Kabar baik datang dari alumni yang tergabung dalam Kagama Tenis, yang baru-baru ini berhasil membawa gelar juara 2 di Turnamen Tenis antar Alumni Perguruan Tinggi se-Indonesia 2025 di Jakarta, 29–30 November 2025 lalu. Sebanyak 16 organisasi alumni perguruan tinggi bersinergi dalam turnamen ke-15 yang diselenggarakan di dua arena utama, Ultradome Utama Tanjung Priok dan Lapangan Ganesha Tanah Mas Tennis Park, jakarta.
Salah satu peserta dari Kagama Tenis, Deo Gustirandra, mengaku senang akan prestasi yang diraih bersama dengan 18 anggota tim Kagama Tenis. “Pasti senang banget kita bisa juara, soalnya sekitar beberapa tahun kita jarang banget dapat juara,” ujarnya, Selasa (23/12).
Ia menjelaskan bahwa terdapat lima nomor pertandingan yang dipertandingkan dan hasilnya diakumulasikan untuk menentukan juara. Nomor tersebut meliputi ganda putra usia 40, 45, 50, 55, serta nomor prestasi. Selama masa persiapan yang berlangsung sekitar dua hingga tiga bulan, Deo mengaku menikmati seluruh rangkaian pertandingan, terutama pada hari pelaksanaan lomba. Ia menuturkan bahwa kesolidan tim Kagama menjadi kekuatan utama, dengan dukungan antarpemain yang terasa kuat di lapangan. “Beruntung tim kita selalu ng menang mulai dari babak penyisihan, perempat final, semifinal, hingga bisa menuju final,” kenangnya.
Ketua Yayasan KAGAMA Tenis, Wikan Sakarinto, S.T., M.Sc., Ph.D., mengungkapkan tantangan utama dalam turnamen terletak pada strategi mengumpulkan dan menempatkan alumni sesuai kategori usia serta kesiapan masing-masing pemain. Tidak semua alumni selalu dapat hadir karena faktor pekerjaan, keluarga, maupun jadwal yang berbenturan, sehingga tim harus fleksibel dalam menyusun komposisi pemain dan pasangan ganda. “Kita harus punya strategi. Lawannya siapa, kita simpan di mana. Kadang ada yang harus kita lepas satu partai supaya yang lain bisa ambil poin,” jelas Wikan.
Ia menilai keistimewaan tim Kagama Tenis ini terletak pada semangat, kekompakan, sportivitas, dan mental tim. Terlebih, dibandingkan dengan lawan lain yang memiliki kampus keolahragaan, tim UGM berani bertanding walaupun minim latar belakang atlet resmi.
Keberagaman latar belakang dari segala lini tersebut mewarnai tim Kagama Tenis, hingga pejabat pun juga ada. Wikan menyebutkan hadirnya Prof. Edward Omar Sharif Hiariej, selaku Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI turut berkontribusi di pertandingan lalu. Kendati demikian, Wikan menegaskan bahwa di dalam tim tidak ada sekat jabatan maupun latar belakang profesi. “Begitu masuk tim, tidak ada wamen, tidak ada sekda. Semua sama-sama alumni UGM, mindset-nya harus tim,” tegasnya.
Lebih lanjut, Wikan berharap semangat kebersamaan Kagama dapat terus terjaga dan berkembang ke depan, seiring rencana keikutsertaan tim dalam berbagai pertandingan berikutnya, termasuk di Jambi. “Harapannya ini terus dipertahankan, semakin guyub, semakin solid, dan tetap menjunjung sportivitas. Ini bukan sekadar menang-kalah, tapi juga persahabatan dan persatuan,” pungkasnya.
Sekedar informasi, 16 organisasi alumni yang mengikuti turnamen kali ini adalah Universitas Diponegoro, Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, Universitas Negeri Semarang, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Trisakti, Universitas Brawijaya, Universitas Jambi, Universitas Islam Indonesia, Universitas Negeri Padang, Institut Teknologi Bandung, IPB University, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Universitas Andalas, dan Universitas Tarumanegara. Di babak final tim UGM berhadapan dengan tim dari UNDIP.
Penulis : Hanifah
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Kagama Tenis
