Peneliti sekaligus Guru Besar dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, Prof. drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D., kembali menorehkan prestasi membanggakan atas konsistensinya dalam mengembangkan riset dan inovasi di bidang kesehatan. Pada tahun ini, Ika meraih Penghargaan Achmad Bakrie XXII 2026 di bidang kesehatan berkat kiprahnya dalam pengembangan rekayasa jaringan dan biokeramik medis yang terus diarahkan hingga memberikan manfaat bagi masyarakat.
Selain Ika Dewi Ana, penghargaan ini juga diberikan kepada tokoh-tokoh penting lain seperti Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si., dalam kategori bidang Pemikiran Sosial, Butet Kartaredjasa di bidang Seni dan Budaya, serta Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo di bidang Sains dan Teknologi. Pemberian penghargaan dilaksanakan pada Rabu (26/8) di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Menerima penghargaan tersebut, Ika menyampaikan rasa syukurnya. Baginya, penghargaan tersebut sekaligus menjadi pengingat mengenai tanggung jawab seorang ilmuwan agar terus mengembangkan ilmu dan mendidik generasi penerus selanjutnya. Ia memaknai penghargaan tersebut sebagai dorongan untuk mendidik mahasiswa agar mampu melakukan riset rekayasa jaringan dengan baik, benar, dan etis. “Ilmu yang telah dikembangkan perlu terus dilestarikan dan dikembangkan agar dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat dan umat manusia,” kata Ika saat diwawancarai, Kamis (10/9).
Menjaga Konsistensi
Konsistensi menjadi prinsip yang selama ini ia dipegang dalam menjalankan perjalanan risetnya. Menurutnya, seorang ilmuwan perlu memiliki bidang keahlian yang dikuasai secara mendalam sekaligus peta jalan yang jelas dalam mengembangkan ilmu dan penelitian. “Saya kira sudah menjadi kewajiban ilmuwan untuk konsisten, tidak berpindah-pindah bidang, dan menguasai bidangnya secara mendalam. Seorang ilmuwan harus memiliki peta jalan yang jelas untuk pengembangan riset dan ilmunya,” ujarnya.
Bagi Ika, konsistensi juga berarti kesediaan untuk terus berhadapan dengan persoalan yang muncul dalam bidang keilmuan maupun di masyarakat. Karena itu, sikap konsistensi dalam menjalankan riset pada akhirnya tidak lagi dipandang sebagai kewajiban, tetapi menjadi bagian dari keseluruhan proses seorang ilmuwan.
Perjalanannya berangkat dari rasa ingin tahu terhadap proses alami tubuh dalam memperbaiki dirinya. Luka yang perlahan menutup dan tulang yang kembali menyatu menjadi bagian dari fenomena biologis yang mendorongnya untuk memahami lebih jauh bagaimana proses regenerasi jaringan dapat dikembangkan melalui ilmu pengetahuan.
Ketertarikan tersebut kemudian membawa Ika menekuni bidang rekayasa jaringan (tissue engineering) dan biokeramik. Dari bidang ini, Ika bersama tim mengembangkan berbagai inovasi kesehatan, salah satunya Gama-CHA, bone graft berbasis karbonat apatit yang telah memperoleh izin edar Kementerian Kesehatan dan diproduksi secara massal. Inovasi ini menunjukkan bahwa hasil penelitian dapat dikembangkan lebih jauh hingga masuk ke tahap hilirisasi dan digunakan dalam pelayanan kesehatan.
Ia menuturkan bahwa proses pengembangan Gama-CHA melibatkan kerja sama antara Kantor Transfer Teknologi UGM, mitra industri, universitas dan fakultas, serta pendampingan dari Kementerian Kesehatan. Kolaborasi tersebut diperlukan agar inovasi yang dihasilkan memenuhi standar regulasi sekaligus mampu memberikan alternatif teknologi yang lebih baik. “Saya kira pengembangan inovasi ini tidak lepas dari kerja sama Kantor Transfer Teknologi UGM, mitra industri, universitas dan fakultas, dan pendampingan dari Kementerian Kesehatan agar inovasi yang kita hasilkan memenuhi standar regulasi dan mampu menggantikan teknologi sebelumnya dengan lebih baik,” tuturnya.
Ia menilai bahwa perjalanan hilirisasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pekerjaan seorang peneliti tidak selesai ketika sebuah inovasi berhasil dikembangkan. Setelah digunakan masyarakat, sebuah produk akan menghasilkan berbagai masukan yang dapat menjadi dasar untuk pengembangan berikutnya.
Dalam mengembangkan inovasi Gama-CHA, ia menuturkan bahwa tantangan terbesar justru menjaga konsistensi untuk terus melakukan pengembangan dan diversifikasi inovasi. Produk yang telah dimanfaatkan masyarakat akan memberikan catatan mengenai hal-hal yang masih perlu diperbaiki melalui penelitian dan pengembangan. “Tantangan terbesarnya adalah menjaga konsistensi untuk pengembangan dan diversifikasi inovasi. Tentu suatu produk setelah dimanfaatkan di masyarakat menjadi memiliki catatan apa saja yang harus diperbaiki atau dikembangkan,” jelasnya.
Ia mengakui, menjaga semangat dan senantiasa konsisten bukan perkara mudah. Terlebih, dosen di Indonesia juga memiliki beban administratif yang cukup tinggi. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keberlanjutan pengembangan riset dan inovasi. Meski begitu, ia ingin perjalanan riset yang telah dibangun dapat terus dilanjutkan untuk menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat. Ia berharap Indonesia dapat semakin mandiri dalam mengembangkan alat kesehatan dan produk farmaseutika sehingga tidak terlalu bergantung pada teknologi dari luar negeri. “Saya ingin Indonesia mandiri dan berdaulat dalam bidang alkes dan farmaseutika,” ungkapnya.
Harapan tersebut tidak hanya diarahkan pada pengembangan produk, tetapi juga pada lahirnya generasi muda yang mampu meneruskan ekosistem riset dan inovasi. Menurutnya, pendidikan menjadi bagian penting dari upaya tersebut. “Saya ingin menyaksikan generasi-generasi muda Indonesia yang cerdas, santun, dan dapat berkontribusi menyumbangkan karya yang dapat membantu masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraannya. Jadi, itu pekerjaan rumah saya juga untuk mendidik anak-anak muda itu dengan lebih baik,” tutup Ika.
Penulis : Cyntia Noviana
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Dok. Achmad Bakrie Award dan Donnie
