Penyakit virus tumbuhan menjadi salah satu tantangan penting dalam menjaga ketahanan pangan. Infeksi virus pada berbagai komoditas dapat menurunkan hasil panen, mengurangi kualitas produk, meningkatkan biaya produksi, hingga menyebabkan kegagalan panen. Di Indonesia, penelitian yang dilakukan selama satu dekade terakhir telah menemukan berbagai penyakit virus pada tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan, termasuk virus pada padi, cabai, tomat, melon, anggrek, pisang, tembakau, lada, kakao, teh, bambu, dan tebu. “Infeksi virus dapat menurunkan hasil panen hingga lebih dari 80 persen, bahkan menyebabkan gagal panen,” kata Dosen Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Prof. Dr. Ir. Sedyo Hartono, M.P., dalam pidato pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar dalam bidang Virologi Tumbuhan pada Selasa (22/9 di Balai Senat Gedunga Pusat UGM.
Dalam pidato pengukuhannya, Sedyo mengangkat tema “Penyakit Virus Tumbuhan: Ancaman dan Peluang Pengelolaannya Menuju Pertanian Indonesia yang Berkelanjutan”. Ia menekankan pentingnya penguatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menghadapi dinamika penyakit virus tumbuhan yang semakin kompleks serta dampaknya terhadap keberlanjutan produksi pertanian. Menurut Sedyo, tantangan pengelolaan penyakit virus semakin kompleks seiring perubahan iklim, globalisasi perdagangan, intensifikasi pertanian, serta kemampuan virus untuk berevolusi. “Lebih dari 70 persen virus tumbuhan ditularkan oleh serangga sehingga perubahan suhu dan pola hujan dapat memengaruhi populasi vektor, memperpanjang musim penularan, dan memperluas wilayah penyebaran penyakit. Kondisi tersebut menuntut sistem pemantauan epidemi yang adaptif dan berbasis data,” ujarnya.
Perkembangan teknologi, lanjutnya, membuka peluang baru dalam pengelolaan penyakit virus tumbuhan. Biologi molekuler, Next-Generation Sequencing (NGS), bioinformatika, kecerdasan buatan, machine learning, drone, sensor, dan Internet of Things (IoT) dapat digunakan untuk memperkuat kemampuan deteksi serta memprediksi risiko penyebaran penyakit. Teknologi tersebut mendorong perubahan pendekatan dari pengelolaan yang bersifat kuratif menuju sistem yang lebih prediktif, preventif, presisi, dan berkelanjutan. “Data-data tersebut dianalisis menggunakan kecerdasan buatan dan machine learning untuk mengenali pola penyakit, memprediksi risiko penyebaran, serta memberikan rekomendasi pengelolaan yang lebih tepat sasaran,” jelasnya.
Sedyo juga menyoroti pentingnya pengembangan sistem diagnosis yang semakin cepat dan akurat. Perkembangan teknologi diagnosis telah bergerak dari identifikasi berdasarkan gejala menuju pemanfaatan ELISA, RT-PCR, real-time quantitative PCR, hingga LAMP yang memungkinkan diagnosis dilakukan lebih sederhana dan berpotensi diterapkan langsung di lapangan. Sementara itu, teknologi NGS memungkinkan identifikasi keseluruhan materi genetik virus dalam sampel tanaman, termasuk untuk menemukan virus baru, memetakan komunitas virus, mengidentifikasi infeksi campuran, dan memahami evolusi virus.
Pengelolaan penyakit virus, menurut Sedyo, tetap perlu dilakukan secara terpadu dengan menggabungkan penggunaan benih sehat, varietas tahan atau toleran, sanitasi lahan, pengendalian gulma dan serangga vektor, rotasi tanaman, serta pemantauan penyakit secara berkala. Pendekatan tersebut perlu diperkuat dengan pengembangan bioteknologi, genomik, genome editing, AI, dan IoT agar pengelolaan penyakit semakin presisi. “Keberhasilan pengelolaan penyakit virus tumbuhan tidak hanya bergantung pada kemajuan teknologi, tetapi juga pada komitmen kita untuk membangun sistem pertanian yang berlandaskan ilmu pengetahuan, kolaborasi, dan keberlanjutan,” ujarnya.
Ke depan, Sedyo mendorong pembangunan ekosistem riset virologi tumbuhan yang integratif, inovatif, kolaboratif, dan berbasis ilmu pengetahuan. Salah satu gagasan yang ditawarkan adalah pembangunan Program Nasional Surveilans Virus Tumbuhan yang mengintegrasikan survei lapangan, diagnosis molekuler, sekuensing genom, pemetaan spasial, data iklim, dinamika populasi serangga vektor, serta sistem pelaporan digital secara real time. Ia juga mengusulkan pengembangan ‘Atlas Virom Tanaman Indonesia’ untuk memetakan keragaman virus pada tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, tanaman hias, gulma, hingga vegetasi alami. “Atlas tersebut bermanfaat untuk kepentingan akademik dan sumber informasi bagi biosekuriti nasional, konservasi plasma nutfah, dan pengembangan varietas unggul di masa depan,” tuturnya.
Sedyo meyakini Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi salah satu pusat unggulan penelitian virologi tumbuhan tropika. Keanekaragaman hayati, keragaman agroekosistem, sumber daya genetik, dan beragam komoditas strategis dapat menjadi basis pengembangan riset yang relevan dengan kebutuhan pertanian tropika. Ia membayangkan Indonesia pada 2045 memiliki sistem surveilans penyakit modern, laboratorium berkelas dunia, jejaring riset internasional yang kuat, varietas unggul hasil inovasi anak bangsa, serta petani yang memanfaatkan teknologi digital dalam budidayanya. “Virus akan terus berubah, iklim akan terus berubah, sistem pertanian juga akan terus berubah,” pungkasnya.
Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., menyampaikan bahwa Prof. Sedyo merupakan salah satu dari 544 Guru Besar aktif UGM. Di lingkungan Fakultas Pertanian, Prof. Sedyo menjadi bagian dari 30 Guru Besar aktif dari total 64 Guru Besar yang dimiliki fakultas tersebut. Pengukuhan Prof. Sedyo turut memperkuat kontribusi Fakultas Pertanian UGM dalam pengembangan ilmu pengetahuan untuk menjawab berbagai tantangan di sektor pertanian. Bidang virologi tumbuhan yang ditekuninya memiliki relevansi penting dengan upaya menjaga produktivitas tanaman dan mendukung ketahanan pangan berkelanjutan.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Donnie
