Universitas Gadjah Mada kembali menggelar sarapan gratis di beberapa fakultas selama periode Ujian Akhir Semester (UAS) di bulan Desember 2025 ini. Program ini bertujuan untuk membantu mahasiswa yang sedang mengalami kesulitan ekonomi, terutama mereka yang sedang terdampak bencana. Tak hanya itu, program ini sebagai bentuk dukungan dari fakultas untuk mahasiswa yang sedang menghadapi ujian semester. “Sangat membantu, terutama teman-teman yang sedang terdampak bencana. Tetapi terlepas dari itu sebenarnya, program ini juga sangat membantu mahasiswa yang tidak sempat sarapan,” jelas Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, Dr. drh. Widagdo Sri Nugroho, M.P., Kamis (18/12).
Di Fakultas Kedokteran Hewan sendiri, sistem pembagian dari sarapan gratis ini dibagikan di setiap sesi pertama ujian oleh dosen atau tenaga pendidik. Pada masing-masing ruangan ujian telah tersusun rapi sarapan gratis sesuai dengan jumlahnya. “Aman saja semuanya, lancar dan tepat sasaran. Kalaupun ini tetap ada kelebihan biasanya untuk teman-teman yang jaga maupun yang bertugas dari sisi keamanan,” ungkapnya.
Manfaat dari sarapan gratis tersebut diakui oleh mahasiswa Fakultas Geografi, Aulindasyifa mengaku ia kerap memanfaatkan fasilitas tersebut sebagai salah satu cara agar ia tetap fokus dalam menghadapi ujian. “Karena kadang-kadang kan ujian ini mulai pagi banget dan kadang-kadang tuh nggak tempat buat masak sarapan. Nah kalau ada sarapan gratis tuh jadi intinya kita jadi lebih fokus mengerjakannya,” jelasnya.
Hal serupa pun dialami pula oleh Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi, Maria Rosa Fortunata. Ia mengaku meskipun program ini belum sepenuhnya optimal, sebab hanya berupa makanan ringan sehingga belum mencukupi kebutuhan energi selama UAS, tetapi inisiatif ini sudah cukup baik. “Program ini belum memberikan dampak yang signifikan terhadap beban yang saya rasakan selama ujian,” jelasnya.
Ia berharap kedepannya dari fakultas dapat mengembangkan program lebih jauh, dengan memberikan makanan yang lebih mengenyangkan. Agar dampak baiknya lebih terasa, terutama untuk mahasiswa yang tidak mampu maupun terdampak bencana.
Program serupa dijalankan Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan Fakultas Hukum (FH). Meski dengan teknis dan sumber pendanaan yang berbeda, tujuan utama dari program ini guna membantu agar mahasiswa dapat menghadapi ujian dengan lancar. Program ini juga menjadi wujud empati dekanat terhadap kondisi mahasiswa, khususnya mereka yang tinggal di kost dan harus ke kampus segera tanpa sempat sarapan.
Okta Amaliya, mahasiswa S1 program studi Ilmu Hukum, menilai program ini cukup membantu, terutama bagi mahasiswa dengan jadwal ujian pagi. “Kadang makanan gak selalu dimakan langsung, tapi bisa disimpan,” ujarnya. Dari informasi yang Okta dapat, jumlah paket sarapan yang dibagikan sekitar 200 porsi per hari, meskipun menurutnya ke depan porsi dan konsistensi menu masih perlu ditingkatkan.
Sementara di FIB, program sarapan gratis hadir dengan nama SIBUYA (Sarapan Pagi Ilmu Budaya). Program ini merupakan inisiatif Persatuan Orang Tua Mahasiswa (POTMA) yang bekerja sama dengan Dharma Wanita FIB dan pihak kantin fakultas. Dalam satu hari, tersedia sekitar 200 porsi sarapan yang dibagikan pada hari Senin, Selasa, dan Kamis selama dua minggu periode UAS. Sistem pelaksanaannya menggunakan kupon yang ditukarkan di Kantin Sastra pada Hari Senin dan Kamis. Sementara itu, menu yang disuplai langsung dari orang tua mahasiswa yang memiliki usaha didistribusikan hanya pada Hari Selasa.
Dekan FIB, Prof. Setiadi, menilai program ini merupakan bentuk empati fakultas yang dapat menunjang kesejahteraan mahasiswa. “Kami melihat pentingnya kegiatan ini sebagai bentuk apresiasi dan empati dekanat terhadap mahasiswa yang sedang menjalani ujian akhir semester,” katanya.
Dekan Setiadi menyampaikan bahwa program ini sudah berjalan sejak 2023 dan telah berjalan lancar dengan menu yang cukup beragam, salah satunya menu kukusan yang ternyata sangat diminati mahasiswa.
Mulia, perwakilan orang tua mahasiswa, berharap agar ke depan jumlah porsi yang dibagikan bisa ditambah. Ia juga menyoroti pentingnya evaluasi kemasan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Azizaw Hegar, mahasiswa program studi Sastra Indonesia, menyebut program sarapan gratis ini tidak hanya membantu secara fisik tetapi juga memotivasi mahasiswa. “Mereka jadi lebih semangat UAS karena ada asupan sebelum mulai berpikir,” ujarnya.
Di FMIPA UGM, program serupa juga telah berjalan sekitar tiga tahun dan menjadi bagian dari kegiatan Dharma Wanita. Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat FMIPA, Dr. Wiwit Suryanto, menjelaskan bahwa program ini dilatarbelakangi oleh kepedulian terhadap kondisi mahasiswa. “Ibu-ibu Dharma Wanita itu memiliki area kantin kecil sehingga sering berinteraksi dengan mahasiswa. Mereka mendengar pernah terjadi mahasiswa yang pingsan saat ujian karena belum sempat sarapan,” ungkapnya.
Di FMIPA sendiri, setiap hari, ada sekitar 250 porsi sarapan dibagikan selama dua minggu UTS dan UAS, dengan pendanaan sekitar 60 persen dari fakultas dan 40 persen dari kas Dharma Wanita.
Secara umum, program sarapan gratis yang diselenggarakan di ketiga fakultas ini mencerminkan komitmen kampus dalam menghadirkan lingkungan akademik yang peduli terhadap kesejahteraan mahasiswa. Program ini dinilai efektif membantu mahasiswa menjaga kondisi fisik dan mental saat menghadapi tekanan akademik selama UAS. Ke depan, pihak fakultas berharap inisiatif ini dapat terus berlanjut dan menginspirasi fakultas lain untuk menghadirkan program serupa. Melalui kolaborasi antara fakultas, orang tua, dan Dharma Wanita, program sarapan gratis hadir bukan hanya sebagai dukungan nutrisi, tetapi juga sebagai wujud kepedulian yang menguatkan solidaritas di lingkungan universitas.
Penulis : Ika dan Salwa
Editor : Gusti Grehenson
