
Peningkatan mutu genetik sapi perah dapat dilakukan melalui metode melalui teknik reproduksi transfer embrio. Teknologi untuk memperbaiki kualitas genetik sapi perah ini memerlukan keahlian teknis, dan donor embrio yang memenuhi kriteria kesehatan dari genetik yang baik dan berkualitas. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan kapasitas peternak dan petugas teknik di bidang peternakan dan kesehatan hewan dari dinas terkait.
Hali itu mengemuka dalam workshop bertajuk Refreshing Teknik Embrio Transfer yang digelar di auditorium Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Rabu (6/9). Workshop hasil kerja sama FKH UGM, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY, dan Rumah Energi yang didukung oleh Danone menghadirkan beberapa pembicara, diantaranya Guru Besar FKH UGM bidang Reproduksi dan Obstetri, Prof. drh. Agung Budiyanto, Ph.D., Dosen FKH UGM Dr. drh. Erif Maha Nugraha Setyawan, Fahrudin Hidayat selaku perwakilan Dinas Pertanian dan Ketahanan PAngan (DPKP) DIY, dan Ruth Subodro, Manajer Program FRESH dari Rumah Energi
Agung Budiyanto mengatakan teknologi transfer embrio merupakan metode percepatan peningkatan mutu genetik karena agen yang dihasilkan memiliki 100% genetik dari pejantan unggul. Namun, ia juga mengingatkan bahwa metode memerlukan biaya tinggi, keahlian teknis, dan donor yang memenuhi kriteria kesehatan dan genetik yang baik. “FKH UGM dan mitra berharap transfer pengetahuan dan peningkatan kapasitas peternak dapat berkelanjutan, sehingga kualitas ternak perah di DIY semakin meningkat dan mampu bersaing di tingkat nasional,” katanya.
Hal senada juga disampaikan Erif Maha Nugraha Setyawan, yang menekankan bahwa petugas teknis selain mumpuni, peternak juga membutuhkan pelatihan khusus mengingat teknologi lebih kompleks dibanding inseminasi buatan. “Tantangan pada sapi tropis seperti stres akibat panas, defisiensi nutrisi, dan keterbatasan biaya turut menjadi perhatian dalam praktik di lapangan,” ujarnya.
Sementara Fahrudin Hidayat menegaskan bahwa pembagian embrio saja tidak cukup tanpa diimbangi dengan pelatihan teknis yang memadai. Terlebih, kegiatan ini juga nantinya ikut mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menempatkan konsumsi susu sebagai salah satu kegiatan utama.
Sedangkan Ruth Subodro, lebih menyoroti program pemberdayaan peternak koperasi yang mereka jalankan sejak 2022 telah memberikan hasil signifikan pasca-wabah PMK yang melanda Yogyakarta. Dalam upaya memulihkan populasi ternak, Rumah Energi menerapkan sistem kredit sapi berbasis koperasi dan menilai metode transfer embrio ini bisa menjadi solusi mempercepat pemulihan kualitas genetik.
Penulis : Ika Agustine
Editor : Gusti Grehenson