Indonesia belum sepenuhnya berdaulat dalam bidang kesehatan. Selain masih ketergatungan bahan obat dan alat kesehatan dari luar, Indonesia masih menghadapai tiga tantangan sekaligus di bidang kesehatan yakni ancaman pandemi baru, dampak perubahan iklim, dan revolusi AI. Terhadap ketiga tantangan ini, Kementerian Kesehatan RI berkomitmen melakukan transformasi kesehatan nasional dengan memanfaatkan teknologi.
“Ketiga hal ini menjadi tantangan kita, lantas bagaimana kemudian kita bisa memastikan mewujudkan kedaulatan ini. Tentunya banyak hal yang harus kita fokuskan mulai dari bagaimana SDM kita cukup kuat untuk memastikan AI ini digunakan bukan hanya untuk kebutuhan menghasilkan laporan saja, namun justru bisa menggunakan data-data untuk mengaudit guna kepentingan digital nasional,” ungkap Setiaji di Balai Senat UGM, Kamis (27/11) saat menjadi pembicara kunci seminar nasional bertema Mendesain Kedaulatan Kesehatan Indonesia 2045: Peran Strategis Kampus dalam Tata Kelola Kesehatan Masa Depan.
Dengan jumlah penduduk yang banyak, kata Setiaji, berpotensi menjadi ancaman sekaligus potensi dalam mewujudkan kedaulatan data kesehatan Indonesia. Data kesehatan, disebutnya, menjadi instrumen penting di bidang kesehatan, dan sayangnya data tersebut tersebar di mana-mana bahkan ada sampai ke luar negeri. “Jadi, banyak orang-orang luar menggunakan data kesehatan kita untuk penelitian. Begitu mereka mampu menghasilkan produk dan dijual ke Indonesia, kita orang Indonesia tidak mendapat apa-apa. Karena itu menurut saya tema seminar ini menarik yaitu mengangkat kedaulatan data kesehatan agar masyarakat Indonesia bisa lebih sehat,” paparnya.
Dalam mewujudkan kedaulatan kesehatan ini, Setiaji menuturkan adanya problem lain terkait data kesehatan menyangkut data analisis yang diterapkan di banyak rumah sakit. Kenyataan, katanya, tidak sedikit dari rumah sakit menggunakan data kesehatan bukan sebagai acuan untuk melihat jumlah waktu layanan dokter atau jumlah waktu antrian pasien, namun justru hanya untuk melihat jumlah pengunjung dan pendapatan saja. 
Dari data-data yang ada saat ini, katanya, sudah bisa menjawab berapa jumlah orang yang sakit namun belum bisa menjawab berapa jumlah orang yang bisa berhasil sembuh. “Pertanyaan besar ke depan terkait data yang kita puny mestinya bisa menjawan berapa orang yang telah sembuh begitu diobati,” jelasnya.
Padahal data kesehatan tersebut dikumpulkan melalui beragam cara seperti pencatatan dari rumah sakit, faskes, atau teknologi medis. Data-data tersebut sesungguhnya diharapkan berfungsi membantu dokter melakukan analisis yang lebih tepat. “Hal inilah yang menjadi tantangan negara ini dalam mengelola data-data kesehatan yang ada,” imbuhnya.
Wakil Rektor UGM bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Dr. Danang Sri Hadmoko, mengatakan pemerintah perlu menempatkan kedaulatan kesehatan sebagai salah satu pilar utama dalam mewujudkan ketahanan nasional dan kemandirian bangsa. “Saya kira sektor kesehatan dituntut untuk lebih tangguh, lebih responsif, berkeadilan,berkelanjutan, dan berdaya saing global nantinya,” ujarnya.
Dekan fakultas Kedokteran Gigi (FKG) sekaligus ketua Panitia Dies UGM ke-76 Prof. drg. Suryono S.H., M.M., Ph.D., menuturkan diperlukan langkah-langkah nyata untuk menghadirkan sistem kesehatan Indonesia yang lebih berdaulat terhadap tantangan global, lebih tangguh menghadapi ketidakpastian, dan lebih adil dalam memberikan layanan bagi seluruh warga bangsa.
Guru Besar fakultas farmasi UGM Prof. Dr. Susi Ari Kristina, S.Farm., M.Kes., Apt, turut menyoroti ‘forecasting’ dalam ilmu kesehatan sebagai upaya untuk menangani permasalahan obat kosong. “Situasi kemarin dan mungkin saat ini merupakan problem kemudian kita bereaksi jadi bersifat reaktif. Nah, idealnya kita bisa melakukan preventif, pencegahan atau pengelolaan yang lebih baik. Di mana kita bisa menerapkan satu metode, yaitu forecasting,” jelasnya.
Selain Susi Ari Krisna, sejumlah pembicara yang hadir di seminar ini diantaranya Guru Besar FKH UGM, Prof. Dr.drh. Agustina Dwi Wijayanti MP, Dekan Fisipol UGM Wawan Mas’udi, S.IP.,MPA, Ph.D., Prof. Panagiotis dari Aristotle University of Thessaloniki, Yunani, dan Dosen Ilmu Kesehatan Anak FK-KMK UGM dr. Dian Kesumapramudya Nurputra, PhD, SpA(K).
Penulis : Salwa
Editor : Agung Nugroho
Foto : Firsto
