Universitas Gadjah Mada menggelar audiensi dengan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo untuk membahas pengembangan Rumah Sakit Nyi Ageng Serang sebagai pusat layanan kesehatan strategis di kawasan barat Daerah Istimewa Yogyakarta. Pertemuan yang berlangsung di Kantor Bupati Kulon Progo pada Selasa (30/12) ini, menjadi ruang dialog awal untuk menjajaki kolaborasi penguatan layanan kesehatan daerah. Pembahasan difokuskan pada arah pengembangan rumah sakit seiring meningkatnya peran Kulon Progo sebagai kawasan penyangga Yogyakarta International Airport.
Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, menyampaikan bahwa pengembangan layanan kesehatan di Kulon Progo perlu dipandang sebagai agenda jangka panjang yang terintegrasi dengan kebutuhan wilayah. Keberadaan bandara internasional membuka peluang baru bagi penguatan layanan kesehatan yang siap melayani masyarakat lokal maupun pengguna layanan internasional. UGM memandang keterlibatan universitas menjadi penting untuk memastikan pengembangan berjalan berbasis ilmu pengetahuan dan tata kelola yang matang. “UGM siap mendampingi agar penguatan layanan kesehatan ini memberikan manfaat nyata bagi daerah,” tuturnya.

Dalam pandangan Rektor, pengembangan RS Nyi Ageng Serang tidak harus meniru keunggulan rumah sakit besar yang telah ada, melainkan menemukan karakter layanan yang relevan dengan konteks wilayah. Layanan kegawatdaruratan dan pelayanan berstandar tinggi dinilai menjadi kebutuhan strategis seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dan wisatawan. Rektor juga menilai skema pendanaan dapat dikembangkan melalui kerja sama pendidikan dan filantropi. “Pendekatan berbasis pendidikan dan pengabdian sering mendapat dukungan luas karena dampaknya berkelanjutan,” katanya.
Kepala Biro Pelayanan Terpadu UGM Dr. dr. Andreasta Meliala, M.Kes menjelaskan bahwa hasil peninjauan awal menunjukkan banyak potensi pengembangan RS Nyi Ageng Serang. Tantangan geografis Kulon Progo yang luas dan beragam memerlukan desain layanan yang adaptif serta dukungan sumber daya manusia yang memadai. Diskusi awal telah memetakan isu layanan, ketersediaan tenaga medis, dan arah segmentasi pasien. “Kami melihat rumah sakit ini memiliki peluang besar untuk dikembangkan secara terarah,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi kunci untuk memperkuat layanan klinis dan keberlanjutan operasional. Skema kerja sama memungkinkan keterlibatan dokter spesialis maupun residen sehingga jam layanan dapat diperluas. Selain itu, pengembangan layanan khusus berbasis filantropi juga dinilai relevan untuk menjangkau kelompok masyarakat dengan kebutuhan spesifik. “Pendekatan layanan yang fokus dan kontekstual dapat memberi nilai tambah bagi masyarakat Kulon Progo,” jelas Andreasta.

Bupati Kulon Progo Dr. H. R. Agung Setyawan menyambut baik komitmen UGM dalam pengembangan RS Nyi Ageng Serang. Ia menilai pertumbuhan kawasan timur Kulon Progo akan meningkatkan kebutuhan layanan kesehatan yang memadai dan mudah diakses. Sejak awal, rumah sakit ini dibangun untuk menjawab kepadatan layanan kesehatan di wilayah tersebut. “RS Nyi Ageng Serang harus terus tumbuh agar mampu melayani masyarakat dengan lebih baik,” ujarnya.
Bupati juga menjelaskan bahwa keterbatasan lahan mendorong strategi pengembangan vertikal dengan mengoptimalkan bangunan yang ada. Upaya pengembangan tetap harus memperhatikan keseimbangan tata ruang dan perlindungan lahan pertanian. Pemerintah daerah membuka ruang diskusi untuk berbagai skema pengembangan yang realistis dan berkelanjutan. “Pertumbuhan layanan kesehatan perlu berjalan seiring dengan keberlanjutan ruang dan lingkungan,” katanya.
Lebih lanjut, Bupati menegaskan tiga fokus kerja sama yang ingin direalisasikan bersama UGM, yakni bidang kesehatan, pendidikan, dan pertanian. Ia berharap kehadiran UGM dapat memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus menggerakkan ekonomi lokal. Keberadaan Field Research Center (FRC) di Kulon Progo dinilai strategis untuk mendukung pengembangan pertanian berbasis riset. “Kolaborasi ini kami harapkan mampu mendorong kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh,” tegasnya.

Direktur RS Nyi Ageng Serang Dr. drg. Theodola Baning Rahayu, M.Kes memaparkan bahwa kapasitas dan layanan rumah sakit terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. RS Nyi Ageng Serang saat ini memiliki fasilitas layanan dasar dan penunjang yang relatif lengkap serta jumlah kunjungan pasien yang menunjukkan peningkatan. Tantangan utama masih terletak pada penguatan sumber daya manusia dan pengembangan layanan spesifik. “Minat tenaga kesehatan untuk bergabung sangat tinggi dan menjadi modal penting pengembangan rumah sakit,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa master plan pengembangan rumah sakit telah disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan layanan ke depan. Rencana penguatan layanan trauma dan peningkatan kualitas tampilan rumah sakit menjadi bagian dari transformasi bertahap. Kolaborasi dengan UGM diharapkan memperkuat fungsi pelayanan, pendidikan, dan riset secara terpadu. “Kami siap bertransformasi agar RS Nyi Ageng Serang semakin dipercaya masyarakat luas,” pungkas Theodola.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Donnie
