Sebanyak delapan mahasiswa asal Gaza Palestina yang menjadi korban atas konflik perang di negaranya berkesempatan untuk melanjutkan studi di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM. Kedelapan mahasiswa itu tengah mengikuti proses seleksi masuk UGM. “Salah satu dari mahasiswa tersebut bernama Dina, mahasiswa kedokteran asal Al-Azhar University Gaza yang terpaksa terhenti pada 2023, sebab kampusnya menjadi sasaran bom hingga hancur lebur,” kata Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, pada pidato Laporan Dekan dalam Rapat Senat Terbuka Dies Natalis FK-KMK UGM ke-80, Kamis (5/3), di ruang auditorium.
Yodi menyampaikan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari upaya membangkitkan kembali pendidikan kedokteran dan kesehatan bagi masyarakat Gaza. “Cerita Dina dan teman-temannya tersebut merupakan satu sekian banyak catatan yang mewarnai fakultas ini dalam mencerdaskan dan memajukan kesehatan bangsa dan dunia,” ungkapnya.
Selain menerima mahasiswa dari korban konflik perang di Palestina, Dekan Yodi menuturkan FK-KMK berkomitmen mencerdaskan kehidupan bangsa dengan menerima mahasiswa dari wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Ia menyebutkan, FK-KMK turut mewujudkan mimpi banyak anak muda dari daerah terpencil di Indonesia. Ia menyebutkan nama dr. Merlins Renatasia Waromi, Sp.MK., sebagai lulusan tercepat pada jenjang pendidikan dokter spesialis yang berasal dari Serui, Kabupaten Yapen, Provinsi Papua. Dengan hanya menempuh masa studi 3 tahun 6 bulan 12 hari, kata Dekan, Merlins mampu menyelesaikan studi spesialis mikrobiologi klinik. Selain memberi bantuan berupa beasiswa, FK-KMK UGM juga aktif mendampingi FK Universitas Cenderawasih Papua untuk dapat merintis pembukaan PPDS. “Alhamdulillah bulan lalu, kita turut menorehkan sejarah, saat FK Uncen meluncurkan PPDS pertama di tanah Papua, PPDS anestesi,” jelas Yodi.
FK-KMK UGM turut berupaya mengembangkan riset dan inovasi yang berdampak nyata. Yodi menjelaskan bahwa FK-KMK melalui beragam inovasi yang memajukan bidang kesehatan, mampu berkontribusi dalam menyelesaikan masalah kesehatan dan menjadi rujukan nasional maupun internasional. Yodi turut menerangkan bahwa FK-KMK juga berusaha mewujudkan pengabdian masyarakat yang berkualitas secara berkelanjutan dan komprehensif dengan melibatkan alumni dan mitra strategis untuk mendorong kemandirian dan kesejahteraan masyarakat. Sebagai contoh penanganan korban bencana banjir dan longsor Provinsi Aceh. “Hal ini turut meningkatkan kapasitas dan reputasi yang di bangun dalam manajemen bencana kesehatan semakin diakui dunia,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Yodi menerangkan bahwa FK-KMK berhasil meningkatkan akselerasi jumlah doktor pada lima tahun terakhir, dari 47% menjadi 51%. Selain itu, FK-KMK turut sukses mewujudkan peningkatan jumlah guru besar yang sebelumnya 8,1% di tahun 2021, kini pada 2025 menjadi 9,47%. Tak hanya peningkatan dalam sisi jumlah, dosen dan tenaga pendidik juga memborong banyak penghargaan pada lima tahun terakhir, termasuk anugerah UGM, Ambassador Award, dan World Top 2% Scientist.
Walikota Yogyakarta, Dr. dr. H. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) dalam orasi ilmiahnya menyoroti bahwa dalam mewujudkan kesehatan masyarakat Jogja melalui pendekatan kebijakan sosial. Dari aspek kebersihan lingkungan, fasilitas publik, pentingnya perencanaan keluarga, masalah stunting, dan permasalahan kesehatan lainnya. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa untuk mengatasi hal tersebut tidak cukup dengan inovasi, tetapi juga revolusi. “Jika kita membuat inovasi, harapannya juga revolusioner bisa mendobrak tatanan sekaligus dapat merubah mindset,” terangnya.
Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K), Ph.D. mengucapkan selamat sekaligus mengapresiasi atas delapan dekade berdirinya FK-KMK UGM. Rektor mengapresiasi capaian FK-KMK yang berhasil menghasilkan berbagai prestasi dan inovasi berdampak, dari prestasi mahasiswa hingga hilirisasi produk kesehatan. “Selamat FK-KMK merayakan Dies ke-80 dan ini menjadi doa sekaligus harapan agar setiap karya yang diukir bisa menjadi kekuatan dan penentu arah perkembangan pendidikan serta pelayanan kesehatan negeri ini,” pungkas Ova.
Penulis : Fatihah Salwa Rasyid
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto
