Dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM), Prof. Dr. Ir. Tri Satya Mastuti Widi, S.Pt., M.P., M.Sc., IPM., ASEAN Eng melakukan penelitian bertajuk Pengembangan Sistem Produksi Kerbau Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal untuk Kemandirian Pangan Nasional. Penelitian telah dilakukan dengan mengambil lokasi pada sistem produksi Kerbau Gayo di Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh, Kerbau Tapanuli di Kabupaten Toba dan Samosir, Provinsi Sumatera Utara, dan Kerbau Kalang di Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan.
Penelitian ini merupakan kolaborasi dengan skema katalis yaitu penelitian strategis yang dilakukan bersama Universitas Malikussaleh, Aceh, Universitas Sumatera Utara, Medan dan Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Menurut Tri Satya Mastuti Widi atau biasa disapa Vitri, kerbau merupakan salah satu ternak strategis di Indonesia yang berperan penting dalam mendukung kemandirian pangan nasional, baik melalui produksi daging dan susu, penyediaan tenaga kerja pertanian, maupun nilai sosial, budaya, dan ekologis.
Di sejumlah daerah, disebutnya, kerbau telah menjadi identitas dan bagian dari budaya kolektif masyarakat setempat. Di Kalimantan Selatan, kerbau Kalimantan atau biasa disebut dengan Kerbau Kalang berfungsi menjaga ekosistem rawa dan mendukung konservasi lahan basah. “Meneliti kerbau ini menjawab tantangan untuk keberlanjutan. Populasi kerbau di Indonesia terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Kondisi ini dipengaruhi oleh rendahnya produktivitas, dominasi sistem pemeliharaan ekstensif dan tradisional, alih fungsi lahan penggembalaan, konflik pemanfaatan ruang, serta lemahnya kelembagaan peternak,”ujarnya di Kampus UGM, Senin (12/1). 
Vitri menjelaskan penelitian yang ia lakukan melalui pendekatan holistik dan terintegrasi untuk menilai dan merancang sistem produksi kerbau yang berkelanjutan. Analisis dilakukan dengan menitikberatkan pada tiga dimensi keberlanjutan, yaitu ekonomi, ekologi, dan sosial, pada berbagai level sistem produksi, mulai dari tingkat ternak, peternak, hingga wilayah.
Sementara fokus utama penelitian, disebutnya, meliputi analisis keragaman genetik, karakter fenotip, dan keberlanjutan sistem produksi Kerbau Kalang. Juga perancangan sistem produksi kerbau rawa yang berkelanjutan dengan pendekatan sistem di Kalimantan Selatan, dan analisis dan penilaian keberlanjutan sistem produksi Kerbau Gayo, Tapanuli, dan Kalang secara holistik dan terintegrasi serta transformasi sistem produksi Kerbau Gayo dan Kerbau Kalang menuju sistem yang lebih berkelanjutan.
Melalui pengukuran status keberlanjutan tersebut, penelitian ini mampu menghasilkan berbagai desain dan skenario pengembangan sistem produksi kerbau yang berorientasi pada peningkatan produktivitas, pelestarian lingkungan, serta penguatan peran sosial-budaya kerbau di masing-masing wilayah. “Hingga saat ini, penelitian terkait kerbau , khususnya di Gayo, Tapanuli dan Kalimantan Selatan masih terus dilanjutkan dengan penerapan permodelan sistem produksi kerbau yang berkelanjutan,” terangnya.
Reportase : Satria/ Humas Fakultas Peternakan UGM
Penulis : Agung Nugroho
