SNI merupakan standar nasional yang disusun untuk memastikan kualitas, keselamatan, efisiensi, dan konsistensi sebuah produk atau sistem. Bagi UMKM, penerapan SNI menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kepercayaan konsumen, memperluas pasar, dan memenuhi persyaratan penjualan di banyak jaringan distribusi formal. Tantangan globalisasi menuntut pelaku usaha, bahkan di skala kecil sekalipun, untuk mengadopsi praktik mutu yang lebih baik.
Menyikapi tantangan tersebut Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPKM) Universitas Gadjah Mada bersama Badan Standarisasi Nasional menyelenggarakan UMKM Class Series #34 bertema Berdaya Saing melalui Penerapan SNI.
Kegiatan edukasi dan pemberdayaan ini digelar di Ruang Sidang 1 DPKM UGM dan melibatkan puluhan pelaku UMKM binaan dari berbagai sektor, baik pangan maupun nonpangan. Dengan tema tersebut menegaskan pentingnya standardisasi dan penjaminan mutu sebagai fondasi penguatan daya saing produk nasional.
Prof. Ir. Nanung Agus Fitriyanto, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPM, Kepala Bidang Pengelola KKN Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ekosistem UMKM. Melalui kegiatan ini, disebutnya, BSN dan UGM terus berkomitmen mendorong UMKM agar mampu memahami, menerapkan, dan memanfaatkan SNI sebagai instrumen penting menuju pertumbuhan usaha yang tangguh dan berkelanjutan. “Bapak Ibu para pelaku UMKM adalah penggerak ekonomi nasional. Tanpa UMKM, ekonomi kita tidak akan bergerak secara sempurna,” ujarnya, Selasa (16/12).
Nanung menyatakan UGM memiliki misi besar dalam mendukung pemberdayaan masyarakat. Penyelenggaraan kelas UMKM yang kini memasuki seri ke-34 menjadi bukti komitmen yang diberikan UGM. “UGM tidak mendirikan pabrik atau memberikan modal langsung, tetapi kami menjadi jembatan. Kami mentransfer pengetahuan, menghubungkan jejaring, dan mengundang para ahli agar mampu meningkatkan kapasitas peran UMKM,” ucapnya.
Angietha Putri Prameswari dari BSN Kantor Layanan Teknis Yogyakarta melalui materi berjudul Program SNI dan SNI Bina UMK untuk Daya Saing UMK, ia memaparkan terkait peran strategis SNI dalam menghadapi persaingan global. Dijelaskannya SNI bukan hanya melulu soal persyaratan teknis, tetapi juga sebagai alat untuk membangun kepercayaan konsumen. Karena itu, dipaparkan olehnya terkait proses pembinaan dan sertifikasi, termasuk bagaimana UMKM dapat mengakses program pendampingan melalui skema SNI Bina UMK.
Dihadapan para pelaku UMKM, Angietha memberikan gambaran praktis tentang langkah-langkah teknis yang harus disiapkan, mulai dari sistem manajemen mutu, pengendalian proses, hingga persyaratan laboratorium. “Ini penting saya sampaikan karena menjadi landasan penting bagi bapak ibu pelaku UMKM agar mampu memahami bahwa standardisasi adalah investasi jangka panjang bagi keberlanjutan usaha,” terangnya.
Dalam diskusi UMKM Class Series #4 yang berlangsung hingga siang diisi pula success story dari beberapa pelaku UMKM yang berhasil menerapkan SNI. Empat narasumber dari sektor pangan dan nonpangan diundang tampil untuk berbagi pengalaman langsung mengenai proses penerapan SNI. Mereka yang tampil adalah Burhanul Akbar Pasa, Direktur Gudeg Bu Tjitro, Risal Eza Lazuardhi, Production Manager PT Serelia Prima Nutrisia, Nova Suparmanto, founder CV Astoetik, dan Efendi Setiawan, Business Development Supervisor CV Rumah Mesin.
Dari success story keempatnya memberikan gambaran nyata bahwa penerapan SNI dapat mendorong UMKM berkembang lebih profesional dan kompetitif. Dari diskusi yang dilakukan, peserta terlihat antusias mengajukan pertanyaan, mulai dari persiapan audit, biaya, hingga kendala teknis yang dihadapi pelaku UMKM saat memulai proses standardisasi.
Penulis : Agung Nugroho
