala dinas perhubungan DIY, perwakilan kepala dinas kebudayaan DIY, masyarakat, dan komunitas yang berkumpul disini tanpa ada status resmi bahwa ini adalah Kawasan Rendah Emisi yang akan kita kembangkan,” kata Ikaputra.
Selain itu, melalui Deklarasi KRE Jeron Beteng ini, Ikaputra menggarisbawahi bahwa upaya untuk mewujudkannya hanya dapat berhasil melalui kolaborasi antara pihak pemerintah, masyarakat, dan Keraton, sebagai tanggung jawab bersama menjaga keberlanjutan bumi dan cagar budaya. “Gerakan ini menjadi proyek percontohan yang mendorong kehidupan rendah emisi dan nol sampah, sebelum diperluas dan distandarkan melalui komitmen bersama,” pungkasnya.
Penulis : Zabrina Kumara Putri
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Ika Agustine
