Tim peneliti Universitas Gadjah Mada bikin Geoportal Informasi Dasar Kebencanaan berbasis data spasial dalam membantu proses penanganan bencana di Sumatra. Peta informasi bencana ini dikembangkan untuk menjawab kebutuhan mendesak akan data spasial berupa needs map, peta area terdampak, dan rapid damage assessment map pada fase tanggap darurat.
Dekan Fakultas Geografi UGM, Prof. Muhammad Kamal, S.Si., M.GIS., Ph.D., menegaskan bahwa inisiatif ini lahir dari persoalan klasik dalam manajemen bencana, yaitu ketimpangan distribusi bantuan. “Dalam banyak kejadian bencana, bantuan sering tidak merata karena tidak didukung data spasial yang akurat. Kami ingin mengubah pola tersebut dari berbasis asumsi menjadi berbasis data”, ujar Kamal, Sabtu (3/2).
Tim Geoportal Informasi Dasar Kebencanaan merupakan gabungan relawan dari Fakultas Geografi, Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik, serta Program Studi Sistem Informasi Geografis Sekolah Vokasi. Terdapat enam luaran peta yang dihasilkan, yakni peta status fasilitas kesehatan dan shelter, peta permukiman terdampak, peta kebutuhan (needs map), peta area terdampak banjir, peta perbandingan before-after kejadian banjir, dan peta aksesibilitas jaringan jalan.

Wakil Dekan Fakultas Geografi UGM, Dr. Sigit Heru Murti B.S., S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa Fakultas Geografi berperan sebagai inisiator sekaligus koordinator teknis dalam pengembangan platform WebGIS partisipatif berbasis crowdsourcing. “Kami mengembangkan WebGIS agar masyarakat terdampak bisa melaporkan secara langsung kebutuhan mereka, lengkap dengan lokasi dan kontak person. Dosen dan mahasiswa di kampus bertindak sebagai ‘dapur data’ untuk memverifikasi laporan tersebut,” ungkap Sigit.
Ia menambahkan bahwa pengembangan sistem ini bukan hal baru. Model pemetaan partisipatif telah diterapkan sejak gempa Bantul 2006, kemudian berlanjut pada gempa Lombok serta gempa dan tsunami Palu.
Sementara itu, anggota tim peneliti lainnya dari Fakultas Geografi UGM, Dr. Nur Mohammad Farda, S.Si., M.Cs., menjelaskan bahwa tim relawan juga memperoleh dukungan citra satelit resolusi tinggi dari Disasters Charter PBB melalui kerja sama dengan BRIN untuk memetakan tingkat kerusakan secara cepat. “Kami melakukan interpretasi citra satelit dari portal Disasters Charter untuk mengidentifikasi permukiman terdampak banjir dan memetakan tingkat kerusakan secara cepat pada fase emergency,” jelas Farda.
Hasil pemetaan kebutuhan kemudian diadopsi oleh BNPB melalui Dashboard WebGIS InaRISK. Needs map pertama kali dirilis pada 6 Desember 2025, dan dalam kurun 12 jam telah menerima 54 laporan dari lokasi bencana. “Metode crowdsourcing adalah yang paling efektif pada tahap quick response, karena korban dapat melaporkan langsung apa yang mereka butuhkan dan di mana lokasinya. Dengan begitu, bantuan bisa disalurkan secara tepat sasaran dan dipantau secara spasial serta real time,” terang Kamal.
Dalam pelaksanaannya, tim menghadapi tantangan teknis berupa validasi data dan keterbaruan informasi. Pasalny, data yang berasal dari publik sangat rentan hoaks dan duplikasi, sehingga semua laporan harus diverifikasi terlebih dahulu sebelum ditampilkan di peta utama.
Untuk menghasilkan pemetaan kebencanaan berbasis data spasial ini diakui Kamal, pihaknya melibatkan kontribusi dosen dan mahasiswa dalam berbagai tim pemetaan. “Mahasiswa tidak hanya belajar SIG, penginderaan jauh, dan kartografi di kelas, tetapi menerapkannya langsung untuk menyelamatkan nyawa. Inilah kontribusi kami sesuai bidang keilmuan dalam membantu penanganan bencana di Sumatra,” pungkasnya.
Penulis : Jelita Agustine
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Tim Geoportal Informasi Kebencanaan
