YOGYAKARTA-Program Studi Magister Manajemen (MM) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM menggandeng Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) untuk pengembangan Desa Beji, Kecamatan Ngawen, dan Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunung Kidul. Kerja sama diwujudkan dengan penandatanganan naskah kerja sama kedua belah pihak. Hadir dalam acara ini, Dekan FEB UGM, Prof. Dr. Marwan Asri, M.B.A., Ketua Pengelola MM, Prof. Lincolin Arsyad, Ph.D., Ketua LPPM, Prof. Dr.Tech. Ir. Danang Parikesit, M.Sc., dan Kepala Bidang Pengelolaan KKN-PPM, Pengembangan UMKM, dan Pelayanan Masyarakat LPPM, Dr. drh. Joko Prastowo, M.Si.
Dalam sambutannya, Prof. Dr. Lincolin Arsyad mengatakan asal mula penandatanganan kerja sama ini berawal pada ulang tahun MM ke-22, Juli 2010 silam. Saat itu, mereka melakukan penanaman 5.000 pohon di Desa Beji. Kegiatan ini, kata Lincolin, merupakan bagian dari upaya sungguh-sungguh MM UGM dalam menerapkan ethics mainstreaming (pengarusutamaan etika) sebagai landasan utama dalam sistem pengajarannya. “Ethics mainstreaming ini tidak terbatas pada etika bisnis, melainkan juga etika sosial dan lingkungan. Wujud nyatanya waktu itu adalah menanam 5.000 pohon di Desa Beji tersebut,” kata Lincolin, Jumat (18/2), di MM UGM.
Diakui Lincolin, saat ini MM UGM tengah berfokus pada pengembangan konsep ethics mainstreaming dalam sistem pengajarannya. Dengan demikian, para mahasiswa tidak hanya belajar tentang pengetahuan dan keahlian manajemen yang andal, tetapi juga diajarkan untuk memiliki perilaku, karakter, dan sikap yang baik. “Selain itu, konsentrasi entrepreneurship kini juga akan segera diluncurkan. Nah, Desa Beji ini saya rasa cukup potensial untuk dijadikan lahan praktik bagi mahasiswa,” terangnya.
Sementara itu, Ketua LPPM UGM, Prof. Dr.Tech. Ir. Danang Parikesit, M.Sc., berharap langkah yang dilakukan oleh MM UGM dapat ditindaklanjuti oleh program-program studi yang lain, mulai dari S-1 hingga S-3. Danang juga berpesan agar seluruh proses kegiatan pemberdayaan masyarakat di Desa Beji, yang melibatkan MM UGM dan LPPM tersebut, dapat didokumentasikan dari awal hingga akhir sebagai bahan pembelajaran, khususnya untuk mahasiswa. “Ini harus direspon oleh program studi yang ada di UGM, bukan hanya S-1, tapi juga S-2 hingga S-3. LPPM sebelumnya juga memang telah mengembangkan lokasi tersebut, termasuk dengan KKN PPM,” kata Danang.
Danang juga menambahkan tren pengembangan pemberdayaan masyarakat saat ini juga melibatkan aspek lain, seperti sosial dan lingkungan. Dalam konteks kerawanan dan bencana yang ada, dapat dikelola secara bisnis. “Kalau konteks kecil, pengelolaan Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) di Wisma MM, misalnya, ke depan bisa diwujudkan dalam bentuk biogas,” terang Danang.
Di tempat yang sama, Dekan FEB UGM, Prof. Dr. Marwan Asri, M.B.A., mengatakan kepedulian FEB UGM terkait dengan Education for Suistanable Development (EfSD) bukan baru-baru ini saja. Marwan mencontohkan adanya program pemberdayaan Pengusaha Golongan Ekonomi Lemah (Pegel), yang melibatkan para sarjana, Kemendiknas dan Kemenperindag. “Waktu itu, para sarjana kita sudah memberdayakan dengan memberi konsultasi pengusaha golongan ekonomi lemah,” kata Marwan.
Ia juga berharap agar kerja sama kedua belah pihak dapat bermanfaat bagi masyarakat luas, khususnya di Desa Beji dan Kemadang, tidak hanya untuk jangka pendek, tetapi juga jangka panjang.
Di Desa Beji, Kecamatan Ngawen, terdapat Hutan Wonosadi. Hutan Wonosadi adalah hutan yang dikelola secara adat oleh masyarakat sekitar. Wonosadi ini bahkan menjadi salah satu tempat ditemukannya anggrek tanah, di samping di Madura, Pacitan, dan Pegunungan Menoreh. Keberadaan Wonosadi telah membuat Desa Beji tampak hijau, berbeda dari kebanyakan desa di Gunung Kidul yang pada umumnya kering dan gersang. Selain kaya akan berbagai jenis pohon kayu, perdu, dan rerumputan, Wonosadi juga menjadi rumah bagi aneka ragam fauna. (Humas UGM/Satria AN)
Dalam sambutannya, Prof. Dr. Lincolin Arsyad mengatakan asal mula penandatanganan kerja sama ini berawal pada ulang tahun MM ke-22, Juli 2010 silam. Saat itu, mereka melakukan penanaman 5.000 pohon di Desa Beji. Kegiatan ini, kata Lincolin, merupakan bagian dari upaya sungguh-sungguh MM UGM dalam menerapkan ethics mainstreaming (pengarusutamaan etika) sebagai landasan utama dalam sistem pengajarannya. “Ethics mainstreaming ini tidak terbatas pada etika bisnis, melainkan juga etika sosial dan lingkungan. Wujud nyatanya waktu itu adalah menanam 5.000 pohon di Desa Beji tersebut,” kata Lincolin, Jumat (18/2), di MM UGM.
Diakui Lincolin, saat ini MM UGM tengah berfokus pada pengembangan konsep ethics mainstreaming dalam sistem pengajarannya. Dengan demikian, para mahasiswa tidak hanya belajar tentang pengetahuan dan keahlian manajemen yang andal, tetapi juga diajarkan untuk memiliki perilaku, karakter, dan sikap yang baik. “Selain itu, konsentrasi entrepreneurship kini juga akan segera diluncurkan. Nah, Desa Beji ini saya rasa cukup potensial untuk dijadikan lahan praktik bagi mahasiswa,” terangnya.
Sementara itu, Ketua LPPM UGM, Prof. Dr.Tech. Ir. Danang Parikesit, M.Sc., berharap langkah yang dilakukan oleh MM UGM dapat ditindaklanjuti oleh program-program studi yang lain, mulai dari S-1 hingga S-3. Danang juga berpesan agar seluruh proses kegiatan pemberdayaan masyarakat di Desa Beji, yang melibatkan MM UGM dan LPPM tersebut, dapat didokumentasikan dari awal hingga akhir sebagai bahan pembelajaran, khususnya untuk mahasiswa. “Ini harus direspon oleh program studi yang ada di UGM, bukan hanya S-1, tapi juga S-2 hingga S-3. LPPM sebelumnya juga memang telah mengembangkan lokasi tersebut, termasuk dengan KKN PPM,” kata Danang.
Danang juga menambahkan tren pengembangan pemberdayaan masyarakat saat ini juga melibatkan aspek lain, seperti sosial dan lingkungan. Dalam konteks kerawanan dan bencana yang ada, dapat dikelola secara bisnis. “Kalau konteks kecil, pengelolaan Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) di Wisma MM, misalnya, ke depan bisa diwujudkan dalam bentuk biogas,” terang Danang.
Di tempat yang sama, Dekan FEB UGM, Prof. Dr. Marwan Asri, M.B.A., mengatakan kepedulian FEB UGM terkait dengan Education for Suistanable Development (EfSD) bukan baru-baru ini saja. Marwan mencontohkan adanya program pemberdayaan Pengusaha Golongan Ekonomi Lemah (Pegel), yang melibatkan para sarjana, Kemendiknas dan Kemenperindag. “Waktu itu, para sarjana kita sudah memberdayakan dengan memberi konsultasi pengusaha golongan ekonomi lemah,” kata Marwan.
Ia juga berharap agar kerja sama kedua belah pihak dapat bermanfaat bagi masyarakat luas, khususnya di Desa Beji dan Kemadang, tidak hanya untuk jangka pendek, tetapi juga jangka panjang.
Di Desa Beji, Kecamatan Ngawen, terdapat Hutan Wonosadi. Hutan Wonosadi adalah hutan yang dikelola secara adat oleh masyarakat sekitar. Wonosadi ini bahkan menjadi salah satu tempat ditemukannya anggrek tanah, di samping di Madura, Pacitan, dan Pegunungan Menoreh. Keberadaan Wonosadi telah membuat Desa Beji tampak hijau, berbeda dari kebanyakan desa di Gunung Kidul yang pada umumnya kering dan gersang. Selain kaya akan berbagai jenis pohon kayu, perdu, dan rerumputan, Wonosadi juga menjadi rumah bagi aneka ragam fauna. (Humas UGM/Satria AN)
