Menempuh perjalanan riset hingga ke wilayah Antartika menjadi pengalaman langka bagi peneliti Indonesia. Kesempatan yang tak terlupakan ini dialami oleh Ezra Timothy Nugroho, salah satu alumni Program Studi Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Di usia yang masih terbilang muda yakni 25 tahun, ia berkesempatan mengikuti ekspedisi ilmiah selama 57 hari di Antartika yang berlangsung sejak tanggal 2 Januari hingga 27 Februari 2026 lalu.
Keterlibatannya bermula saat menempuh studi magister di Institute for Marine and Antarctic Studies, University of Tasmania, Australia. Ia bercerita bahwa kesempatan mengikuti ekspedisi datang dari pembimbingnya yang mengajaknya kembali mengambil sampel di wilayah Antartika Timur, tepatnya di Cook Region. Pengambilan sampel ini dilakukan untuk melanjutkan penelitian tesis sekaligus menjadi dasar untuk studi doktoral (S3). Dalam penelitiannya, ia mengkaji sedimentary ancient DNA, yakni DNA yang diperoleh dari sedimen bawah laut, dengan fokus wilayah meliputi Southern Ocean dan Antartika.
Ekspedisi yang diikutinya merupakan bagian dari pelayaran riset internasional yang meneliti ekosistem dan sedimen laut di kawasan Antartika Timur. Ia mengungkapkan bahwa kegiatan yang ia ikuti ini bertujuan untuk memahami dinamika lingkungan laut serta perubahan iklim di wilayah kutub yang relatif minim intervensi manusia. “Tesis research saya itu tentang sedimentary ancient DNA, jadi berfokus pada DNA yang didapatkan dari sedimen bawah laut. Fokusnya ke Southern Ocean sama Antartika,” tuturnya saat diwawancarai, Selasa (31/3).
Selama berada di Antartika, ia harus beradaptasi dengan berbagai kondisi ekstrem. Dengan durasi ekspedisi sekitar 57 hari, ia menjalani kehidupan di kapal penelitian dengan tantangan ombak tinggi di Laut Selatan serta suhu dingin yang mencapai minus tiga derajat Celcius. Hal inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi peneliti yang berasal dari negara tropis. “Sebagai orang Indonesia yang tidak pernah terkena udara dingin, itu menjadi tantangan tersendiri bagi saya,” ujarnya.
Tidak hanya beradaptasi dengan kondisi cuaca, ia menyebut bahwa adaptasi terhadap kehidupan di kapal dalam jangka waktu hampir dua bulan tersebut juga menjadi tantangan yang harus dihadapi. Keterbatasan ruang, aktivitas yang terjadwal, serta senantiasa menjaga kondisi fisik supaya tetap prima selama penelitian menjadi bagian dari tantangan yang dihadapi selama ekspedisi berlangsung. Meskipun begitu, ia bersyukur dapat menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan hingga akhir ekspedisi. “Selebihnya sih aman-aman saja. Saya di sana dapat menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan ekspedisi dengan baik,” kenangnya.
Di tengah kondisi ekstrem tersebut, ia bersama tim peneliti berhasil mengambil sampel sedimen laut menggunakan metode coring, yakni teknik yang digunakan untuk mengumpulkan sampel sedimen bawah laut dengan menggunakan tabung silinder berongga yang ditancapkan secara vertikal ke dalam sedimen untuk mengekstrak lapisan-lapisan sedimen. Pengambilan sampel ini menjadi bagian penting dalam penelitian guna mengidentifikasi perubahan genetik organisme laut yang tersimpan dalam sedimen. Ia mengaku momen ketika berhasil melihat langsung sampel yang diambil menjadi pengalaman yang paling berkesan selama ekspedisi. “Ketika kami sudah bisa melihat sedimen yang kita ambil dari bawah laut sendiri itu yang sangat memorable,” ujarnya.
Selain fokus pada pengambilan sampel, ia juga mendapatkan pengalaman langsung mengamati ekosistem Antartika yang selama ini hanya dipelajari secara teoritis. Hamparan gunung es serta keberadaan satwa liar seperti paus, burung laut, dan penguin menjadi bagian dari keseharian selama ekspedisi berlangsung.Tidak hanya itu, keberadaan satwa liar khas Antartika turut menjadi bagian dari keseharian selama ekspedisi berlangsung. Ia menyaksikan langsung aktivitas berbagai spesies yang hidup di lingkungan ekstrem tersebut, mulai dari paus hingga burung laut dan penguin.
Pengalaman tersebut memperkuat perspektif ilmiahnya mengenai pentingnya wilayah kutub sebagai lokasi penelitian. Ia menjelaskan bahwa Antartika merupakan lingkungan yang relatif tidak tersentuh aktivitas manusia, sehingga perubahan yang terjadi di wilayah ini mencerminkan dinamika alami ekosistem bumi. “Wilayah kutub itu sangat tidak tersentuh manusia, jadi semua perubahan lingkungan yang terjadi itu benar-benar alami, tanpa ada campur tangan manusia,” tuturnya.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa hasil penelitian tersebut tidak hanya relevan bagi kawasan kutub, tetapi juga memiliki implikasi bagi wilayah lain, termasuk Indonesia. Dengan memahami pola perubahan genetik dan respons organisme laut di lingkungan ekstrem, hasil riset ini dapat menjadi referensi dalam mengantisipasi dampak perubahan lingkungan di wilayah tropis. “Kalau misalnya ada perubahan lingkungan di situ, kita bisa memprediksi efek kedepannya bagaimana, memprediksi bagaimana hewan laut akan beradaptasi. Sehingga nantinya bisa diterapkan kalau misalnya di Indonesia terjadi perubahan lingkungan yang serupa,” jelasnya.
Ke depan, ia berencana melanjutkan penelitian pada jenjang doktoral dengan memanfaatkan sampel yang telah dikumpulkan. Melalui analisis DNA dari sedimen laut, ia berharap dapat menelusuri perubahan genetik organisme laut, khususnya moluska, sebagai respons terhadap perubahan lingkungan. Temuan ini nantinya diharapkan dapat digunakan untuk memprediksi bagaimana ekosistem laut akan beradaptasi terhadap perubahan iklim di masa depan. “Semoga kedepannya penelitian ini dapat bermanfaat untuk membantu penelitian-penelitian lain kedepannya lagi dalam mengetahui dan memprediksi perubahan genetik yang ada di dalam hewan-hewan laut,” pungkasnya.
Penulis : Cyntia Noviana
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Ezra
