Universitas Gadjah Mada kembali meluluskan sebanyak 1.353 wisudawan jenjang Program Sarjana dan Sarjana Terapan pada Periode II Tahun Akademik 2025/2026. Sebanyak 1.353 lulusan yang diwisuda terdiri dari 1.201 lulusan Program Sarjana, termasuk 6 orang wisudawan berasal dari Warga Negara Asing dan 152 lulusan Sarjana Terapan. Pada wisuda kali ini juga diikuti 20 orang lulusan periode sebelumnya. Sementara itu, berdasarkan jenis kelamin tercatat 763 orang atau 56,39% adalah para wisudawati, dan sebanyak 590 orang atau 43,61% adalah lulusan laki-laki.
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA yang memimpin upacara wisuda kali ini mengtakan kelulusan dari program Sarjana ini sebagai point of departure untuk terjun ke dunia profesional dengan penuh percaya diri. Para lulusan UGM harus memiliki audacity (keberanian) dan tenacity (keulepan) karena para wisudawan dan wisudawati telah memiliki bekal yang sangat lengkap dan kuat sebagai seorang Sarjana yang lulus dari Universitas Gadjah Mada sebagai universitas berkelas dunia.
“Kalian memang lahir dari perguruan tinggi kerakyatan yang dimaknai antara lain sebagai entitas yang humble, penuh kepedulian kepada masyarakat. Namun di sisi lain, kalian lahir dari perguruan tinggi yang dihormati, yang kiprahnya selalu ditunggu di tingkat nasional dan global. Gunakan sosial kapital ini sebagai pintu masuk ke dunia yang kalian cita-citakan. Semoga kesuksesan dan kelancaran karir ke depan menanti Anda semua. Kami turut mendoakan,” ujarnya di Grha Sabha Pramana, Bulaksumur, Rabu (25/2).
Masa studi rata-rata untuk wisudawan Program Sarjana adalah 4 tahun 2 bulan, sedangkan masa studi rata-rata untuk Program Sarjana Terapan periode ini adalah 4 tahun 6 bulan. Waktu studi tersingkat untuk Program Sarjana diraih Marlyn Ivana Trigita dari Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, yang lulus dalam waktu 3 tahun 2 bulan 1 hari. Sedangkan waktu tersingkat untuk lulusan Program Sarjana Terapan diraih Khairana Zata Dini dari Program Studi Teknologi Veteriner, Sekolah Vokasi, yang berhasil menyelesaikan studinya dalam waktu 3 tahun 11 bulan 2 hari.
Usia rata-rata lulusan Program Sarjana adalah 23 tahun 6 bulan 15 hari, dan usia rata-rata untuk lulusan Program Sarjana Terapan adalah 23 tahun 6 bulan 16 hari. Lulusan Program Sarjana termuda periode ini diraih Tiara Amanda Pramesti Gumay dari Program Studi Kedokteran Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi, yang menyelesaikan studi sarjananya pada usia 20 tahun 1 bulan 16 hari. Untuk Program Sarjana Terapan, lulusan termuda diraih Roif Ilham Bahrul ‘Ulum dari Program Studi Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol, Sekolah Vokasi, yang menyelesaikan studi sarjana terapan pada usia 21 tahun 7 bulan 28 hari.
Jumlah wisudawan Program Sarjana yang memiliki predikat lulus Pujian pada periode ini sebanyak 742 orang lulusan (61,78%) dengan rincian berpredikat Sangat Memuaskan sebanyak 420 orang lulusan (34,97%), Memuaskan sebanyak 17 orang lulusan (1,41%), dan lulus tanpa predikat sebanyak 22 orang (1,83%). Sementara itu, untuk wisudawan Program Sarjana Terapan terdapat 2 orang lulusan (1,32%) dengan predikat Pujian, berpredikat Sangat Memuaskan sebanyak 149 orang lulusan (98,03%) dan berpredikat Memuaskan sebanyak 1 orang lulusan (0,66%). Untuk Indeks Prestrasi Kumulatif rata-rata untuk lulusan Program Sarjana periode II ini adalah 3,53 sedangkan Indeks Prestasi Kumulatif rata-rata untuk lulusan Program Sarjana Terapan periode ini adalah 3,59. Lulusan Program Sarjana yang berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif tertinggi 4,00 adalah Zufa Pasha Sabina dari Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, sekaligus berpredikat Pujian, sedangkan untuk lulusan Program Sarjana Terapan diraih Eva Alyanda Umi Khasanah dari Program Studi Akuntansi Sektor Publik, Sekolah Vokasi yang lulus dengan IPK 3,91. “Saya ucapkan selamat kepada saudara-saudara yang telah meraih prestasi gemilang, dan saya turut berbahagia atas keberhasilan semua wisudawan-wisudawati hari ini,” imbuh Wening.
Daniel Oscar Baskoro, Ketua Bidang Data dan Digital PP Kagama menyatakan para wisudawan wisudawati UGM hidup di era kecerdasan buatan, dan robot bukan lagi fiksi, melainkan rekan kerja sekaligus menjadi tantangan nyata. Pekerjaan yang dahulu terasa aman maka di hari-hari ini berubah. Penerjemah, legal reviewer, desainer, analis, dan lainnya mulai berhadapan dengan robot atau mesin yang bisa membaca, menulis, menilai, bahkan “mencipta” dalam hitungan detik. ”Ini artinya apa? Kita sedang hidup di zaman hidup bukan tentang nyaman dengan kondisi yang ada, melainkan harus dapat agile dalam membaca dan melakukan perubahan terutama karena perkembangan teknologi, ’katanya.
Menyikapi hal tersebut, kata Daniel, satu hal yang selalu ia pedomi sebagai prinsip bahwa segala sesuatu yang penting bukan apanya, tetapi bagaimananya. Bukan semata apa gelarnya, bukan sekadar ijazahnya bahkan bukan karena lulusan “UGM”, melainkan yang utama bagaimana para lulusan UGM senantiasa konsisten terus berkarya, adaptif, berintegritas, dan berdampak. Di tengah gelombang disrupsi global, Daniel menyebut Indonesia sedang memegang peluang besar, dan banyak proyeksi menempatkan Indonesia menuju jajaran ekonomi teratas dunia pada 2045. Meski begitu, peluang tersebut tidak otomatis menjadi hasil, dan semua pihak diharapkan bisa menyongsong dengan kompetensi, karakter, dan keberanian mengambil peran. ”Di mana pun kelak rekan-rekan berlabuh, menjadi abdi negara, membangun desa, merintis startup, meneliti di laboratorium, atau berkarier di korporasi, jadilah sosok yang peka pada denyut zaman, terutama denyut ekonomi, jangan khawatir, semua bisa menjadi pahlawan di bidangnya masing-masing,” tuturnya.
Anugrah A.I. Julio Wejati wisudawan Fisipol UGM mewakili para lulusan mengatakan sebagai generasi yang bertumbuh sebagai digital native. Para wisudawan dan wisudawati merupakan generasi yang akrab dengan kecerdasan buatan sekaligus akrab dengan media sosial. Meski begitu di tengah gemerlapnya dunia maya, publik beropini mereka dinilai sebagai generasi yang tampak menarik, penuh ide, tetapi mudah rapuh dan luntur jika diterpa oleh tekanan dan realitas.
“Di tengah itu, ada kerisauan juga tentang bonus demografi yang bisa berubah menjadi bencana jika lulusan perguruan tinggi tidak siap bersaing. Publik pun sesungguhnya memiliki masalahnya sendiri yaitu “Matinya Kepakaran” dimana kebenaran bisa dipelintir oleh algoritma dan kepentingan sesaat, dan harus diakui bahwa ini bisa saja menjelma menjadi realitas pahit di sekitar kita yang jika tidak dihadapi bisa menjadi bencana di kemudian hari,” ucapnya.
Untuk mengatasi keraguan dalam menempuh belajar selama di UGM, Julio pemuda asal Papua mengaku memegang kokoh prinsip 3 B yaitu Belajar, Berusaha, dan Berdoa. Iapun meyakini bahwa Urip Iku Urup, bahwa hidup itu tidak sekadar bernafas melainkan memberi manfaat dan penerangan bagi orang lain dan lingkungan. “Mungkin publik menilai lulusan UGM sangat elitis, hanya bersemayam di kota-kota besar, namun kami hendak tegaskan, keilmuan yang kami raih disini adalah amanah membangun bangsa. Pengalaman KKN UGM telah membuktikan bagaimana kami harus turun langsung ke masyarakat, merasakan denyut nadi di garis terluar Indonesia,” paparnya.
Penulis : Agung Nugroho
Foto : Donnie & Firsto
