Universitas Gadjah Mada menjalin kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Maluku Utara melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dalam penguatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Penandatanganan dilakukan oleh Rektor UGM Prof. Ova Emilia bersama Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda di Kampus UGM, Jumat (9/1). Kerja sama diarahkan untuk mendukung pembangunan daerah berbasis penguatan sumber daya manusia, riset terapan, serta pengembangan sektor strategis. Pada kesempatan itu, kedua pihak menyampaikan pandangan serta harapan atas arah kerja sama ke depan.
Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, menyampaikan bahwa UGM mengikuti perkembangan Provinsi Maluku Utara dengan penuh perhatian. Keterlibatan UGM melalui program Kuliah Kerja Nyata telah berlangsung cukup lama di berbagai wilayah. Saat ini terdapat 18 kelompok mahasiswa yang menjalankan KKN di sejumlah kecamatan, antara lain Obi, Morotai Selatan, Pulau Kiri, dan Pulau Rau. Kehadiran mahasiswa dinilai menjadi bagian penting dari peran universitas dalam mendampingi masyarakat. “Bagi kami, KKN merupakan proses pembelajaran yang membentuk karakter mahasiswa agar memahami persoalan nyata di lapangan,” ujar Rektor.
Ova menegaskan bahwa pembelajaran mahasiswa tidak berhenti pada penguasaan teori di ruang kelas. Pengalaman terjun langsung ke masyarakat menjadi bagian penting dalam pembentukan kepekaan sosial. Mahasiswa diajak mengenali persoalan riil yang dihadapi masyarakat, termasuk tantangan pembangunan di daerah kepulauan. Proses ini diyakini mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab sebagai insan terdidik. “Mahasiswa belajar memahami persoalan bangsa secara langsung dan berkontribusi sesuai kapasitas keilmuannya,” tuturnya.
Lebih lanjut, Ova menyampaikan bahwa kerja sama dengan pemerintah daerah sejalan dengan misi UGM. UGM mengedepankan prinsip merakyat, mandiri, dan berkelanjutan dalam setiap kolaborasi. Program dirancang dengan melibatkan mitra lokal serta menyesuaikan kebutuhan daerah, termasuk pengembangan sektor pertanian dan ketahanan pangan. UGM juga membuka peluang program afirmasi dan pendidikan lintas disiplin untuk mendukung kebutuhan tersebut. “Kami siap mendukung penguatan agriculture dan penyediaan pangan sesuai kebutuhan pembangunan daerah,” kata Ova.

Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, menambahkan bahwa Maluku Utara merupakan wilayah favorit pelaksanaan KKN mahasiswa UGM. Proses seleksi mahasiswa dilakukan secara ketat dengan mempertimbangkan kesiapan mental dan kompetensi. Selain KKN, UGM telah mengembangkan riset dan kerja sama inovasi sesuai potensi daerah, termasuk sektor pertanian, kelautan, dan industri. Ruang kolaborasi dinilai masih sangat luas untuk dikembangkan bersama pemerintah daerah. “Kerja sama ini membuka peluang penguatan riset dan pengabdian yang berdampak langsung bagi masyarakat,” tegas Danang.
Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, menilai UGM sebagai mitra strategis dalam pembangunan daerah. Menurutnya, kolaborasi dengan perguruan tinggi berperan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Ia menyinggung pengalamannya mendampingi mahasiswa KKN UGM di Pulau Galu-Galu yang memberi dampak nyata bagi masyarakat. Sejumlah hasil karya mahasiswa bahkan dimanfaatkan dalam program pemerintah daerah. “Kehadiran mahasiswa UGM memberi manfaat nyata dan meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat,” ungkap Sherly Tjoanda.
Selanjutnya, Sherly juga memaparkan bahwa Maluku Utara mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi secara nasional dengan angka mencapai 39 persen. Namun, pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya bersifat inklusif dan merata. Tantangan utama masih terletak pada kesiapan sumber daya manusia lokal dalam mengisi kebutuhan industri. Kawasan industri di Halmahera Tengah, misalnya, menyerap sekitar 100 ribu tenaga kerja, sementara pekerja lokal diperkirakan baru sekitar 30 ribu orang. “Penguatan kapasitas SDM lokal menjadi pekerjaan penting agar masyarakat dapat mengambil peran lebih besar,” ujar Sherly.

Sherly juga menekankan potensi besar Maluku Utara dalam pengembangan hilirisasi nikel dan industri baterai kendaraan listrik. Provinsi ini menyumbang sekitar 50 persen produksi nikel Indonesia, sementara Indonesia sendiri memasok sekitar 40 persen kebutuhan nikel dunia. Ke depan, Maluku Utara akan mengembangkan industri baterai hingga produk bernilai tambah tinggi, termasuk rencana produksi baterai kendaraan listrik. Penguatan pendidikan, riset, dan kolaborasi akademik dinilai krusial untuk mendukung arah tersebut. “Kami ingin menyiapkan ekosistem pendidikan dan riset bersama UGM agar potensi besar ini dapat dikelola secara berkelanjutan,” kata Sherly Tjoanda.
Dalam kesempatan yang sama, Sherly menyoroti persoalan penyediaan bahan pangan bagi kawasan industri. Saat ini, sekitar 80 persen kebutuhan bahan pangan masih didatangkan dari luar Maluku Utara. Kondisi ini menyebabkan potensi ekonomi daerah belum dimanfaatkan secara optimal. Ia menilai sektor pertanian, perikanan, dan UMKM lokal memiliki peluang besar untuk menjadi pemasok utama. “Kami ingin petani dan nelayan lokal terlibat sehingga perputaran ekonomi dapat dinikmati masyarakat Maluku Utara,” tegas Sherly.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Donnie
